Tripusaka Melestarikan Tradisi Imlek dengan Kombinasi Seni, Olahraga, dan Filosofi
Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan keriuhan suara tambur dan liukan makhluk mitologi yang memukau. Di balik kemeriahannya, sasana Tripusaka tetap teguh memegang mandat untuk melestarikan tradisi ini. Tidak sekadar hiburan, pertunjukan yang mereka suguhkan merupakan perpaduan antara filosofi keagamaan, olahraga, dan seni pertunjukan.
Tripusaka menawarkan tiga varian pertunjukan dalam perayaan Imlek: Barongsai, Pekingsai, dan Liong. Masing-masing memiliki makna dan karakteristik unik yang mencerminkan nilai-nilai budaya Tiongkok yang mendalam.
Simbol-Simbol Budaya dalam Pertunjukan
Liong melambangkan kekuatan dan kekuasaan, sedangkan Barongsai dan Pekingsai melambangkan singa pengusir bala yang dipercaya membawa keberuntungan dan rezeki. Menurut Wakil Ketua Umum Tripusaka, Nova Felian Subianto, Liong adalah simbol kekaisaran yang mengandung makna kuat dan penuh kekuasaan.
Sementara itu, Barongsai dan Pekingsai memiliki riwayat sebagai pengusir bala. Dulu di Tiongkok, Barongsai digunakan untuk menakuti makhluk yang mengganggu hasil panen. Rakyat mengenakan kostum singa diiringi musik tambur yang kencang untuk mengusir gangguan tersebut. Hingga kini, kehadiran mereka tetap dipercaya dapat menolak bala sekaligus mendatangkan rezeki.
Mengenal Varian Pertunjukan: Dari Selatan ke Utara
Dalam menyambut Tahun Baru Imlek 2026, Tripusaka menyiapkan berbagai varian pertunjukan yang memiliki karakteristik unik masing-masing. Pertama adalah pertunjukan Barongsai yang melambangkan Singa Selatan. Menurut Nova, penampilan Barongsai lebih menonjolkan aspek kekuatan.
Varian yang paling menantang adalah Barongsai Tonggak, di mana pemain harus melakukan atraksi di atas tiang-tiang tinggi dengan latihan fisik yang ekstra. Selain Barongsai, ada juga Pekingsai yang melambangkan Singa Utara. Berbeda dengan Barongsai, Pekingsai lebih bersifat akrobatik dan menonjolkan keindahan. Kostumnya pun berbeda dan biasanya dimainkan secara berpasangan dengan analoginya seperti pasangan jantan dan betina.
Sementara itu, ada pula penampilan Liong yang melambangkan Naga. Penampilan Liong ini menitikberatkan pada kekompakan tim. Pertunjukan yang melambangkan hewan naga ini sendiri melibatkan 10 orang pemain utama. Adapun pemain tersebut dibagi menjadi 9 pemegang badan naga dan 1 pemegang bola api, ditambah pemain cadangan bila diperlukan.
Persiapan Intensif Jelang Musim “Panen”
Menjelang Imlek, intensitas latihan di sasana Tripusaka meningkat drastis. Jika pada hari normal mereka berlatih tiga kali seminggu, maka sekitar satu setengah bulan sebelum hari raya, para pemain berlatih hampir setiap hari. “Kami bisa berlatih lima hingga enam kali dalam seminggu. Kami harus memastikan fisik pemain prima, terutama jika ada agenda kirab atau pawai yang sangat menguras tenaga,” tambah Nova.
Keseriusan latihan Tripusaka dalam menjalani latihan tersebut pun bisa dikatakan terbukti berhasil saat Tribunnews meliput pertunjukkan mereka di pusat perbelanjaan Pakuwon Mall Solo Baru pada Sabtu (15/2/2026). Di pertunjukkan keempat yang digelar di pusat perbelanjaan di Solo Baru tersebut, Tripusaka menampilkan pertunjukkan Liong, Barongsai, dan Pekingsai. Adapun pertunjukan tersebut berlangsung dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.
Setelah menutup serangkaian pertunjukan tersebut, rombongan Liong, Barongsai, dan Pekingsai yang ditampilkan Tripusaka ini juga melakukan kunjungan mengelilingi seluruh lantai yang ada di Pakuwon Mall Solo Baru.

Melalui kegiatan tersebut, para pengunjung mall yang tidak sempat menyaksikan langsung pertunjukkan yang digelar di atrium utama mall tersebut masih bisa berswafoto bersama Liong, Barongsai, dan Pekingsai yang ada sembari memberikan angpao kepada penampilnya. Melalui acara ini, Tripusaka juga berharap masyarakat tidak hanya terhibur oleh atraksi akrobatik yang disuguhkan, tetapi juga memahami perbedaan keindahan antara “Singa Utara” dan “Singa Selatan” yang mereka bawakan tahun ini.



