Rahasia di Balik Koperasi Desa Merah Putih
Direktur Utama (Dirut) PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo de Sousa Mota, mengungkapkan diagram rahasia yang berisi rencana besar terkait pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Diagram ini dikirim oleh Joao kepada kolumnis kondang Dahlan Iskan, beberapa hari setelah hebohnya berita mengenai permintaan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad untuk menunda impor 105 ribu mobil dari India untuk kebutuhan KDMP.

Dalam esainya berjudul Petir Agrinas, Minggu (1/3/2026), Dahlan menyebutkan bahwa dirinya menerima satu lembar diagram yang sifatnya rahasia. Pengirimnya meminta agar tidak disebarkan ke siapa pun. “Saya dikirimi satu lembar diagram. Sifatnya rahasia. ‘Tolong jangan share ke siapa pun’ ujar pengirimnya,” tulis Dahlan.
Dia menyebut pengirim diagram itu sebagai Joao Angelo de Sousa Mota, dirut PT Agrinas Pangan Nusantara yang sejak saat itu dia beri gelar Sang Petir. Dahlan langsung membaca diagram yang dikirim tanpa narasi satu kalimat pun. Dengan bentuknya yang hanya diagram, Dahlan justru lebih paham isinya.
“Memang itu data mati, tetapi lebih jujur –tidak ada bumbu provokasinya. Data mati tapi penuh kehidupan di dalamnya. Sebagian diagram itu, sehari kemudian, ternyata ia ungkapkan dalam wawancara eksklusif dengan Uni Lubis di IDN Times,” lanjut Dahlan.
Menurut Dahlan, Joao mengatakan bahwa Agrinas Pangan akan menjalankan operasional 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih selama dua tahun pertama. Setelah semua ekosistem berjalan lancar, Agrinas Pangan akan menyerahkannya kepada pengurus koperasi.
Mendengar penjelasan Joao, Dahlan merasa tersambar petir. Koperasi, tetapi dijalankan oleh Agrinas secara total. Mulai dari pembangunan kantor, gudang, dan gerainya, hingga penyediaan kendaraan operasional, bahkan sekalian yang menjalankan koperasinya.
“Akan tetapi petir ketiga ini bukan lagi membuat saya pusing. Itu membuat saya terbangun: saya harus bisa melihat sisi baiknya. Bahwa Koperasi Desa Merah Putih ini bukan coba-coba. Ini serius banget. All out. Kilat. Masif,” tutur Dahlan.
Koperasi ini disebut all out karena anggaran jumbonya yang membengkak sudah disediakan –lewat pinjaman bank BUMN. Cicilannya dibayar dari dana desa. Kredit itu bahkan sudah mulai benar-benar dicairkan. Uang membangun kantor, gudang, dan gerai. Juga untuk uang muka mobil India. Prosesnya kilat. Tahun ini sudah harus jalan.
Bahwa pengurus koperasi desa belum ada yang siap, tidak jadi hambatan. Koperasi dijalankan dulu oleh Agrinas Pangan. Jalan pintas. Whoosh!. Pekerjaan ini sangat masif karena yang ditangani hulu-hilir. Termasuk distribusi dan logistiknya.
“Setelah mendengar penjelasan itu, saya tidak mampu lagi menyusun daftar pertanyaan. Saya hanya kirim doa kepada Joao: Semoga Tuhan memberkati Pak Joao sekeluarga. Aamiin,” ungkap Dahlan.
Dahlan juga mengungkap penjelasan Joao bahwa sesuai SOP dan sistem yang Agrinas Pangan siapkan, koperasi desa ini akan berjalan dengan semi autopilot. Maksudnya: pakai sistem modern ber-AI.
Bahwa seluruh bangunan ditangani Agrinas Pangan, Dahlan tidak terlalu kaget. Agrinas Pangan adalah penjelmaan dari Yodya Karya –yang punya keahlian pekerjaan sipil dan ME. Ketika masih Yodya sudah biasa punya banyak proyek di pelosok-pelosok.
Agrinas punya war room. Berarti Agrinas Pangan akan seperti Alfamart atau Indomaret tapi di desa-desa. Mantan menteri BUMN itu lantas mengutip pernyataan Joao kepada Uni; “Ini koperasi plus plus”. Disebut plus plus karena punya gerai eceran. Punya marketplace juga.
Gerai itu termasuk akan menjual kue produksi ibu-ibu di desa. Yang utama tentu menyalurkan barang-barang bersubsidi seperti gas 3 kg dan pupuk. Itu yang membuat koperasi direncanakan pasti untung. Dan karena itu tidak takut punya pinjaman besar, termasuk untuk membeli kendaraan: satu koperasi beli satu pikap, dua motor gerobak roda tiga, dan satu truk enam roda.
Agrinas yang membelikan semua kendaraan itu. Ternyata tidak semua dari India. Yang 105.000 dari India, yang 45.000 dari dalam negeri (Toyota, Daihatsu, Suzuki, dan Mitsubishi).
Yang sudah mendapat uang muka yang dari India. Itu karena pabrikan di sana harus mengubah sistem produksi agar bisa mencapai target. India minta kepastian –dibuktikan lewat pembayaran uang muka. Jangan sampai telanjur mengubah pabrik pesanan batal.
Dahlan menilai koperasi ini akan seperti Makan Bergizi Gratis. Begitu ada aba-aba “Siaaaaaap!” langsung ada yang “graaak!”
“Artinya, biarpun jutaan anjing riuh menggonggong, MBG harus berlalu. Pun Agrinas ini. Berarti Joao juga harus siap-siap mendapat Bintang Mahaputera,” kata Dahlan.
Dijelaskan bahwa Joao sendiri sudah punya pengalaman mengelola pertanian di pedesaan pedalaman NTT. Istrinya juga punya pengalaman menjadi distributor. Rupanya Joao ingin menjadikan apa yang ia lakukan di NTT ke skala nasional. Ditambah plus plus.
“Rupanya Joao sudah lama memendam pemikiran itu. Jangan-jangan sudah sejak lama pula dimatangkan dalam pembicaraan pribadi dengan Prabowo. Sejak sama-sama berjuang memikirkan ekonomi petani di desa,” kata Dahlan.
Joao sahabat dekat Prabowo. Sampai sekarang. Dalam sidang-sidang di Istana, Joao sering ikut serta –tidak mungkin itu hanya sebagai dirut cucu perusahaan Danantara.
Rupanya konsep besar itu pula yang pernah diajukannya ke Danantara. Yakni setelah Joao ditunjuk sebagai dirut Agrinas Pangan Nusantara. Maka enteng saja ia mengambek minta berhenti ketika Danantara tidak kunjung menyetujuinya.
Kini konsep itu sudah disetujui –tidak penting lagi disetujui oleh siapa pun. Joao langsung berlari cepat. Otaknya sudah penuh dengan rencana.
Menurut Dahlan, Joao bukan dirut yang baru mengadakan rapat perencanaan setelah dilantik. Dia sudah punya konsep matang sejak Agrinas Pangan belum ada.
“Ini proyek besar. Pekerjaan besar. Kalau ini sukses, memang akan jadi petir beneran: petir menghidupkan ekonomi di desa. Kalau gagal ia akan jadi petir untuk perekonomian nasional,” ucap Dahlan.



