Perbedaan Ramadan di Belitung: Dari Masa Lalu Hingga Era Digital
Ramadan di Belitung pada abad ke-19 dan tahun 2026 menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan, terutama dalam hal akses informasi dan teknologi. Dulu, masyarakat Muslim di Belitung harus berjuang untuk mendapatkan naskah Al-Qur’an, sementara kini kitab suci tersebut bisa ditemukan dengan mudah melalui perangkat ponsel.
Wahyu Kurniawan, Kurator Museum Pemkab Beltim, memberikan analisis menarik tentang keterbatasan akses literasi agama di masa lalu. Pada abad ke-19, pengetahuan masyarakat Belitung terhadap isi Al-Qur’an masih minim. “Dulu, pengetahuan Al-Qur’an terbatas bukan karena masyarakat tidak mau belajar, tapi karena fisik kitabnya sendiri sangat langka. Mencetak kitab di abad ke-19 adalah hal yang sulit dan mahal,” ujarnya.
Bisa dibayangkan, dalam satu desa atau keluarga, mungkin tidak tersedia satu pun Al-Qur’an. Literasi agama lebih banyak disampaikan secara lisan dari para pemimpin seperti Depati atau Ngabehi yang memiliki akses terhadap pendidikan agama. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan era sekarang. Wahyu menekankan bahwa saat ini, Al-Qur’an bisa diakses secara gratis melalui aplikasi di setiap handphone.
“Zaman sekarang, kitab itu bisa saja ada di setiap HP. Ada aplikasi gratis dari Kemenag maupun organisasi Islam lainnya. Harusnya kemampuan kita untuk mempelajari Al-Qur’an jauh lebih intens daripada orang zaman dulu,” ucapnya.
Selain akses literasi, teknologi penanda waktu juga mengalami perubahan drastis. Dulu, masyarakat Belitung harus memantau waktu berbuka dan imsak secara mandiri di pondok-pondok mereka atau yang disebut kelekak. Belum ada sirine pabrik atau pengeras suara masjid yang menggema ke seluruh penjuru. Setiap keluarga harus melihat tanda-tanda alam atau perhitungan manual untuk menentukan jam berbuka.
“Dulu tidak ada peluit, jadi tiap keluarga harus mandiri melihat jam berbuka masing-masing. Sekarang, bantuan teknologi sudah sangat memudahkan kita,” katanya.
Meskipun fasilitas zaman dulu sangat terbatas, Wahyu mencatat satu hal yang tidak boleh luntur, yaitu semangat dalam beribadah. Orang zaman dulu, meskipun kitabnya sedikit, ketaatannya pada ibadah seperti puasa sangat luar biasa. Perbandingan ini menjadi pengingat bagi generasi sekarang agar tidak menyia-nyiakan kemudahan teknologi yang ada. Akses yang mudah terhadap Al-Qur’an seharusnya disertai dengan intensitas membaca yang lebih tinggi.
Wahyu berharap kemudahan digital ini membuat masyarakat saat ini bisa lebih baik dari generasi sebelumnya dalam hal spiritual. “Pesan untuk generasi sekarang adalah manfaatkan teknologi itu untuk mengakses Al-Qur’an seintens mungkin, melebihi kemampuan orang tua kita dulu yang ingin baca tapi kitabnya tidak ada,” ungkapnya.
Transformasi dari era naskah fisik yang langka ke era digital ini menunjukkan kemajuan, namun tidak menghilangkan inti dari Ramadhan. Teknologi harusnya menjadi alat untuk memperdalam pemahaman agama, bukan justru menjadi instrumen yang menjauhkan jemaah dari ketakwaan. Wahyu juga membeberkan bagaimana media kolonial di masa lalu hanya mencatat peristiwa besar secara umum, sementara sekarang setiap momen Ramadhan bisa didokumentasikan dengan detail oleh masyarakat sendiri.
“Dokumentasi sejarah ini penting agar anak cucu kita di masa depan tahu bagaimana kita menjalankan Ramadan di tahun 2026 ini,” ucapnya.
Satu hal yang tetap bertahan dari abad ke-19 hingga era digital adalah kebersamaan masyarakat Belitung dalam menyambut bulan puasa. Meskipun caranya berbeda, esensi kegembiraannya tetap sama. Sebagai penutup, Wahyu mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur atas kemudahan teknologi saat ini dengan cara meningkatkan kualitas interaksi dengan kitab suci selama bulan Ramadan. Jangan sampai kemudahan akses justru membuat lalai untuk lebih taat di bulan yang penuh berkah ini.



