Kehilangan yang Mendalam
Histeris duka tak terbendung dirasakan Isnaini Budiarti (53) saat mengetahui anaknya Widya Riskyanti (28) menjadi korban penjambretan. Kepergian Widya tidak hanya meninggalkan luka akibat tindak kriminal, tetapi juga menyisakan kehilangan besar bagi keluarga. Di rumahnya di Rusunawa Indrapura, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya, Widya dikenal sebagai sosok pekerja keras yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga.
Widya Riskyanti (28) diketahui merupakan aparatur sipil negara (ASN) yang meninggal dunia setelah sempat koma selama 4 hari. Ia adalah ASN di Kantor Pertanahan Kota Surabaya II. Kepergian perempuan muda tersebut membuat keluarga kehilangan figur yang selama ini menggantikan peran sang ayah yang telah meninggal dunia setahun lalu.
Selain bekerja sebagai ASN, Widya juga membantu memenuhi kebutuhan ibunya dan membiayai pendidikan kedua adiknya. Kasus yang menimpa Widya kini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian.
Sosok Widya Riskyanti
Bagi keluarga, Widya bukan sekadar anak kedua dari empat bersaudara. Ia merupakan sosok yang mengambil tanggung jawab besar setelah ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu, Widya menjadi tulang punggung keluarga dengan membantu memenuhi kebutuhan ibunya, Isnaini Budiarti (53), sekaligus membiayai sekolah kedua adiknya.
Kehilangan tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga yang selama ini bergantung pada penghasilan dan perhatian Widya. Di mata keluarganya, Widya dikenal sebagai pribadi sederhana, pendiam, dan penuh tanggung jawab. Ibunda korban, Isnaini Budiarti (53), mengenang putrinya sebagai anak yang sangat berbakti kepada keluarga.
Di tengah kesibukannya sebagai ASN, Widya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga setelah pulang bekerja. Sejak ayahnya meninggal dunia sekitar setahun lalu, tanggung jawab ekonomi keluarga berada di pundak Widya. Ia menjadi tulang punggung keluarga yang membiayai kebutuhan sang ibu sekaligus pendidikan kedua adiknya.
Pengorbanan Widya bahkan melampaui kepentingan pribadinya sendiri. Menurut keluarga, ia memilih menunda rencana pernikahan demi memastikan masa depan adik-adiknya tetap terjamin. Kakak sulung korban, Irma Muslika (33), mengungkapkan pengorbanan tersebut saat ditemui di Rusunawa Indrapura, Sabtu (6/6/2026).
“Dia bilang tidak mau menikah sebelum adik-adik selesai sekolah,” ungkap Irma dengan nada haru saat ditemui SURYA.co.id di Rusunawa Indrapura, Sabtu (6/6/2026).
Permintaan Terakhir Korban
Keluarga mengaku tidak memiliki firasat buruk sebelum peristiwa yang merenggut nyawa Widya terjadi. Namun, ada satu momen yang kini terus dikenang keluarga. Beberapa hari sebelum kejadian, Widya sempat meminta sang ibu memasakkan makanan favoritnya, yakni perkedel dan kotokan daging. Permintaan sederhana tersebut kini menjadi kenangan terakhir yang tersimpan dalam ingatan keluarga.
Awal Mula Kasus Penjambretan
Peristiwa yang menimpa Widya terjadi saat korban melintas di kawasan belakang gedung Mal Grand City, Surabaya, pada Selasa sore. Saat ditemukan warga, korban tergeletak di jalan dengan mengenakan seragam Korpri. Pada awalnya, warga menduga insiden tersebut merupakan kecelakaan lalu lintas biasa. Namun, hasil penyelidikan kemudian mengarah pada dugaan tindak penjambretan yang menyebabkan korban mengalami luka serius hingga harus menjalani perawatan intensif.
Kasus tersebut kini masih dalam penanganan aparat kepolisian. Seorang wanita berseragam batik biru Korpri ditemukan tergeletak di tengah Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur (Jatim), tepat di kawasan belakang Mal Grand City pada Selasa (2/6/2026) sore. Korban diduga menjadi sasaran penjambretan yang dilakukan bandit bermotor.
Korban diketahui berinisial W (28), warga Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya. Setelah mendapat penanganan awal dari tim medis di lokasi, Aparatur Sipil Negara (ASN) wanita tersebut kemudian dirujuk ke RSUD dr Soetomo untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Hingga kini, polisi masih mendalami penyebab pasti insiden tersebut, termasuk memastikan apakah korban kejahatan jalanan atau mengalami kecelakaan lalu lintas.
Kronologi Kejadian
Salah seorang saksi, AP, mengaku baru mengetahui kejadian tersebut setelah mendapat informasi dari rekannya sekitar pukul 17.30 WIB. Menurutnya, warga semula mengira perempuan yang tergeletak di jalan tersebut mengalami kecelakaan biasa. Namun setelah petugas datang dan melakukan penanganan, muncul informasi bahwa korban diduga menjadi korban penjambretan.
“Teman saya kira kecelakaan biasa. Tapi pas petugas datang ternyata korban itu kena jambret. Perempuan, kayaknya sendirian, iya pakai seragam Korpri biru,” ujar AP, Rabu (3/6/2026). Keterangan serupa disampaikan pedagang soto di sekitar lokasi, LK (32). Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab korban terjatuh, tetapi sempat melihat petugas melakukan penanganan darurat.
“Kemarin waktu aku melintas dari rumah mau kerja ke warung, lihat ada petugas berbaju oranye menolong orang di tikungan itu,” katanya.
Jalan Kusuma Bangsa Kembali Disorot
Kasus yang menimpa W menambah daftar peristiwa kriminalitas yang pernah terjadi di kawasan Jalan Kusuma Bangsa dan sekitarnya. Sebelumnya, pada April 2026, seorang pelajar SMP berinisial FS (15) menjadi korban begal oleh empat pelaku bersenjata tajam. Korban dipaksa mengikuti para pelaku hingga dibawa berkeliling ke sejumlah ruas jalan di kawasan Ambengan, belakang Grand City, hingga Jalan Kusuma Bangsa.
Akibat kejadian tersebut, korban kehilangan:
* Honda Vario 150
* STNK kendaraan
* Telepon genggam
Kerugian Ditaksir Sekitar Rp25 Juta. Menurut keluarga korban saat itu, pelaku sempat mengancam menggunakan pisau dan melakukan kekerasan fisik sebelum membawa kabur kendaraan. Munculnya kembali dugaan tindak kejahatan di kawasan Kusuma Bangsa, memunculkan kekhawatiran warga dan pengguna jalan yang rutin melintas di area tersebut.
Lokasi yang berada di jalur penghubung kawasan pusat kota menuju Gubeng dan sekitarnya itu kerap ramai kendaraan, terutama pada jam pulang kerja.
Polisi Masih Memburu Pelaku
Kanit Reskrim Polsek Genteng, Iptu Vian Wijaya, membenarkan bahwa Widya meninggal dunia setelah menjalani masa kritis di rumah sakit. Pihak kepolisian memastikan proses penyelidikan dan pengejaran terhadap pelaku masih terus berlangsung. “Mohon waktu, nanti akan kami sampaikan,” ujar Iptu Vian terkait progres pengejaran pelaku yang hingga kini masih dalam pengejaran intensif oleh personel Polsek Genteng.
Polisi belum merinci identitas maupun jumlah pelaku karena proses penyidikan masih berjalan.
Kisah hidup Widya Riskyanti menghadirkan potret pengorbanan seorang anak yang berusaha menjaga keluarganya setelah kehilangan sosok ayah. Di usia yang masih muda, ia memikul tanggung jawab besar demi masa depan ibu dan kedua adiknya. Peristiwa yang merenggut nyawanya juga menjadi pengingat bahwa keamanan ruang publik masih menjadi perhatian penting di kawasan perkotaan.
Selain penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan jalanan, diperlukan peningkatan pengawasan dan kewaspadaan bersama agar kejadian serupa tidak kembali menimpa masyarakat. Sementara itu, keluarga berharap proses hukum dapat berjalan hingga pelaku berhasil ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.



