Kebiasaan Belanja Ayah Rojak yang Mengundang Tawa dan Perhatian
Ayu Ting Ting, salah satu artis ternama di Indonesia, baru-baru ini mengungkapkan kebiasaan belanja ayahnya, Abdul Rozak atau dikenal dengan panggilan Ayah Rojak. Kebiasaan tersebut membuat keluarga terkadang geleng-geleng kepala karena cara belanjanya yang unik dan sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan.
Menurut informasi yang beredar, Ayah Rojak hampir setiap hari melakukan pembelian melalui sistem Cash on Delivery (COD). Uang yang digunakan berasal dari penghasilan putrinya, Ayu Ting Ting. Hal ini menimbulkan perasaan kagum sekaligus heran dari keluarga, terutama karena Ayah Rojak sering meminta anggota keluarga lain untuk membayar barang pesanannya ketika paket datang.
Kebiasaan ini sempat dibicarakan oleh Ayu Ting Ting saat ia sedang bersiap untuk syuting. Ia melihat Ayah Rojak mencoba sepatu boots baru yang dibelinya dari marketplace. Momen sederhana itu membuat Ayu kembali mengingat kebiasaan belanja ayahnya yang selalu menjadi bahan candaan dalam keluarga.
“Aku pernah bilang di Lapor Pak kalau bapak gue itu kerjaannya COD setiap hari, ngeluarin duit engga orang rumah yang disuruh bayar,” ujar Ayu Ting Ting dalam sebuah postingan Instagram Stories-nya.
Ayah Rojak pun hanya bisa tersenyum mendengar ucapan putrinya yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia tampaknya tidak bisa berkata banyak karena merasa malu dan tahu bahwa kebiasaan belanjanya memang cukup unik.
Dalam momen itu, Ayu Ting Ting juga meminta Ayah Rojak memperlihatkan sepatu boots yang baru saja datang. “Sekarang dia pesen apa lagi tuh, lihat sepatu boots nya baru dateng,” katanya.
Beberapa waktu lalu, Ayah Rojak pernah membeli bibit tanaman secara online, tetapi sampai sekarang benih tersebut belum tumbuh. Ayu Ting Ting menduga bibit yang dibeli palsu. Meski begitu, kakek Bilqis ini masih senang berkebun dan bahkan Ayu ingin menyidak kebun Ayah Rojak yang disebut-sebut sudah rapi dan bagus.
Kecanduan Belanja: Masalah yang Semakin Umum
Belanja online kini menjadi aktivitas yang sangat populer. Namun, bagi sebagian orang, belanja bisa menjadi kecanduan yang mengganggu kehidupan mereka. Kecanduan belanja, atau yang dikenal sebagai buying-shopping disorder (BSD), adalah kondisi yang tergolong gangguan kontrol impuls.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, sekitar 5 persen remaja di negara maju mengalami BSD. Para ahli menyarankan agar kondisi ini dianggap sebagai gangguan kesehatan mental yang perlu diperhatikan. Kecanduan belanja terjadi karena banyak orang yang berbelanja hingga melampaui batas dan secara negatif memengaruhi kehidupan mereka.
Menurut Astrid Müller, peneliti utama dari studi tersebut, BSD telah resmi berpindah ke ruang ritel online. Sekitar sepertiga pasien yang mencari pengobatan untuk BSD dalam penelitian ini melaporkan gejala mereka karena aktif berbelanja online.
Faktor yang Memperburuk Kecanduan Belanja
Situs belanja online kini menjadi salah satu penyebab utama kecanduan belanja. Menurut Elias Aboujaoude, direktur Klinik Kelainan Kontrol Impuls, internet memberikan akses yang mudah dan cepat untuk berbelanja. Pemasaran online jauh lebih canggih dan ditargetkan secara mikro, sehingga membuat orang lebih sulit untuk mengendalikan kebiasaan belanjanya.
Selain itu, penggunaan uang virtual seperti kartu kredit membuat orang lebih mudah menghabiskan uang daripada uang tunai. Studi menunjukkan bahwa orang cenderung menghabiskan 100 persen lebih banyak ketika menggunakan kredit daripada uang tunai.
April Benson, seorang psikolog dari New York, menjelaskan bahwa jarak antara pembelian dan pembayaran membuat orang kurang sadar akan pengeluarannya. Ini membuat kecanduan belanja semakin parah.
Cara Mengatasi Kecanduan Belanja
Donald Black, profesor psikiatri dari University of Iowa, merekomendasikan beberapa langkah untuk mengatasi BSD. Pertama, hindari penggunaan kartu kredit atau buku cek karena menjadi pemicu belanja kompulsif. Gunakan uang tunai untuk menjaga pengeluaran Anda.
Selanjutnya, hindari berbelanja sendirian. Kebanyakan orang cenderung tidak akan berbelanja secara kompulsif ketika mereka bersama orang lain. Black juga menyarankan untuk mengganti kegiatan belanja dengan hiburan yang lebih bermakna, seperti jalan-jalan, bergabung dengan komunitas kebugaran, atau mencoba membuat kerajinan kreatif.
April Benson menyarankan untuk mencatat semua pengeluaran harian dan menilai setiap item berdasarkan pentingnya. Tujuannya adalah untuk mengajarkan orang bagaimana menghemat uang jika hanya membeli barang yang diperlukan.
“Desakan untuk berbelanja pada akhirnya akan menghilang, terutama jika Anda tidak terus memberinya peluang,” kata Benson. Ia menambahkan bahwa Anda perlu mengambil beberapa langkah nyata untuk membuat kemajuan dan mengatasi gangguan tersebut.



