Sejarah Kelam Dunia Mode Indonesia: Pembunuhan Ditje Budiarsih
Pada 8 September 1986, dunia mode Indonesia dikejutkan oleh kabar duka yang tak terduga. Ditje Budiarsih, seorang peragawati ternama asal Bandung, ditemukan tewas di Jalan Dupa, Kalibata, Jakarta Selatan. Kematian ini menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah dunia mode Tanah Air dan masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga kini.
Sosok Ditje Budiarsih: Ikon Kecantikan dan Gaya Hidup Elite
Ditje Budiarsih, yang juga dikenal dengan nama Dietje Budimulyono, adalah peragawati papan atas pada masanya. Ia dikenal sebagai simbol kecantikan, kemewahan, serta kedekatan dengan lingkaran kekuasaan. Parasnya bahkan sering dibandingkan dengan figur legendaris Ken Dedes. Meskipun suaminya, Budi Mulyono, mengalami kelumpuhan, kehidupan materi Ditje terbilang mapan. Ia memiliki dua mobil dan sebuah rumah mewah, mencerminkan status sosial yang tinggi di tengah masyarakat kala itu.
Ditemukan Tewas di Dalam Mobil, Mesin Masih Menyala
Kematiannya terjadi pada malam hari, sekitar pukul 22.00 WIB. Ditje ditemukan tidak bernyawa di dalam mobil Honda Accord bernomor polisi B 1911 ZW. Kondisi di lokasi membuat banyak orang terkejut. Mesin mobil masih menyala, sementara tubuh Ditje terbujur kaku di dalamnya. Di tubuhnya ditemukan lima luka tembak di beberapa bagian vital. Namun, keanehan langsung terungkap karena tidak ditemukan bekas tembakan di dalam mobil, sebuah fakta yang menyulitkan proses penyelidikan sejak awal.
Penyelidikan Polisi yang Jalan di Tempat
Markas Besar Kepolisian segera memerintahkan Laboratorium Forensik Polri untuk meneliti barang bukti berupa anak peluru, rambut, dan sidik jari yang ditemukan di lokasi kejadian. Saat itu, Kapolri Moch Sanoesi menegaskan bahwa siapa pun yang terlibat akan dibawa ke pengadilan. Sementara Kapolda Metro Jaya Poedy Sjamsoedin memberikan kepercayaan penuh kepada Polres Jakarta Selatan untuk menangani kasus tersebut. Namun waktu berjalan, dan hasil tak kunjung terlihat. Dua bulan berlalu tanpa kemajuan berarti.
Pak De Muncul sebagai Tersangka Utama
Tiga bulan setelah kematian Ditje, publik kembali dikejutkan. Polisi mengumumkan telah menangkap seorang tersangka berinisial SRJ, pria berusia 59 tahun yang dikenal sebagai dukun. Belakangan terungkap bahwa sosok tersebut adalah Muhammad Siradjudin, mantan pembantu letnan satu di Kesatuan TNI, yang dikenal dengan julukan Pak De. Menurut versi kepolisian, motif pembunuhan berkaitan dengan uang. Pak De disebut berjanji melipatgandakan uang Rp10 juta milik Ditje. Ketika janji itu tak terpenuhi, ia diduga memilih menghabisi nyawa korban.
Vonis Seumur Hidup yang Terus Dibantah
Dalam setiap tahap persidangan hingga dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, Pak De secara konsisten membantah keterlibatannya. Ia mengaku berada di kawasan Pasar Rebo saat peristiwa terjadi, jauh dari lokasi kejadian. Sejumlah kejanggalan dalam bukti dan rekonstruksi memperkuat dugaan bahwa penetapan dirinya sebagai pelaku dilakukan secara dipaksakan. Pak De juga mengklaim menerima skenario buatan penyidik demi menghindari perlakuan kasar. Akhirnya, vonis seumur hidup itu berujung pembebasan pada masa pemerintahan Presiden B. J. Habibie.
Desas-desus Hubungan Gelap dan Nama-Nama Besar
Misteri kematian Ditje semakin rumit oleh berbagai rumor yang beredar. Dalam penuturan Pak De yang dimuat Koran Tempo pada 27 Februari 2002, disebutkan bahwa Ditje kerap menjalin hubungan dengan sejumlah pria berpengaruh. Nama-nama besar pun mencuat, termasuk pensiunan KSAU Suwoto Sukendar, pengusaha Indra Rukmana, serta Sudwikatmono. Desas-desus bahkan menyebut Ditje menjadi korban kemarahan istri salah satu kekasihnya yang diduga menyewa pembunuh bayaran. Namun, tidak pernah ada nama yang secara tegas dituding sebagai pelaku sebenarnya.
Peninjauan Kembali dan Misteri yang Tak Pernah Usai
Setelah bebas, Pak De mengajukan peninjauan kembali atas kasus yang menurutnya tidak pernah ia lakukan. Langkah itu diambil demi membersihkan namanya dari tuduhan yang membekas selama puluhan tahun. Hingga kini, kasus pembunuhan Ditje Budiarsih tetap menjadi teka-teki besar. Banyak pihak meyakini bahwa pengungkapan kebenaran sengaja diperlambat, bahkan “dipermainkan”, karena diduga menyentuh lingkaran elite militer dan keluarga penguasa Orde Baru.
Sebuah kisah kelam yang tertutup rapat oleh waktu, kekuasaan, dan rahasia yang mungkin tak akan pernah sepenuhnya terungkap.



