Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Friday, 9 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Politik»Industri tekstil RI berharap untung dari pertemuan Prabowo–Trump
    Politik

    Industri tekstil RI berharap untung dari pertemuan Prabowo–Trump

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover21 February 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Peran Diplomasi Perdagangan dalam Meningkatkan Daya Saing Industri Tekstil

    Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia berharap besar terhadap hasil pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Salah satu harapan utama adalah penurunan tarif resiprokal yang dianggap menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar Amerika.

    Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menegaskan bahwa meskipun pasar Amerika Serikat sangat strategis, beban tarif membuat produk lokal kesulitan bersaing dengan negara lain yang memiliki perlakuan lebih kompetitif. Ketua Umum APSyFI, Redma Gita Wirawasta, menyatakan bahwa penurunan tarif resiprokal merupakan satu-satunya jalan agar industri pemintalan Indonesia kembali kompetitif di Negeri Paman Sam.

    “Kami berharap AS akan memberikan keringanan tarif agar ekspor kita ke AS bisa kembali bersaing. Meskipun hal itu sulit tanpa ada perbaikan di sisi industrinya,” kata Redma, Selasa (17/2/2026).

    Namun, realisasi penurunan tarif bukan tanpa tantangan. Amerika Serikat meminta Indonesia meningkatkan pembelian kapas dari Negeri Paman Sam sebagai syarat untuk menurunkan tarif dari sebelumnya 32% menjadi 19%. Permintaan ini menjadi dilema karena tingkat utilisasi industri pemintalan Indonesia saat ini masih di bawah 50%, sehingga kemampuan untuk menyerap kapas tambahan sangat terbatas.

    Data APSyFI mencatat bahwa sebelum pandemi Covid-19, total impor kapas Indonesia mencapai sekitar 600.000 ton per tahun, dengan setengahnya berasal dari AS. Namun, tren impor sejak 2022 terus menurun, dan pada 2025 total impor tercatat hanya sekitar 300.000 ton, dengan porsi dari AS tinggal 70.000 ton. Penurunan ini mencerminkan lesunya aktivitas produksi di sektor pemintalan dalam beberapa tahun terakhir.

    “Jadi selama utilisasi industri pemintalan berada di bawah 50%, kecil kemungkinan impor kapas kita dari AS bisa naik,” jelas Redma.

    Ancaman dari Produk Impor yang Diduga Melakukan Dumping

    Tekanan terhadap industri tidak hanya datang dari kapas, tetapi juga dari membanjirnya produk impor yang diduga dijual dengan praktik dumping, baik dalam bentuk kain maupun benang. Kondisi ini menekan pasar domestik dan menggerus permintaan terhadap produk lokal.

    “Utilisasi pemintalan tidak mungkin bisa naik selama barang-barang impor dumping masih membanjiri pasar domestik. Karena kebutuhan utama industri hanyalah pasar dan persaingannya yang fair,” tambah Redma.

    Ketergantungan pada Diplomasi Perdagangan

    Industri tekstil nasional kini bergantung pada kemampuan pemerintah dalam diplomasi perdagangan. Keberhasilan pertemuan Prabowo–Trump berpotensi membuka jalan bagi tarif lebih rendah dan akses pasar yang lebih kompetitif.

    APSyFI berharap upaya diplomasi tidak hanya fokus pada penurunan tarif, tetapi juga diiringi pembenahan di dalam negeri: perlindungan pasar yang memadai, persaingan usaha yang adil, dan dukungan terhadap peningkatan kapasitas produksi.

    Namun, seperti disoroti pengamat perdagangan, ketergantungan industri pada satu pasar — AS — juga membuat sektor ini rentan. Peneliti CSIS, Yoshe Rizal Damuri, menekankan pentingnya diversifikasi pasar agar industri tidak terhenti ketika terjadi perubahan kebijakan tarif atau regulasi di AS.

    “Pesaing kita tidak selalu lebih murah, tetapi mereka bisa diuntungkan oleh tarif preferensial dan aturan perdagangan yang jelas,” kata Yoshe.

    Keunggulan negara lain, seperti Vietnam, terletak pada akses pasar melalui perjanjian dagang bebas yang memberikan tarif lebih kompetitif, sementara Indonesia masih menghadapi tarif yang tinggi, sehingga daya saingnya relatif tertinggal.

    Tantangan pada Industri Alas Kaki

    Fenomena serupa juga terjadi pada industri alas kaki. Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan porsi sekitar 40% dari total ekspor, dan kenaikan tarif resiprokal mengancam daya saing produk Indonesia.

    Ketua Bidang Perdagangan & Perundingan Internasional Aprisindo, Devi Kusumaningtyas, menyebut tarif masuk untuk alas kaki Indonesia ke AS sudah sangat tinggi, yakni 7%-35%, dan bertambah 19% akibat tarif resiprokal.

    “Dengan tambahan tarif tersebut, total bea masuk bisa melonjak tajam dan membebani struktur biaya produsen,” ujarnya.

    Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan negosiasi tarif tidak hanya penting bagi tekstil, tetapi juga bagi sektor manufaktur lain yang tergantung pada pasar AS.

    Pentingnya Kepercayaan Investor

    Kalangan dunia usaha menilai kepastian kebijakan menjadi faktor utama untuk memulihkan kepercayaan investor. Wakil Ketua Umum Apindo, Sanny Iskandar, menekankan pentingnya komunikasi aktif antara pemerintah dan pelaku usaha. Forum dialog, termasuk pertemuan langsung dengan Presiden, memberi ruang bagi dunia usaha untuk menyampaikan hambatan sekaligus menawarkan solusi.

    “Kita juga sampaikan hambatan di lapangan namun juga memberikan solusinya,” ujar Sanny.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

    31 August 2026

    Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?