Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 23 Februari 2026
Trending
  • Doa dan Salat di Hari Pertama Diterima Allah SWT
  • 4 Zodiak Ini Dikunjungi Keberuntungan Besar Mulai 19 Februari 2026
  • Richard Lee Diperiksa sebagai Tersangka, Tidak Langsung Ditahan, Ini Alasannya
  • Daftar Panitia Paskah Nasional 2026 di Sulawesi Utara
  • Selama Ramadan, Vidio Tampilkan Hiburan Spesial
  • 5 tempat bukber keluarga enak dan nyaman di Malang
  • 6 zodiak paling beruntung di tahun kuda api 2026: kesuksesan dan kekayaan melimpah
  • Bank Syariah Optimis Tumbuh Pesat Selama Ramadan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Pandangan: Tikus di Rumah Suci dan Cermin Kehidupan Kita
Politik

Pandangan: Tikus di Rumah Suci dan Cermin Kehidupan Kita

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover22 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Refleksi Moral dan Sosial dalam “Tikus di Rumah Suci”

Dari sebuah buku kumpulan cerpen berjudul “Tikus di Rumah Suci” karya Sipri Senda, seorang Pastor Katolik yang diterbitkan oleh PT Kanisius, Yogyakarta, tahun 2026, muncul inspirasi untuk menulis opini ini. Cerpen dengan judul yang sama menjadi titik tolak refleksi moral dan sosial yang mendalam.

Semua orang pasti terperangah ketika menemukan kabar bahwa ada “tikus” berkeliaran bebas di rumah Tuhan—menggerogoti, mencuri, dan hidup nyaman di ruang yang seharusnya suci. Kabar semacam itu tentu mengejutkan, bahkan mengusik iman dan akal sehat kita. Apakah mungkin tempat yang diyakini sebagai ruang sakral justru tidak sepenuhnya aman dari perilaku yang merusak?

Kegelisahan itu lahir lebih dahulu dari imajinasi pembaca, termasuk imajinasi penulis. Cerita pendek tersebut sesungguhnya hanya menggambarkan tikus-tikus nyata yang mencuri sisa makanan di dapur pastoran atau berkeliaran di gudang paroki. Namun justru dari fakta yang sederhana itulah muncul simbol yang jauh lebih dalam, sebuah gambaran yang mengusik kesadaran moral kita.

Tikus dalam imajinasi sosial kita bukan sekadar binatang. Ia sering menjadi metafora bagi perilaku diam-diam, licik, mengambil tanpa hak, dan hidup dari kelengahan orang lain. Ketika simbol itu ditempatkan di ruang yang disebut “rumah Tuhan”, muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah ruang suci benar-benar bebas dari penyimpangan moral? Jawabannya, sebagaimana realitas kehidupan manusia, tidak selalu demikian.

Tempat suci dibangun oleh manusia, dikelola oleh manusia, dan dihuni oleh manusia yang tetap membawa kelemahan serta godaan duniawi. Karena itu, kehadiran “tikus”—baik dalam arti harfiah maupun simbolik—sebenarnya bukan sekadar persoalan kebersihan ruang, tetapi juga kebersihan nurani. Ia menjadi pengingat bahwa kesucian tempat tidak otomatis menjamin kesucian perilaku.

Di sinilah cerpen tersebut melampaui dirinya sendiri. Ia menjadi cermin sosial. Jika di ruang religius saja masih mungkin terjadi tindakan tidak etis, kelalaian, atau bahkan penyalahgunaan kepercayaan, maka bagaimana dengan ruang publik yang jauh lebih kompleks: birokrasi negara, lembaga politik, hingga pemerintahan di tingkat desa dan kelurahan?

Kita hidup di tengah realitas di mana praktik korupsi, manipulasi kekuasaan, dan penyalahgunaan jabatan seolah menjadi berita harian. Ironisnya, pelaku sering kali bukan orang asing bagi masyarakat, melainkan mereka yang sebelumnya dipercaya, dihormati, bahkan dianggap teladan.

Dalam konteks ini, “tikus” bukan lagi sekadar simbol sastra, tetapi metafora sosial yang terasa nyata. Korupsi pada dasarnya lahir dari mentalitas mengambil yang bukan haknya. Ia berawal dari pembenaran kecil: mengambil sedikit tidak apa-apa, memanfaatkan jabatan dianggap wajar, atau menganggap fasilitas publik sebagai milik pribadi. Seperti tikus yang menggigit perlahan, kerusakan itu sering tidak langsung terlihat. Namun lama-kelamaan, fondasi moral masyarakat menjadi rapuh.

Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat mulai terbiasa. Ketika pelanggaran dianggap normal, ketika integritas dipandang sebagai keluguan, dan ketika kejujuran justru terasa asing. Pada titik ini, persoalan bukan lagi individu yang menyimpang, melainkan budaya yang ikut membiarkan penyimpangan itu terus hidup.

Gereja maupun negara sebenarnya memiliki panggilan yang sama: menjaga martabat manusia dan memelihara keadilan. Gereja melalui nilai moral dan spiritualitas, negara melalui hukum dan tata kelola pemerintahan. Namun keduanya akan kehilangan wibawa apabila tidak mampu membersihkan “tikus-tikus” yang menggerogoti dari dalam.

Kritik terhadap realitas ini bukanlah serangan terhadap institusi, melainkan bentuk cinta terhadapnya. Sebab hanya dengan keberanian mengakui kelemahan, pembaruan dapat terjadi. Kesucian bukan berarti tanpa cela, melainkan keberanian untuk terus bertobat dan memperbaiki diri.

Masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Korupsi dan penyimpangan tidak tumbuh di ruang hampa; ia hidup karena ada toleransi sosial. Ketika publik diam, ketika kritik dianggap ancaman, atau ketika relasi kedekatan lebih penting daripada keadilan, maka “tikus-tikus” itu akan terus berkembang biak.

Cerita tentang tikus di rumah suci akhirnya mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: kejahatan tidak selalu datang dari luar, tetapi sering muncul dari kelalaian di dalam. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya pengawasan struktural, tetapi juga pembaruan moral—dimulai dari individu, komunitas, hingga lembaga negara.

Rumah Tuhan, seperti juga rumah bangsa, hanya akan tetap kokoh jika setiap penghuninya menjaga integritas. Sebab pada akhirnya, kesucian bukan ditentukan oleh bangunan atau simbol, melainkan oleh hati manusia yang memilih untuk jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Dan, mungkin pesan paling penting dari kisah itu adalah ini: sebelum mencari tikus di luar, kita perlu memastikan tidak ada tikus yang diam-diam kita pelihara dalam diri kita sendiri.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Daftar Panitia Paskah Nasional 2026 di Sulawesi Utara

23 Februari 2026

Jadwal Imsak dan Sholat Subuh Ramadan 1447 H di Tasikmalaya

23 Februari 2026

Tangis Fadllun di TPU Samarinda: Ramadan Tanpa Ayah

22 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Doa dan Salat di Hari Pertama Diterima Allah SWT

23 Februari 2026

4 Zodiak Ini Dikunjungi Keberuntungan Besar Mulai 19 Februari 2026

23 Februari 2026

Richard Lee Diperiksa sebagai Tersangka, Tidak Langsung Ditahan, Ini Alasannya

23 Februari 2026

Daftar Panitia Paskah Nasional 2026 di Sulawesi Utara

23 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?