Berita Terkini: Klaim Kematian Pemimpin Tertinggi Iran oleh Presiden AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas akibat serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel di Teheran, pada hari Sabtu. Ia menyatakan bahwa kabar tersebut merupakan keadilan bagi rakyat Iran, warga Amerika, serta banyak orang dari berbagai negara di seluruh dunia.
Trump menegaskan bahwa serangan AS-Israel akan terus berlanjut. Ia mengatakan:
“Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.”
Ia juga menambahkan bahwa serangan tersebut bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat. Menurutnya, Ayatollah Khamenei tidak mampu menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih yang dimiliki oleh AS dan Israel.
Kabar tentang kematian Khamenei muncul setelah AS dan Israel melancarkan serangan di seluruh Iran. Sebelumnya, Israel mengklaim bahwa tujuh pejabat Iran telah tewas, tetapi tidak termasuk pemimpin tertinggi. Sebagai tanggapan, Iran melancarkan serangan di seluruh Timur Tengah, termasuk di Dubai, Doha, Bahrain, dan Kuwait—tempat-tempat dengan pangkalan militer AS atau yang bersekutu dengan AS.
Bulan Sabit Merah menyatakan bahwa lebih dari 200 orang tewas di seluruh Iran. Setidaknya 85 orang tewas ketika serangan udara menghantam sebuah sekolah perempuan, menurut laporan media Iran.
Profil Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei lahir di kota Mashhad di timur laut pada tahun 1939. Ia adalah putra seorang ulama yang bergabung dengan gerakan oposisi keagamaan Ayatollah Khomeini melawan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada tahun 1962. Setelah Revolusi Islam tahun 1979, ia menjadi wakil menteri pertahanan dan membantu mengorganisir Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Setelah kematian Khomeini pada Juni 1989, Majelis Pakar memilih Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi. Meskipun ia belum mencapai pangkat yang dipersyaratkan di antara ulama Syiah, konstitusi diubah untuk memperbolehkan ia menjadi ayatollah dan terpilih sebagai pemimpin tertinggi.
Selama masa pemerintahannya, Iran memiliki tujuh presiden yang menjabat, dan Khamenei memiliki enam anak. Ia dikenal dengan sikap garis keras dalam masalah eksternal, termasuk konfrontasi dengan Amerika Serikat. Ia juga curiga terhadap hubungan dengan Barat, khususnya AS, dan sering menyerukan penghapusan Negara Israel serta mempertanyakan kebenaran Holocaust.
Pernyataan Lengkap Trump Soal Khamenei
Trump menyampaikan pernyataan lengkapnya di platform media sosial Truth Social. Ia menyebut Khamenei sebagai salah satu orang paling jahat dalam sejarah dan menyatakan bahwa ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi warga Amerika dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia yang telah dibunuh atau dimutilasi oleh Khamenei dan geng preman haus darahnya.
Ia menegaskan bahwa Khamenei tidak dapat menghindari intelijen dan sistem pelacakan AS yang sangat canggih. Selain itu, ia mengatakan bahwa banyak dari IRGC, militer, dan pasukan keamanan lainnya tidak lagi ingin berperang dan mencari kekebalan dari AS.
Trump menambahkan bahwa proses penyelesaian konflik akan segera dimulai karena, bukan hanya kematian Khamenei, tetapi negara Iran juga hancur dalam satu hari. Namun, ia menegaskan bahwa pemboman besar-besaran dan tepat sasaran akan terus berlanjut tanpa henti sepanjang minggu ini atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan perdamaian di seluruh Timur Tengah dan bahkan di seluruh dunia.
Peristiwa Serangan di Iran
Sebagai informasi, Iran telah diserang oleh Amerika Serikat dan Israel pada malam hari tanggal 28 Februari 2026. Presiden AS Donald Trump mengklaim telah menjalankan operasi tempur besar-besaran dan menyerukan pasukan pemerintah Iran untuk meletakkan senjata mereka.
Sebelumnya, menteri pertahanan Israel mengatakan bahwa Israel telah melancarkan serangan awal terhadap Iran, sehingga memicu sejumlah ledakan, menurut BBC News. Ketegangan bersejata itu terjadi setelah berminggu-minggu ancaman dan negosiasi terkait program nuklir Iran.
Tak lama setelah pukul 09:30 waktu Iran (06:00 GMT), media setempat melaporkan ledakan di Teheran. Menurut BBC, terlihat asap di atas Lapangan Jomhouri dan Lapangan Hassan Abad di kota itu. Ledakan juga dilaporkan terdengar di beberapa kota lain di seluruh negeri, termasuk Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan orang-orang di dekat lokasi ledakan berlari panik. Suara jeritan dan tangisan terdengar di latar belakang. Jumlah korban jiwa atau luka-luka belum diketahui saat ini, tetapi seorang pejabat setempat mengatakan kepada media pemerintah bahwa setidaknya 53 orang tewas dalam serangan Israel terhadap sebuah sekolah dasar putri di wilayah Minab, Iran selatan.
Wilayah udara Iran telah ditutup sejak serangan tersebut, menurut kantor berita Tasnim. Ada satu video tampak ledakan dalam jarak satu kilometer (0,6 mil) dari Leadership House, kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun tidak jelas apakah serangan itu mengenai gedung secara langsung.
Kantor kepresidenan juga dilaporkan menjadi sasaran. Foto lainnya dari area yang sama menunjukkan kolom asap tebal dan gelap yang membubung di atas bangunan tempat tinggal dan toko kelontong kecil. Ada juga laporan tentang serangan udara di tempat lain di negara ini.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut serangan gabungan itu sama sekali tidak beralasan, ilegal, dan tidak sah. Ia menulis di X:
“Trump telah mengubah ‘Amerika Pertama’ menjadi ‘Israel Pertama’ – yang selalu berarti ‘Amerika Terakhir’.”
Sebelumnya, ia mengatakan Iran akan menggunakan seluruh kemampuan pertahanan dan militernya berdasarkan hak membela diri yang sah untuk melindungi dirinya sendiri. Dalam percakapan telepon dengan rekan-rekan dari negara-negara tetangga, ia juga mengingatkan mereka tentang apa yang disebutnya sebagai tanggung jawab mereka untuk mencegah penyalahgunaan fasilitas dan wilayah mereka oleh AS dan Israel.



