Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 28 Februari 2026
Trending
  • Jadi Tulang Punggung Keluarga, Ayu Ting Ting Sindir Hobi Belanja Ayah Rojak
  • Wisatawan Jatim Capai 15 Juta, Hotel Kembangkan Layanan Baru
  • Profil Brigjen Eko Hadi Santoso Terbongkar Kasus Suap Rp2,8 M AKBP Didik Putra
  • RI Peroleh 19 Persen dari Negosiasi Tarif Resiprokal, Ekonom: Kewajiban Lebih Besar dari AS
  • 226 pekerja Kristalin dievakuasi setelah kebakaran, 2 tewas, tambang dihentikan
  • JuraganXtra: Mandiri Bantu UMKM Berkembang dan Kompetitif
  • Seniman Multitalenta Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra
  • Dompet MagSafe MOFT Find My: Jangkauan 40 Meter, Ketebalan 6,35 mm, Rilis Mei 2025
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Otomotif»AAUI: Peralihan ke Kendaraan Listrik Jadi Tantangan Asuransi Umum
Otomotif

AAUI: Peralihan ke Kendaraan Listrik Jadi Tantangan Asuransi Umum

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover28 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perubahan Preferensi Masyarakat terhadap Kendaraan Listrik Menjadi Tantangan bagi Industri Asuransi

Perubahan dalam preferensi masyarakat terhadap kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) telah menjadi tantangan signifikan bagi industri asuransi umum di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, yang mengakui adanya pergeseran besar dalam industri otomotif.

Dalam konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (20/2), Budi menjelaskan bahwa pada tahun 70-an, Indonesia didominasi oleh merek kendaraan konvensional, baik roda dua maupun empat, yang berasal dari Jepang. Saat itu, ekosistem pendukung seperti pabrik dan penyediaan suku cadang sudah tersedia secara lengkap. Oleh karena itu, industri asuransi tidak merasa khawatir terhadap risiko yang muncul dari kendaraan konvensional.

Namun, situasi sekarang berbeda. Masuknya kendaraan listrik ke pasar Indonesia secara masif, tetapi ekosistem pendukungnya belum sepenuhnya tersedia. Hal ini membuat industri asuransi harus berpikir dua kali sebelum memberikan perlindungan terhadap kendaraan listrik.

Budi menyampaikan bahwa pemerintah perlu membangun ekosistem pendukung EV, seperti pabrik baterai dan pasokan suku cadang. Ia menegaskan bahwa produk EV saat ini belum menjadi mass product, sehingga menjadi kekhawatiran bagi industri asuransi umum.

Biaya Perbaikan yang Lebih Tinggi

Selain itu, faktor klaim kendaraan listrik juga menjadi perhatian serius bagi industri asuransi. Budi menjelaskan bahwa suku cadang yang belum mudah ditemukan dapat menyebabkan biaya perbaikan yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional. Dalam beberapa kasus, biaya perbaikan bisa mencapai 30%-40% lebih mahal.

“Banyak perusahaan asuransi yang enggan menutup asuransi kendaraan berbasis EV karena risiko yang tinggi,” ujarnya.

Budi berharap pemerintah dapat segera mengatasi ketersediaan ekosistem kendaraan EV. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara mobil murah (EV) dengan suku cadang yang murah. Saat ini, kondisi tersebut belum tercapai. Oleh karena itu, AAUI terus menyampaikan usulan kepada pemerintah dan berusaha mendorong perusahaan asuransi untuk menyikapi situasi ini.

Penurunan Pendapatan Premi Asuransi Kendaraan Bermotor

Menurut data AAUI, pendapatan premi asuransi umum dari lini asuransi kendaraan bermotor sebesar Rp 19,02 triliun per akhir 2025. Angka ini mengalami kontraksi sebesar 4,2% dibandingkan pencapaian per akhir 2024 yang mencapai Rp 19,86 triliun.

Budi menjelaskan bahwa penurunan ini tak lepas dari lesunya penjualan kendaraan konvensional pada 2025. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat penjualan mobil secara wholesales sepanjang 2025 sebesar 803.687 unit, turun 7,2% dibandingkan posisi 2024 yang sebesar 865.723 unit.

Sementara itu, penjualan kendaraan dari diler ke konsumen tercatat sebanyak 833.692 unit sepanjang 2025, melambat 6,3% dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Perubahan Preferensi Masyarakat

Selain lesunya pasar otomotif, Budi menyebutkan bahwa perubahan preferensi masyarakat yang lebih memilih kendaraan berbasis listrik juga menjadi faktor penurunan pendapatan premi asuransi kendaraan. Banyak perusahaan asuransi belum bersedia memproteksi kendaraan listrik karena berbagai risiko yang ada.

“Perusahaan asuransi tidak mau menutup asuransinya untuk berbasis EV. Hal ini menjadi tantangan bagi industri asuransi umum,” tutur Budi.

Kesimpulan

Perubahan tren pasar otomotif dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik membutuhkan adaptasi yang cepat dari industri asuransi. Dengan ekosistem yang belum sepenuhnya terbangun, serta biaya perbaikan yang lebih tinggi, industri asuransi harus mempertimbangkan berbagai risiko sebelum memberikan perlindungan terhadap kendaraan listrik. Kehadiran EV memang membawa peluang, namun juga tantangan yang perlu dihadapi secara bersama-sama oleh pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Honda Supra 125 Dash 2026: Solusi Ideal untuk Penggemar Motor Bebek Berkualitas Tinggi!

28 Februari 2026

Mobil Mudik Murah: Harga Daihatsu Ayla X 2017 Bekas Turun

28 Februari 2026

Kadin Minta Prabowo Hentikan Impor 105 Ribu Kendaraan dari India, Industri Otomotif Terancam

28 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Jadi Tulang Punggung Keluarga, Ayu Ting Ting Sindir Hobi Belanja Ayah Rojak

28 Februari 2026

Wisatawan Jatim Capai 15 Juta, Hotel Kembangkan Layanan Baru

28 Februari 2026

Profil Brigjen Eko Hadi Santoso Terbongkar Kasus Suap Rp2,8 M AKBP Didik Putra

28 Februari 2026

RI Peroleh 19 Persen dari Negosiasi Tarif Resiprokal, Ekonom: Kewajiban Lebih Besar dari AS

28 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?