Kerja Sama Internasional dalam Pengembangan Jet Tempur KAAN
Jet tempur generasi kelima, KAAN yang dikembangkan oleh Turki, kini menarik perhatian negara-negara Muslim di seluruh dunia. Setelah Indonesia dan Pakistan, Arab Saudi juga menyatakan keinginan untuk mengembangkan bersama jet tersebut. Ini menjadi langkah penting bagi negara-negara Muslim dalam membangun alutsista mandiri setelah sekian lama bergantung pada teknologi militer Barat.
Ankit K, asisten profesor di School of International Cooperation, Security and Strategic Languages (SICSSL), menulis di Modern Diplomacy bahwa selama beberapa dekade, negara-negara Islam telah berupaya untuk menyatukan kekuatan. Meskipun hanya sedikit kemajuan yang dicapai dalam menciptakan blok negara yang efektif, jet tempur KAAN tampaknya membawa dorongan baru untuk menyatukan negara-negara tersebut.
Meskipun kerja sama militer di dunia Islam tidak akan menimbulkan tantangan langsung bagi Barat dalam jangka pendek, hal ini menimbulkan ancaman nyata bagi Israel. Negara Zionis itu mulai khawatir bahwa jet KAAN dapat digunakan dalam operasi militer membebaskan Palestina.
Sejauh ini, hanya negara-negara Muslim yang menunjukkan agenda bersama terkait pengembangan KAAN. Pada Kamis pekan lalu, Ankara dan Riyadh mulai membicarakan investasi bersama dalam pengembangan KAAN, menurut laporan di Daily Sabah. Laporan tersebut muncul setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, memimpin delegasi tingkat tinggi ke Arab Saudi untuk melakukan pertemuan. Pemimpin Turki kemudian pergi ke Mesir selepas pertemuan itu.
“Turki dan Arab Saudi akan meningkatkan kerja sama mereka dalam industri pertahanan,” kata Erdogan saat penerbangan pulang dari Kairo. Ia juga menyatakan bahwa jet tempur siluman buatan negaranya, KAAN, mendapat pujian dan mungkin ada kemitraan dengan Riyadh di bidang ini.

Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima cenderamata helm pilot jet tempur KAAN di kompleks Aselsan, Ankara, Turki, Jumat (9/1/2026). – (Biro Infohan Kemenhan)
“KAAN bukan sekadar jet tempur. KAAN adalah simbol kemampuan teknik dan kemauan pertahanan independen Turki,” tambah Erdogan. Selama beberapa dekade terakhir, negaranya telah memodernisasi angkatan bersenjatanya dan membangun industri pertahanan dalam negeri yang besar. Misalnya, mereka telah banyak berinvestasi pada drone.
Selama ini, Riyadh sangat bergantung pada AS dan Barat untuk pengadaan pertahanan. Arab Saudi juga menginginkan F-35, dan pemerintahan Trump tampaknya tertarik untuk mencapai kesepakatan. Namun, pihak AS telah menyatakan bahwa spesifikasi F-35 yang dijual ke Saudi secara teknis tak akan lebih canggih dari yang dijual ke Israel. Israel belakangan juga mulai melakukan lobi ke Washington untuk membatasi bahkan menghalangi penjualan F-35 ke Saudi.
Kemampuan Teknologi dan Potensi Pasar
Dikembangkan oleh Turkish Aerospace Industry (TAI), KAAN dengan mesin mandiri diproyeksikan akan melakukan penerbangan perdananya tahun ini. Meskipun jet Kaan awalnya untuk menggantikan armada F-16 Turki yang sudah tua, pesawat tersebut tampaknya akan menantang jet tempur andalan Amerika lainnya, F-35, karena kemampuan siluman dan serangan jarak jauh Kaan.
Dengan integrasi teknologi baru seperti AI maupun dengan metrik kinerja yang lebih canggih, Kaan juga dapat mencapai kecepatan Mach 1,8, yang lebih cepat dari kecepatan tertinggi F-35 yang mencapai Mach 1,6. Artinya, KAAN mungkin dapat muncul tidak hanya sebagai pesaing yang layak bagi jet buatan Amerika tetapi juga sebagai alternatif yang lebih unggul.

Jet tempur KAAN buatan Turki. – (Turkish Aerospace)
Potensi ekonomi dalam memproduksi jet tempur yang mampu menyaingi produk terbaik yang ditawarkan AS langsung dilirik negara lain. Pada pameran pertahanan IDEX 2025 di Abu Dhabi, CEO TAI mengumumkan bahwa pembicaraan sedang berlangsung antara negaranya dan Uni Emirat Arab mengenai produksi bersama dan kolaborasi pesawat tersebut.
Pada Juni 2025, Indonesia telah menandatangani kesepakatan untuk membeli 48 jet tempur KAAN dalam perjanjian senilai 15 miliar dolar AS (sekitar Rp 251,8 triliun). Kesepakatan 10 tahun tersebut mencakup produksi bersama komponen-komponen Kaan tertentu di Indonesia. Pihak Indonesia meminta mesin bebas ITAR, yang berarti mesin sepenuhnya buatan dalam negeri tanpa batasan ekspor.
Negara-negara lain, termasuk Qatar dan Azerbaijan, juga telah menyatakan minat untuk mengakuisisi pesawat tersebut. Pada Januari lalu, Pakistan juga mengumumkan bahwa mereka akan membantu produksi pesawat KAAN melalui pendirian pabrik bersama. Hal ini diumumkan setelah pertemuan kelompok kerja gabungan ke-8 di Pameran Industri Pak-Turki pada awal tahun.
Ini adalah kerja sama yang saling menguntungkan yang akan membuat Turki mendapatkan keuntungan dari biaya produksi yang lebih murah dan Pakistan mendapatkan keuntungan dari akses terhadap teknologi yang lebih besar dibandingkan yang bisa mereka peroleh.
Progres Pengujian dan Pengembangan Mesin
CEO Turkish Aerospace Industries (TAI/TUSAS) Mehmet Demiroglu menjelaskan tentang pentingnya proyek KAAN dalam saluran Youtube SAHA Istanbul. Demiroglu menyatakan, prototipe uji pertama KAAN dalam konfigurasi sebenarnya, yang disebut P1, direncanakan melakukan penerbangan perdananya pada akhir April, Mei, atau paling lambat Juni 2026.
Dia menekankan, jet tempur generasi 5 itu mewakili titik balik strategis bagi Turki. “Kami memproduksi total tiga prototipe. P0 adalah pesawat uji teknik dan telah melakukan dua penerbangan. Sekarang, dengan P1, kami memulai uji penerbangan dalam konfigurasi sebenarnya. Pesawat kami akan terbang pada akhir April, Mei, atau paling lambat Juni,” ucap Demiroglu dikutip dari Aerohaber.
Dia menjelaskan, aktivitas pengujian KAAN berjalan secara paralel. Menurut Demiroglu, prototipe P2 akan melakukan penerbangan pertama pada akhir 2026 dan prototipe P3 dijadwalkan pada akhir 2026 atau awal 2027.
Dia menggarisbawahi, setiap prototipe menjalani setidaknya dua sampai tiga bulan pengujian darat intensif sebelum penerbangan. Demiroglu menekankan, tidak ada penerbangan yang dilakukan sebelum validasi sistem selesai.
Demiroglu mencatat, mesin F110, yang juga digunakan pada jet F-16, akan diutamakan untuk penerbangan uji Blok 10 KAAN. Dia menambahkan, permintaan Turki kepada Kongres Amerika Serikat (AS) untuk 80 mesin untuk produksi serial belum disetujui.
Demiroglu menyatakan, pengujian akan terus dilakukan menggunakan 10 mesin F110 yang dipasok dari AS. Dia pun menyebut, tujuan jangka panjangnya adalah mesin turbofan TF35000 buatan dalam negeri yang sedang dikembangkan oleh TEI, digunakan untuk KAAN.
Menurut Demiroglu, teknologi mesin adalah salah satu bidang yang paling menantang dalam industri pertahanan. Dia merangkum peta jalan untuk TF35000 yang dikembangkan.
“Untuk TF35000, proses pengujian dan produksi akan dimulai pada tahun 2031. Tujuan kami adalah menyelesaikan mesin pada tahun 2032 dan menyelesaikan sebagian besar integrasi pada tahun yang sama,” kata Demiroglu.
Fakta bahwa Demiroglu adalah seorang insinyur mekanik yang sebelumnya bekerja di BMC Power dan TEI membuat penilaiannya tentang pengembangan mesin menjadi lebih penting. Demiroglu menjelaskan, mesin TF35000 direncanakan akan digunakan pada versi KAAN yang akan diekspor ke Indonesia.
Dia membagikan detail proyek penjualan 48 unit jet KAAN ke Indonesia. Di antaranya, total nilai proyek 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 251,8 triliun. Demiroglu mengungkapkan, fase pertama kontrak ditandatangani di IDEF, Istanbul pada pertengahan 2025 dan fase kedua diteken pada 2026.
Demiroglu menerangkan, pihak Indonesia meminta mesin bebas ITAR, yang berarti mesin sepenuhnya buatan dalam negeri tanpa batasan ekspor. Dia mencatat bahwa pekerjaan terus berlanjut sesuai dengan persyaratan.
“Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa proyek KAAN telah memasuki fase kritis dalam hal pengujian penerbangan, pengembangan mesin, dan potensi ekspor. Penerbangan prototipe konfigurasi nyata pertama dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting dalam tujuan Turki untuk mengembangkan pesawat tempur generasi ke-5,” jelas Demiroglu.



