Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Wednesday, 7 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Narasi Bencana yang Hilang
    Nasional

    Narasi Bencana yang Hilang

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover3 March 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Pengalaman di Lapangan: Kebangkitan Semangat dan Tantangan Pasca-Bencana

    Saat bertugas di lapangan, banyak hal yang bisa terjadi. Dari kejutan hingga kesedihan, semuanya bisa muncul dalam satu hari. Pada Jumat pertama Februari, kami mengunjungi Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Di sana, seorang murid SD menyampaikan kalimat sederhana namun menohok: “Banjir sudah reda, tapi lumpur masih ada.” Kalimat itu terdengar saat ia dan tiga temannya pulang dari sekolah. Langkah mereka terhenti ketika melihat mobil kami yang terperosok sedang diderek keluar lubang.

    Aksi Solidaritas dari Berbagai Wilayah

    Di tengah situasi ini, aksi solidaritas dilakukan oleh berbagai komunitas. Tim Teungku Inong, dampingan Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan (HAkA), serta organisasi lainnya menggelar aksi pada 4-7 Februari 2026 di Desa Babo dan Sekumur. Total peserta mencapai 60 orang dari berbagai latar belakang, seperti Forum Paralegal Aceh, Community Patrol Team (CPT) dari Gampong Linge, Mendale, dan Bunin, serta Kelompok Linut Lestari dan Cendana.

    Seluruh sukarelawan tinggal bersama di rumah-rumah warga Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang. Yuni, salah satu sukarelawan asal Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, menyampaikan bahwa dorongan untuk saling menguatkan sesama korban berasal dari hati. “Apa yang sudah hilang, nanti rezekinya akan digantikan oleh Allah,” ujarnya.

    Metode Terapeutik untuk Membangun Kembali Kehidupan

    Aksi solidaritas ini tidak hanya berupa distribusi sembako, tetapi juga pembersihan masjid dan kantor camat, pembacaan doa dan yasinan bersama, serta Layanan Dukungan Psikososial untuk para ibu melalui metode terapeutik bercerita (storytelling). Koordinator lapangan program, Abdoel Hadi, menyampaikan bahwa masyarakat menyambut baik aksi ini. Bahkan, warga Desa Sekumur dan Babo turut membantu memudahkan kegiatan.

    Windi Maharani dari Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, menambahkan bahwa aksi ini tidak hanya membantu warga terdampak, tetapi juga membangun rasa peduli dan kebersamaan di antara orang muda. “Secara keseluruhan aksi ini bagus dan layak dilanjutkan,” katanya.

    Pengalaman Khas Perempuan Pasca-Bencana

    Dua bulan pasca-bencana, untuk pertama kalinya, ayat-ayat suci Al-Qur’an, zikir, dan doa kembali dilantunkan bersama oleh para ibu di Desa Babo. Tak sedikit air mata yang tumpah sejak awal bismillah. Sesekali terdengar rengekan bayi dan gemuruh suara kaki balita berlari-lari selama majelis taklim berlangsung.

    Empat puluhan perempuan Desa Babo yang hadir di musala itu menghabiskan siang hingga sore hari difasilitasi oleh Ustazah Masyitah Alzeyra, Ustazah Siti Dinaria, Fitri Juliana, dan saya sendiri untuk bersama-sama memanjatkan doa-doa dan berbagi cerita selama dan setelah menghadapi bencana banjir bandang dan longsor.

    Beban Ganda yang Harus Diatasi Perempuan

    “Enggak perlu bersih-bersih karena memang enggak ada lagi rumahnya,” celetuk Nihayati datar saat sesi curahan hati (curhat) yang spontan disambut gelak para peserta. Sebagai seorang ibu, beban ganda terasa lirih di sela-sela kehidupan pascabencana.

    Nihayati, ibu lima anak, menjelaskan bahwa setiap keluarga dijatahkan makanan untuk sarapan. Anak pertamanya yang berusia 12 tahun terbiasa makan dua porsi. Sehingga, perempuan berusia 34 tahun itu pun merelakan jatah makannya untuk sang anak.

    Fakta pahit tersebut tampak sesuai dengan pemaparan data oleh Sita Aripurnami MSc dan Ir Suraiya Kamaruzzaman ST, LLM, MT pada acara “Baseline Data Gender, Perubahan Iklim, dan Advokasi Kebijakan di Aceh” yang sempat saya hadiri di pengujung Januari lalu. “Realitas bencana sejatinya tidak bersikap netral. Selalu ada realitas tidak terungkap dari pengalaman perempuan dalam menghadapi bencana,” ucap Sita selaku Direktur Eksekutif di Women Research Institute (WRI).

    Kunci Perubahan: Perempuan sebagai Pelaku Utama

    Beban kerja berlipat ganda yang harus dihadapi perempuan di tengah bencana terpampang nyata saat saya turun ke wilayah-wilayah pengungsian. Para perempuan yang tampak merawat balita, lansia, dan disabilitas sekaligus. Ditambah lagi membersihkan lumpur pascabanjir dan mengelola dapur umum, dengan terus mengabaikan kebutuhannya sendiri.

    Utari, perempuan berusia 27 tahun, menjelaskan bahwa sampai sekarang susu untuk ibu hamil belum dapat. “Kalau boleh disediakan donasi untuk tilam bayi, baju bayi, juga selimut bayi. Itu semua kami belum punya,” paparnya penuh harap.

    Ketua Aceh Climate Change Initiative Universitas Syiah Kuala (ACCI USK), Suraiya, menyampaikan bahwa perempuan adalah kunci perubahan. Namun, situasi perempuan tidak mengalami perubahan dalam 30 tahun terakhir. Berdasarkan hasil temuan baseline data dari 305 perempuan sebagai sampel penelitian di Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Aceh Barat sebelum bencana siklon Senyar melanda Sumatra, dinyatakan bahwa perempuan tahu cara bertahan dari bencana dan paham untuk terlibat dalam aksi penanggulangan perubahan iklim berbasis komunitas. Namun, perempuan nyaris tidak memiliki akses untuk menyusun kebijakan atau system keselamatan yang dibuat negara.

    Tantangan Masa Depan

    Ini tidak hanya tentang rumah dan kebun yang hilang, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat melanjutkan hidup ke depan!

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Pasar Perhatikan Aksi Demo, IHSG Melemah Di Pembukaan

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?