Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 22 Februari 2026
Trending
  • Rezeki mengalir untuk 7 zodiak ini sepanjang 2026, siapkan diri!
  • Prediksi Skor Olympiacos vs Bayer Leverkusen 19 Februari 2026: Head-to-Head & Live Streaming
  • Rully Akbar Bebas Berkomentar Usai Dikritik Warganet
  • Termul Rayu Dokter Tifa Datang ke Rumah Jokowi
  • Keajaiban Datang! 4 Zodiak Ini Dapat Kabar Baik dan Peluang Emas Mulai 19 Februari 2026
  • Toyota Vios 2019: Harga Menarik untuk Mobil Bekas
  • Jadwal dan harga tiket bus AKAP Bali ke Jawa Rabu (18/2), cek sekarang!
  • Doa Kamilin Lengkap: Arab, Latin, dan Terjemahan, Bacaan Setelah Tarawih Sebelum Witir
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Tanpa Aceh, Rencana Ekonomi Syariah Hanya Cetak Biru?
Ekonomi

Tanpa Aceh, Rencana Ekonomi Syariah Hanya Cetak Biru?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover22 Februari 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Blueprint Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Syariah 2030

Blueprint Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Syariah 2030 (BP Eksyar 2030) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia pada tahun 2023 bukan sekadar dokumen kebijakan. Ia adalah arsitektur ambisi nasional—enam bab dalam lebih dari 300 halaman—yang merancang ekonomi dan keuangan syariah sebagai fondasi transformasi Indonesia hingga 2030.

Dalam blueprint tersebut terdapat evaluasi capaian, peta tantangan, penguatan halal value chain, pendalaman dan integrasi keuangan syariah, optimalisasi zakat dan wakaf, akselerasi digitalisasi, serta target kuantitatif menuju 2029. Blueprint itu ibarat rancangan kota masa depan: jalur digambar, simpul ditentukan, angka dihitung. Indonesia menargetkan posisi pertama Global Islamic Economy (GIE) pada 2029—sebuah lompatan yang berani.

Namun sejarah menunjukkan bahwa rancangan tidak pernah cukup. Blueprint hanya hidup ketika ada wilayah yang menjadikannya nyata. Tanpa pusat gravitasi, visi akan melayang; tanpa pembuktian, ambisi tinggal dokumen. Dalam peta besar itu, Aceh seharusnya menjadi pusat gravitasinya.

Aceh: Pusat Gravitasi Ekonomi Syariah

Dari Aceh untuk Indonesia, karena kilometer Nol Indonesia mulai dari Aceh. Jika Aceh gagal membuktikannya, blueprint ini berisiko berubah menjadi proyek simbolik—kuat dalam wacana, rapuh dalam struktur. Dan posisi Aceh pun tergugat!

Indonesia tidak kekurangan capaian. Peringkat ketiga GIE Indicator 2025 menegaskan reputasi yang diperhitungkan. Aktivitas Usaha Syariah menyumbang sekitar 46,49 persen terhadap PDB—hampir separuh denyut ekonomi bersentuhan dengan ekosistem syariah, dari industri halal hingga jasa keuangan.

Ekosistem halal tumbuh rata-rata 2,74 persen dalam lima tahun terakhir, sementara pariwisata ramah Muslim meningkat 8,20 persen pada Triwulan II 2025. Produk bersertifikat halal mencapai 2,17 juta. Di sektor keuangan, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 11,95 persen per tahun, dengan porsi produktif mendekati 46,67 persen. Aset keuangan syariah setara 42,67 persen terhadap PDB, dan transaksi digital Bank Umum Syariah melampaui Rp69 triliun.

Fondasi telah terbentuk, tetapi dominasi belum terwujud. Pangsa pasar keuangan syariah masih 11,47 persen dari total aset nasional; literasi 9,14 persen dan inklusi 12,12 persen. Kontribusi Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya (ZIS-DSKL) terhadap PDB baru 0,155 persen, sementara wakaf uang 0,011 persen. Ekonomi syariah tumbuh, tetapi belum memimpin—hadir dalam sistem, belum menjadi arus utama. Di titik inilah ambisi nasional benar-benar diuji.

Target atau Taruhan?

Blueprint menetapkan target ambisius yang harus tercapai paling lambat 2029, yaitu:
* Kontribusi PDB syariah 56,11 persen
* Aset keuangan syariah 51,42 persen terhadap PDB
* Tujuh juta produk halal
* Ekspor halal 3,92 persen terhadap PDB
* ZIS-DSKL 0,208 persen, dan
* Wakaf uang 0,027 persen.

Ini bukan sekadar kenaikan angka, melainkan reposisi struktur ekonomi nasional—menggeser ekonomi Islam dari sektor pelengkap menjadi sistem dominan. Taruhannya adalah reputasi. Jika tercapai, Indonesia menjadi referensi global; jika gagal, blueprint akan tercatat sebagai ambisi yang rapi tetapi tak terwujud. Dan kegagalan itu tidak akan dibaca sebagai persoalan teknis, melainkan bukti bahwa ekonomi syariah Indonesia masih berhenti pada retorika, belum menjelma menjadi struktur.

Tantangan: Struktur yang Rapuh

Tantangan Indonesia bukan pada arah kebijakan, melainkan pada kedalaman transformasi. Penetrasi pasar syariah masih terbatas. Literasi belum merata. Keuangan sosial belum sepenuhnya menjadi instrumen produktif. Ekspor halal belum terintegrasi secara kuat dengan industrialisasi bernilai tambah.

Ekonomi syariah tumbuh berdampingan dengan sistem konvensional yang tetap dominan. Blueprint telah memberi arah, tetapi arah tanpa lokomotif tidak akan membawa perubahan nyata. Jika tidak ada satu wilayah yang membuktikan bahwa ekonomi syariah mampu menjadi sistem yang efektif dan produktif, kritik akan mengeras—bahwa ini sekadar proyek kebijakan, bukan proyek peradaban.

Aceh di Persimpangan

Aceh memiliki konfigurasi yang tidak dimiliki wilayah lain: Qanun LKS mewajibkan sistem perbankan syariah dan mengakhiri dualisme, Baitul Mal Aceh mengelola zakat serta harta keagamaan secara resmi, MPU memberi legitimasi normatif yang kuat, dan konversi Bank Aceh menjadi Bank Aceh Syariah (beroperasi penuh 19 September 2016) bahkan mendorong pangsa pasar perbankan syariah nasional menembus batas psikologis 5 persen (sekitar 5,12 persen –5,34 persen ) setelah hampir satu dekade tertahan di bawah angka tersebut sejak 2008.

Secara riil, ekonomi Aceh tumbuh 4,66 persen pada 2024 dan stabil pada 2025. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang lebih dari 30 persen PDRB; Kopi Gayo menembus pasar global; IPM mencapai sekitar 76. Dominasi sistem syariah, kelembagaan sosial formal, dan basis sektor riil yang kuat menjadikan Aceh laboratorium paling siap bagi implementasi blueprint—tanpa tandingan kombinasi regulasi dan legitimasi serupa di provinsi lain.

Karena itu, jika Aceh gagal, ia tidak akan dibaca sebagai kegagalan daerah, melainkan kegagalan nasional dalam membuktikan bahwa ekonomi Islam mampu menjadi sistem modern yang produktif.

Syariah Bukan Sekadar Nama, Tetapi Daya

Pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah sistem itu telah menjadi daya? Kemiskinan Aceh masih di atas rata-rata nasional. Struktur ekonomi bertumpu pada sektor primer dengan nilai tambah terbatas. Industri pengolahan belum menjadi motor utama pertumbuhan. Jika pembiayaan syariah tetap dominan konsumtif, ia tidak akan mengubah struktur.

Jika wakaf tidak produktif, ia hanya menjadi simbol kesalehan. Jika industri halal tidak terhubung dengan pasar ekspor global, ia hanya menjadi identitas lokal. Dalam situasi seperti itu, Aceh tidak akan menjadi pusat gravitasi. Ia akan menjadi simbol yang kuat secara regulasi, tetapi lemah secara produktivitas.

Sekarang atau Tidak Pernah

Blueprint Eksyar 2030 adalah momentum generasional. Dunia tidak menilai tebalnya dokumen, melainkan dalamnya transformasi. Aceh memiliki legitimasi, sistem, dan modal institusional paling lengkap—tetapi sejarah tidak mencatat potensi, ia mencatat keberanian. Jika Aceh berhasil, perdebatan tentang apakah ekonomi syariah sekadar narasi atau benar-benar sistem akan selesai dengan sendirinya—dunia akan melihat buktinya.

Sebaliknya, jika Aceh gagal, blueprint hanya akan menjadi cetak biru yang indah: dikutip di seminar, tetapi tak pernah mengubah struktur. Kritik akan mengeras—bahwa ekonomi syariah Indonesia kuat dalam regulasi, lemah dalam transformasi; kuat dalam simbol, rapuh dalam daya saing.

Momentum tidak datang dua kali. Jika kesempatan ini terlewat, bukan hanya Aceh yang kehilangan peluang—Indonesia kehilangan kredibilitasnya di panggung ekonomi Islam dunia. Sejarah tidak pernah kejam, tetapi ia selalu jujur: ia akan mencatat apakah Aceh menjadi pusat gravitasi yang menggerakkan bangsa, atau sekadar catatan kaki dari ambisi yang tak pernah terwujud.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Cara Mengelola Emosi Saat Berpuasa Agar Tidak Salah Putuskan

22 Februari 2026

7 Perbedaan MSCI dan FTSE yang Harus Diketahui Investor

21 Februari 2026

Wall Street turun pasca libur panjang, saham teknologi terpuruk

21 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Rezeki mengalir untuk 7 zodiak ini sepanjang 2026, siapkan diri!

22 Februari 2026

Prediksi Skor Olympiacos vs Bayer Leverkusen 19 Februari 2026: Head-to-Head & Live Streaming

22 Februari 2026

Rully Akbar Bebas Berkomentar Usai Dikritik Warganet

22 Februari 2026

Termul Rayu Dokter Tifa Datang ke Rumah Jokowi

22 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?