Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Tuesday, 13 October 2026
Trending
  • ISPA tembus 196.547 kasus, udara Medan tak sehat, lansia & balita terdampak
  • 7 alasan mengapa orang-orang pintar kerap memiliki ide-ide bodoh menurut psikologi
  • 7 langkah untuk mengetahui apakah hubunganmu harus berakhir menurut psikologi
  • Soroti putusan banding kasus Andrie Yunus, Koalisi sipil minta MK segera putus uji materi UU TNI
  • 7 alasan seseorang ingin mengubah pasangan ke arah yang lebih baik menurut psikologi
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Prabowonomics, Diplomasi, dan Solusi Indonesia Hadapi Krisis Global
Politik

Prabowonomics, Diplomasi, dan Solusi Indonesia Hadapi Krisis Global

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 February 2026No Comments5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Presiden Prabowo di Forum Ekonomi Global



Presiden Prabowo menjadi pusat perhatian saat menyampaikan pidato kuncinya dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026. Forum tersebut merupakan pertemuan tahunan yang sangat bergengsi karena dihadiri oleh banyak kepala negara, akademisi andal, CEO perusahaan global, hingga aktivis untuk membahas tantangan global paling mendesak.

Dalam pidatonya yang berlangsung sekitar 40 menit, Presiden Prabowo menyampaikan lima poin utama: stabilitas ekonomi, investasi Sumber Daya Manusia (SDM), penegakan hukum, ketahanan pangan, dan prinsip diplomasi Indonesia. Ia memulai dengan menjelaskan posisi Indonesia sebagai titik terang ekonomi di tengah krisis global. Argumentasinya adalah pertumbuhan Indonesia dalam satu dekade terakhir stabil, rata-rata 5 persen per tahun. Tidak hanya itu, inflasi selalu terjaga di angka 2 persen dan defisit anggaran di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Presiden Prabowo, kestabilan ini terjaga karena kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Hal ini didorong oleh komitmen Indonesia dalam membayar utang luar negeri secara tepat waktu. Selain itu, komitmen luar negeri yang selalu dilanjutkan dari pemerintahan sebelumnya menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan global.

Prabowonomics



Pengetahuan dan pemahaman ekonomi Presiden Prabowo berasal dari pengalaman hidupnya. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga yang sehari-harinya bicara soal ekonomi. Margono Djojohadikusumo (kakeknya) dan Soemitro Djojohadikoesoemo (ayahnya) adalah dua bengawan ekonomi yang namanya masyur dalam sejarah Indonesia. Pembicaraan tentang ekonomi yang relevan dengan kesejahteraan rakyat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Prabowo, sehingga akar pemahamannya tidak hanya pada teori, tetapi juga praksis.

Setidaknya ada tiga persamaan antara paradigma ekonomi Soemitro dan Prabowo, yaitu nasionalisme ekonomi dalam wujud kedaulatan negara, penekanan terhadap disiplin fiskal, dan mengarusutamakan penerapan pasal 33 UUD 1945 di mana negara berfungsi sebagai bumper dalam melawan keserakahan. Meski demikian, Presiden Prabowo memiliki diversifikasi dalam relevansinya terhadap ekonomi modern Indonesia dalam menghadapi tantangan global.

Penekanan Soemitro berfokus pada masalah struktural—yang kebetulan saat itu Indonesia masih dalam proses membangun ekonomi pascakemerdekaan—dengan dukungan kebijakannya terhadap pengusaha lokal melalui Program Benteng tahun 1957. Presiden Prabowo kemudian mengelaborasikan pemikiran ekonominya dengan Soemitro dalam mencapai kesejahteraan melalui program-program yang bisa diakses dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kebijakan Ekonomi yang Berorientasi Ketahanan



Kebijakan ekonomi Presiden Prabowo—yang menekankan stabilitas dan ketahanan domestik—menjadi salah satu hal prioritas, melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), koperasi desa, pembangunan 1.000 kampung nelayan, cek kesehatan gratis, hingga pendirian sekolah rakyat. Ada pun ketahanan dalam paradigma ekonomi Prabowo adalah pentingnya mencapai persatuan nasional dalam memastikan kestabilan tetap terjaga.

Secara kontekstual, apa yang disampaikan oleh Presiden Prabowo di Davos tidak hanya menekankan aspek-aspek yang berkaitan dengan ekonomi, kesejahteraan, dan program-program sosial negara. Lebih jauh, ia juga memberikan penekanan khusus terhadap ketahanan ekonomi yang sifatnya bottom up, dengan memperkuat elemen masyarakat kelas bawah agar siap menghadapi badai ekonomi global.

Pada bagian ini, bila harus mendeskripsikannya menjadi satu kata, pikiran Prabowo dalam forum tersebut paling sesuai disebut sebagai Prabowonomics. Konsep Prabowonomics ini bukan konsep tunggal yang bicara ekonomi semata, melainkan secara komprehensif dielaborasikan dengan ketahanan negara melalui militer, disiplin fiskal, dan kepedulian sosial.

Jalan Keluar Menuju Kemandirian Ekonomi



Diterbitkannya Perpres Nomor 5 Tahun 2025 tentang pembentukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan Satgas (PKH)—yang telah menertibkan sekitar 4 juta hektare lahan yang tidak tertib administrasi, pajak, dan letaknya berada dalam kawasan hutan—adalah langkah taktis kebijakan negara dalam melawan model ekonomi keserakahan. Asumsi penyelamatan terhadap kerugian negara dan memberi pemasukan bagi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) melalui denda dan pajak setidaknya memiliki proyeksi sekitar Rp150 triliun hingga Rp200 triliun, di mana dana tersebut pada akhirnya bisa dialokasikan untuk menjalankan program-program prioritas pemerintah yang selama ini tertulis dalam visi Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran.

Prospeknya tentu erat kaitannya dengan kedaulatan dan kemandirian Indonesia dalam mengelola SDA—yang tidak hanya terputus pada ekspor bahan mentah, tetapi juga pada hilirisasi produk melalui bahan jadi. Ini pula yang menjadi alasan Presiden Prabowo, dalam pidatonya, bicara soal pendirian Danantara dengan penyertaan modal sebesar USD 1 Triliun di mana keberadaan Danantara diharapkan menjadi lembaga negara yang bisa mengelola kekayaan secara terbuka dan profesional.

Tujuannya agar Indonesia memiliki daya tawar di dunia Internasional dan bisa setara dengan kekuatan ekonomi negara-negara adidaya di dunia. Pada upaya mensukseskan kebijakan ini, Presiden Prabowo menekankan elemen yang tak kalah penting berkaitan dengan penegakan hukum yang adil dan profesionalisme.

Pendekatan Hukum yang Agresif



Pada akhirnya, Presiden Prabowo mengadopsi pendekatan hukum yang sifatnya agresif dengan menyasar semua lini, baik pemerintahan dan swasta, dalam memaksimalkan penerimaan negara. Bila di lini pemerintahan ia menerapkan kebijakan efisiensi penggunaan anggaran dari pemerintahan pusat hingga pemerintahan daerah, dalam menyasar lini swasta ia menyita segala aset ilegal dan mengembalikannya kepada negara.

Untuk memastikan lancarnya kebijakan perang melawan keserakahan ekonomi ini, Prabowo kemudian memastikan posisi Tentara Nasional Indonesia (TNI), Institusi Kepolisian, dan Kejaksaan Agung bekerja secara tegas serta tidak pandang bulu. Alasannya, ada banyak perusahaan yang selama puluhan tahun sudah inkrah secara hukum, tapi tidak bisa dieksekusi negara karena berbagai kendala eksternal lemahnya penegakan hukum.

Pidato Prabowo di Davos membuktikan Indonesia punya cara sendiri dalam menghadapi krisis global, bukan hanya dalam kerangka memperkuat ekonomi, tata kelola pemerintahan, dan penegakan hukum yang profesional. Namun, secara utuh politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif—yang tidak memiliki musuh dan berteman dengan semua—menjadi elemen pendukung Indonesia dapat keluar dari krisis global.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

31 August 2026

Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

31 August 2026

Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

31 August 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

ISPA tembus 196.547 kasus, udara Medan tak sehat, lansia & balita terdampak

13 October 2026

7 alasan mengapa orang-orang pintar kerap memiliki ide-ide bodoh menurut psikologi

12 October 2026

7 langkah untuk mengetahui apakah hubunganmu harus berakhir menurut psikologi

12 October 2026

Soroti putusan banding kasus Andrie Yunus, Koalisi sipil minta MK segera putus uji materi UU TNI

12 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?