Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 28 Februari 2026
Trending
  • Fase Pertama Love Phobia: Jadwal Tayang dan Spoiler di Vidio
  • Lengkap! Rest Area Jombang Mojokerto KM 678 dan 695, Fasilitas Hingga SPBU Modular untuk Pemudik
  • Waktu Imsak Saat Sahur Ramadan 2026 di Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Seluruh Kalsel, Senin 23 Februari
  • Ibu Tiri Bocah Tewas di Sukabumi Negasikan Tuduhan Siram Air Panas
  • Komisi VIII DPR: Pelonggaran Sertifikasi Halal Jangan Rugikan Umat
  • Tol Bocimi dan Japek Siap Sambut Arus Mudik Lebaran
  • Ramalan Zodiak Sagitarius dan Capricorn Hari Ini: Finansial, Karier, Kesehatan, dan Cinta
  • Huawei Band Seri 11: Smartband Lebih Canggih
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Khutbah Jumat Ramadhan 1447 H: Penuh Makna dan Khidmat
Politik

Khutbah Jumat Ramadhan 1447 H: Penuh Makna dan Khidmat

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover28 Februari 2026Tidak ada komentar9 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Materi Khutbah Jumat: Ramadhan sebagai Madrasah Iman

Khutbah Jumat merupakan bagian penting dari kegiatan ibadah di bulan Ramadan. Pada kesempatan ini, para jamaah akan mendengarkan materi khutbah yang mengandung makna mendalam dan nilai-nilai keimanan. Di bulan suci ini, khutbah disampaikan dengan tema khusus yang sesuai dengan momen perayaan Ramadan. Berikut adalah materi khutbah Jumat minggu ke-2 di bulan Ramadan 1447 H/2026 yang penuh makna dan bermakna.

Khutbah Pertama: “Ramadhan Madrasah Iman, Mendidik Ikhlas, Doa, dan Raih Syafaat”

Pembukaan

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan, dan meminta ampunan. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkan dia. Dan siapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada yang bisa membimbingnya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, yang satu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, serta keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Kami berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah. Bertakwalah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Saudara-saudara muslim yang dirahmati oleh Allah, marilah kita bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya memberi kemudahan hadir di shalat Jumat kali ini. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beberapa hari lagi bulan Ramadan akan tiba. Semoga Allah memberi kita umur yang berkah untuk menyambutnya.

Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada para sahabat beliau:

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikan malam itu, sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikan yang besar.” (HR. An-Nasā’i dalam Sunan-nya, no. 2106 dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 7148)

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah, setelah Rasulullah SAW mengabarkan keagungan dan kemuliaan bulan Ramadan—dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan—maka pertanyaan penting bagi kita adalah: apa hikmah dan buah besar yang seharusnya lahir dari ibadah puasa di bulan yang agung ini?

Di antara buah terpenting dari puasa itulah adalah tentang keimanan.

1. Ramadhan Mendidik Iman Melalui Keikhlasan

Salah satu dampak terbesar dari ibadah puasa adalah tumbuhnya keikhlasan. Keikhlasan merupakan buah yang diraih seorang muslim dari puasanya. Hal ini karena puasa adalah ibadah yang bersifat tersembunyi, hanya antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Puasa mendidik seorang mukmin untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan seluruh amal hanya kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.

Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam hadits qudsi:

“Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena Aku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ikhlas adalah memurnikan niat ibadah hanya untuk Allah, membersihkan amal dari keinginan dipuji manusia, serta menyelaraskan antara lahir dan batin tanpa mencari pengakuan selain dari-Nya.

Praktik ikhlas dibicarakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari Kiamat, ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antara mereka adalah:

“Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.”

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah, di zaman sekarang riya’ sering hadir dengan wajah yang halus dan terlihat “biasa”. Di antaranya:

  • Beribadah lalu dipamerkan di media sosial, seperti memotret sedekah, infak, atau kegiatan masjid lalu diunggah agar mendapat pujian dan pengakuan.
  • Mengunggah momen ibadah dengan tujuan pencitraan, bukan untuk mengajak kebaikan, tetapi agar dianggap paling saleh, paling hijrah, atau paling peduli.
  • Merasa kecewa ketika amal tidak mendapat respon, like, komentar, atau pujian, padahal seharusnya ridha Allah-lah yang dicari.

Inilah bentuk riya’ di zaman digital: amal dilakukan, tetapi hati sibuk menunggu penilaian manusia.

2. Ramadhan Menguatkan Iman dengan Kedekatan kepada Allah melalui Doa

Terdapat keterkaitan yang sangat kuat antara puasa dan doa. Hal ini terlihat dari penempatan ayat Allah:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini terletak di antara ayat-ayat tentang puasa, sebagai penegasan adanya hubungan erat antara puasa dan doa. Puasa merupakan keadaan yang sangat diharapkan terkabulnya doa. Dalil-dalil menunjukkan keutamaan berdoa saat berpuasa, dan seorang mukmin sangat diharapkan doanya dikabulkan apabila syarat-syaratnya terpenuhi dan penghalangnya tidak ada.

Dalam hadits disebutkan:

“Bagi orang yang berpuasa, ketika berbuka terdapat doa yang tidak akan ditolak.” (HR. al-Hakim)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ (hlm. 16-17) sebagai berikut.

“Doa adalah salah satu obat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi berbagai musibah: doa dapat menghadangnya, mengobatinya, mencegah turunnya musibah, serta mengangkat atau meringankannya ketika musibah itu telah terjadi. Karena itu, doa adalah senjata seorang mukmin.”

Itulah kenapa doa itu disebut senjata orang mukmin. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Doa adalah senjata kaum mukminin dan merupakan tiang agama, serta cahaya langit dan bumi.”

Keadaan seorang mukmin saat berpuasa sangat layak untuk dikabulkan doanya, karena ia berada dalam kondisi dekat dengan Rabb-nya, akibat jiwanya yang tunduk, kelelahan, dan kelemahan dirinya di hadapan Allah.

3. Ramadhan Menanamkan Iman kepada Hari Akhir melalui Syafaat

Puasa juga mengandung penetapan adanya syafaat pada hari Kiamat. Puasa termasuk di antara amalan yang diberi kemampuan untuk memberi syafaat. Allah mengkhususkannya dengan syafaat karena keagungan kedudukannya dan besarnya keutamaannya. Dengan izin Allah, puasa menjadi pemberi syafaat bagi seorang mukmin pada hari Kiamat.

Dalam hadits disebutkan:

“Sesungguhnya puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad)

Syafaat sendiri maknanya adalah thalabul khair lil ghairi, memohon kebaikan bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain. Syafaat bisa jadi dari amalan kita, bisa jadi pula karena sayangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita.

Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya,

“Apakah kalian tahu apa yang Rabbku tawarkan kepadaku malam ini?”

Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memberiku pilihan antara masuknya setengah dari umatku ke dalam surga, atau syafaat. Maka aku memilih syafaat.”

Kami berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar Dia menjadikan kami termasuk orang-orang yang mendapatkannya.”

Beliau bersabda, “Syafaat itu diperuntukkan bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 4317; hadits sahih menurut Syaikh Al-Albani)

4. Ramadhan Mengokohkan Iman terhadap Ketinggian Allah Ta‘ala

Puasa juga mengandung penetapan sifat ‘uluw (ketinggian) bagi Allah Ta‘ala, yaitu bahwa Allah Mahatinggi di atas makhluk-Nya, dan sifat ini termasuk sifat dzatiyyah yang tidak terpisah dari-Nya. Diturunkannya Al-Qur’an dari Allah pada bulan puasa menjadi dalil bagi sifat ini, karena penurunan hanya terjadi dari tempat yang tinggi.

Di antara bukti kemuliaan puasa di sisi Allah adalah bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an pada bulan ini dari atas tujuh lapis langit, untuk menjelaskan keutamaan dan kedudukannya. Allah Ta‘ala berfirman:

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)

5. Ramadhan Melatih Iman untuk Mengharap Ampunan Allah

Puasa juga mengandung penetapan sifat al-‘afwu (Maha Pemaaf) bagi Allah, sesuai dengan keagungan-Nya. Allah mensyariatkan puasa agar sifat ini tampak pada hamba-hamba-Nya yang berpuasa, bahwa Dia memaafkan orang yang berbuat dosa dan melapangkan kesalahan orang yang khilaf.

Oleh karena itu, dianjurkan untuk memperbanyak doa memohon ampunan dan maaf kepada Allah pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan dengan doa:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. at-Tirmidzi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Afwu mengandung makna menggugurkan hak-Nya atas mereka dan memaafkan mereka. Sedangkan maghfirah mengandung makna melindungi mereka dari akibat buruk dosa-dosa mereka, Allah mendekatkan perhatian-Nya kepada mereka, menerima mereka, dan ridha kepada mereka. Berbeda dengan ‘afwu yang sekadar (murni) ‘afwu, karena orang yang memaafkan bisa saja memaafkan, tetapi tidak mendekat kepada orang yang dimaafkannya, dan tidak ridha kepadanya.”

“Maka, ‘afwu adalah sekadar meninggalkan tuntutan (murni melepaskan), sedangkan maghfirah adalah kebaikan, karunia, dan kemurahan.” (Majmū‘ al-Fatāwā, 14:140)

Demikian Khutbah pertama ini, semoga Allah mudahkan kita berjumpa dengan Ramadhan.

Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku menyembah dan bersholawat kepada Nabi Muhammad, dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, yang satu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Marilah kita bertakwa kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Besar. Ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian dengan perintah yang besar, yaitu shalat dan salam kepada Nabi-Nya yang mulia. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kepada-Nya dan salamkanlah salam yang sempurna.”

Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Berikanlah barakah kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Ya Allah, berikanlah ampunan kepada para muslimin dan muslimat, para mukmin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Dekat, serta Maha Mengabulkan doa.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kecukupan, dan keterbatasan.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, perubahan kesehatan-Mu, kejutan murka-Mu, dan segala kemarahan-Mu.

Ya Allah, berikanlah kami ketakutan kepada-Mu yang bisa menjauhkan kami dari maksiat-Mu, dan berikanlah kami ketaatan kepada-Mu yang bisa membawa kami ke surga-Mu, serta berikanlah kepada kami keyakinan yang bisa meringankan kesengsaraan dunia.

Ya Allah, berikanlah kami kekuatan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan tubuh selama kami hidup, dan jadikanlah itu warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami.

Janganlah jadikan musibah kami dalam agama kami, janganlah jadikan dunia menjadi prioritas utama kami, janganlah jadikan ilmu kami menjadi batas, dan janganlah biarkan orang-orang yang tidak kasihan kepada kami berkuasa atas kami.

Ya Allah, perbaikilah akhir urusan kami dalam segala hal, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat.

Ya Allah, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri dengan banyak dosa, dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa itu selain Engkau. Maka, ampunilah kami dengan pengampunan dari-Mu, dan kasihilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.

Hai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan, serta melarang perbuatan keji dan mungkar. Ia memberi nasihat kepada kalian agar kalian ingat.

Ingatlah Allah yang Maha Agung, niscaya Ia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-Nya, niscaya Ia akan menambahkan nikmat-Nya kepada kalian. Dan ingatlah kepada Allah adalah yang terbesar.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Komisi VIII DPR: Pelonggaran Sertifikasi Halal Jangan Rugikan Umat

28 Februari 2026

RI Peroleh 19 Persen dari Negosiasi Tarif Resiprokal, Ekonom: Kewajiban Lebih Besar dari AS

28 Februari 2026

Daftar Bintang Top Eropa yang Berpuasa Ramadan 2026, Termasuk 3 Pemain Real Madrid dan Bintang Muda Barcelona

28 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Fase Pertama Love Phobia: Jadwal Tayang dan Spoiler di Vidio

28 Februari 2026

Lengkap! Rest Area Jombang Mojokerto KM 678 dan 695, Fasilitas Hingga SPBU Modular untuk Pemudik

28 Februari 2026

Waktu Imsak Saat Sahur Ramadan 2026 di Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Seluruh Kalsel, Senin 23 Februari

28 Februari 2026

Ibu Tiri Bocah Tewas di Sukabumi Negasikan Tuduhan Siram Air Panas

28 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?