Strategi Bursa Kripto CFX untuk Meningkatkan Daya Saing Pasar Domestik
Bursa aset kripto PT Central Finansial X (CFX) tengah mengambil langkah strategis untuk memperkuat posisi pasar domestik di tengah persaingan global. Salah satu inisiatif utama yang dilakukan adalah pengurangan biaya transaksi secara bertahap, dengan harapan mampu menarik kembali minat pengguna lokal yang saat ini cenderung beralih ke platform offshore tidak berizin.
Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani, menjelaskan bahwa perbedaan biaya transaksi antara platform dalam negeri dan luar negeri menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan capital outflow atau aliran dana keluar dari Indonesia. Hal ini dinilai sangat merugikan perekonomian nasional, terutama dalam hal pendapatan negara dan pajak.
“Saat ini masih ada ketimpangan biaya transaksi yang cukup terasa antara platform dalam negeri dan global. Inilah yang sering kali membuat pengguna kita menoleh ke luar. Kunci untuk menarik kembali minat konsumen lokal adalah dengan menciptakan struktur biaya yang lebih kompetitif,” ujar Subani dalam pernyataannya.
Pengurangan Biaya Transaksi Secara Bertahap
Sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing, CFX akan mengurangi biaya transaksi secara bertahap. Saat ini, biaya transaksi bursa sebesar 0,04% per transaksi. Dalam beberapa bulan ke depan, biaya tersebut akan turun menjadi 0,02% pada 1 Maret 2026, lalu berlanjut menjadi 0,01% pada 1 Oktober 2026.
Subani menegaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk mendengarkan aspirasi para pengguna dan pelaku bisnis. “Dengan biaya transaksi yang lebih kompetitif, kita sedang membangun pangsa pasar yang lebih besar. Jika biaya transaksi di PAKD lokal semakin kompetitif, kita optimistis dapat menarik kembali konsumen yang bertransaksi di platform offshore tidak berizin,” tambahnya.
Peran Pemerintah dan Regulator
Selain itu, CFX juga menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah dan regulator dalam memperkuat posisi Indonesia di industri aset kripto global. Sinergi antara pemangku kepentingan menjadi kunci untuk meningkatkan jumlah konsumen dan dampak ekonomi nasional.
Namun, saat ini masih ada kekhawatiran karena konsumen Indonesia yang sangat sensitif terhadap harga cenderung beralih ke platform offshore tidak berizin demi biaya yang lebih rendah. Berdasarkan studi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), volume perdagangan oleh konsumen Indonesia melalui platform offshore mencapai 2,6 kali lipat lebih besar dibandingkan platform berizin di Indonesia.
CFX Cryptalk sebagai Forum Diskusi
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bursa Kripto CFX menyelenggarakan acara CFX Cryptalk di CFX Tower pada Selasa (2/2/2026). Acara ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekosistem aset kripto nasional terhadap industri global, khususnya dalam hal struktur biaya transaksi serta mengeksplorasi solusi potensial untuk membuat pasar domestik semakin menarik.
Dalam CFX Cryptalk edisi perdana, hadir beberapa tokoh penting seperti Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) OJK Djoko Kurnijanto, serta Direktur Utama Bursa Kripto CFX, Subani. Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), Robby, juga turut hadir dan menyampaikan pandangan tentang pentingnya strategi untuk menahan minat konsumen agar tidak beralih ke platform asing.
Robby menegaskan bahwa penurunan biaya transaksi merupakan insentif bagi konsumen di Indonesia. “Biaya yang lebih kompetitif membuat konsumen lebih aktif bertransaksi, sehingga mereka tidak lagi menggunakan platform offshore tidak berizin,” ujarnya.
Masa Depan Ekosistem Aset Kripto Nasional
Ke depan, CFX Cryptalk diharapkan bisa menjadi forum yang mempertemukan perspektif regulator dan bursa untuk membahas arah penguatan daya saing industri aset kripto nasional secara komprehensif. Forum ini juga akan merumuskan pandangan bersama dalam membangun ekosistem perdagangan yang efisien, likuid, berintegritas, dan semakin menarik bagi investor global.



