Kasus TPPO yang Menimpa 14 Perempuan Asal Jawa Barat dan Jakarta
Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kembali terungkap, kali ini menimpa 13 perempuan asal Jawa Barat dan satu orang dari Jakarta. Mereka dieksploitasi di sebuah pub di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah tergiur janji gaji besar. Para korban mengalami berbagai bentuk pelecehan, pemaksaan kerja, upah rendah, serta pembatasan komunikasi. Akhirnya, mereka berhasil diselamatkan dan kini dalam kondisi baik.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi segera merespons kasus ini dengan memulangkan para korban dan mendesak proses hukum tegas terhadap jaringan perdagangan orang yang terlibat. Ia juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap tawaran kerja yang terlalu bagus untuk dipercaya.
Kondisi Korban dan Proses Pemulangan
Para korban kini sedang dalam perjalanan pulang ke daerah asal masing-masing. Gubernur Dedi Mulyadi menyatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dengan Suster Ika yang membantu proses penyelamatan di Sikka. Ia juga mengklaim telah berbicara langsung dengan para korban untuk memastikan kondisi mereka saat ini.
“Ada 13 perempuan asal Jawa Barat dan 1 orang asal Jakarta yang hari ini diselamatkan. Mereka dalam keadaan baik,” ujar Dedi melalui akun Instagram pribadinya.
Dedi menjelaskan bahwa para korban terjebak oleh bujuk raya pelaku yang menjanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi. Namun, setibanya di lokasi, mereka justru mengalami pelecehan seksual, pemaksaan kerja, upah rendah, dan denda jika menolak perintah pengelola tempat hiburan malam di Sikka.
Proses pemulangan seluruh korban sedang disiapkan dan akan dilakukan dalam pekan ini. Selain itu, Pemprov Jabar juga mendorong agar proses hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam praktik perdagangan orang tersebut diadili sesuai aturan yang berlaku. Dedi menegaskan bahwa pihak yang diduga terlibat harus segera ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.
Pengalaman Pilu Seorang Pesepak Bola Muda
Selain kasus 14 perempuan tersebut, ada kisah pilu seorang pesepak bola muda bernama Rizki Nur Fadhilah. Remaja berusia 18 tahun ini menjadi korban TPPO setelah dibawa ke Kamboja. Awalnya, Rizki dijanjikan kontrak satu tahun di sebuah sekolah sepak bola di Medan. Namun, ternyata ia justru terjebak dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan.
Setibanya di Kamboja, Rizki mengalami penyiksaan berat hingga memohon pertolongan kepada keluarganya di Indonesia. Ia bahkan diperlakukan seperti budak, diminta memenuhi target pekerjaan setiap hari. Jika gagal, Rizki disuruh push up dan mengangkut galon bolak-balik ke lantai 10.

Curhatan Rizki selama di Kamboja membuat sang ayah, Dedi Solehudin, sangat khawatir. Dedi mengungkapkan bahwa putranya bahkan sempat diiming-imingi iPhone selama perjalanan sebagai bagian dari iming-iming perekrutan tersebut. Namun, nyatanya, Rizki tidak benar-benar dibawa ke Medan, melainkan diputar-putar ke beberapa daerah sebelum akhirnya dibawa ke Kamboja.
Dedi berharap putra kesayangannya bisa kembali pulang ke tanah air dalam kondisi sehat. Ia juga meminta bantuan kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk membantu proses pemulangan Rizki.
Peringatan untuk Warga Jawa Barat
Dedi Mulyadi mengingatkan warga Jawa Barat agar tidak mudah tergiur tawaran kerja dengan iming-iming gaji besar. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap modus penipuan yang sering digunakan oleh pelaku TPPO.
Dalam kasus-kasus seperti ini, penting bagi masyarakat untuk lebih hati-hati dan mencari informasi yang jelas sebelum memutuskan untuk bekerja di luar daerah. Dengan kesadaran yang tinggi, masyarakat dapat mencegah diri dari tindakan yang merugikan dan berpotensi membahayakan kehidupan mereka.



