Perjalanan Indonesia Menuju Kemandirian Energi
Indonesia, yang selama beberapa dekade mengalami eksploitasi minyak oleh pihak asing dan kelompok mafia minyak, kini sedang menapaki jalan menuju kemandirian energi. Setelah sukses dalam membangun kemandirian pangan, kini Indonesia berupaya keras untuk menciptakan ketahanan energi yang kuat.
Setelah keberhasilan pengoperasian kilang minyak terbesar di Indonesia, RDMP Balikpapan, pada pertengahan bulan lalu, sebuah tanker raksasa bernama SPYROS tiba di pelabuhan Cilacap pada hari Sabtu (30/1). Tanker ini membawa 1 juta barel minyak mentah jenis sweet crude, yang merupakan jenis minyak ramah lingkungan dengan kadar sulfur sangat rendah. Minyak ini bukan hasil impor, melainkan hasil eksplorasi Pertamina di luar negeri. Ini adalah langkah penting dalam perjalanan Indonesia untuk mengubah nasibnya dari negara yang selama ini bergantung pada impor BBM.
Pertamina, sebagai perusahaan BUMN migas, memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Namun, selama puluhan tahun, Pertamina sering kali menjadi korban dari praktik-praktik ilegal oleh mafia minyak yang secara diam-diam mendominasi tata kelola BBM. Hal ini menyebabkan Pertamina tidak dapat berkembang secara optimal.
Sejak tahun 2012, Pertamina melalui PT Pertamina Algeria Exploration and Production (PAEP) telah melakukan akuisisi interest Conoco Philip Algeria Ltd dengan kepemilikan 3 lapangan produksi. Mulai tahun 2014, PAEP mulai mengelola aset Pertamina di Aljazair tersebut. Meski eksplorasi dilakukan sejak 2014 di gurun Sahara, hasil eksplorasi tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia sepenuhnya. Untuk menggenapi jumlah minyak yang dibutuhkan, Indonesia harus melakukan impor minyak. Inilah permainan mafia minyak yang membuat Indonesia sulit untuk mandiri dalam hal energi.
Dengan terpilihnya Prabowo sebagai presiden, salah satu prioritas utamanya adalah membasmi mafia minyak. Meskipun mafia masih buron dan anak-anaknya saat ini sedang diadili, tata kelola minyak mulai ditata lebih baik. Tahun 2025, aset Pertamina di Algeria dikelola melalui skema groupment yang melibatkan PAEP, Sonatrach, dan Repsol sebagai operator bersama. Area yang dikelola adalah Blok 405A yang memiliki luas area sekitar 714 km² di gurun Sahara dengan periode kontrak selama 25 tahun hingga 2050.
Pada tanggal 22 Desember 2025, dilakukan penandatanganan lifting service contract terbaru, kemudian pada 24 Desember 2025 dilakukan lifting crude oil Sahara sebanyak 1 juta barel dari loading port Arzew, Aljazair. Pada tanggal 30 Januari 2026, tanker raksasa itu berhasil merapat di pelabuhan Cilacap untuk membongkar 1 juta barel minyak mentah jenis sweet crude yang kemudian diolah di Refinery Unit IV Cilacap milik Pertamina.
Selanjutnya, dari lapangan minyak di Algeria ini akan terus diangkut ke Indonesia setiap 3 bulan sekali sebanyak 1,7 juta barel. Di mana 700 barel diolah di kilang RDMP Balikpapan, dan yang 1 juta diolah di Kilang unit IV Cilacap.
Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, Pertamina menjadi lebih perkasa. Setelah mengeksplorasi minyak di Aljazair, Pertamina melalui PAEP akan membawa pulang minyak mentah hasil eksplorasi minyak dari Angola dan Gabon dalam waktu dekat. Tak hanya itu, Pertamina juga mengakuisisi perusahaan eksplorasi di Iraq, Malaysia, Kolombia, Perancis, Italia, Nigeria, Tanzania, dan Venezuela.
Untuk yang di Malaysia, Irak, dan Algeria (Aljazair) langsung menggunakan bendera PAEP, sedangkan untuk eksplorasi di luar negeri lainnya melalui kepemilikan saham 71,9% melalui perusahaan terbuka di Paris, Maurel and Prom.
Indonesia yang selama beberapa dekade minyaknya habis disedot asing, kini mulai ngamuk melakukan investasi untuk ganti menyedot minyak bumi secara besar-besaran di luar negeri dengan menyedot minyak di negeri orang. Target pemerintahan Prabowo adalah bisa mandiri energi dan tidak lagi impor BBM setelah hampir 40 tahun terus-menerus impor.
Mengapa Presiden Prabowo terus digoyang oleh mafia minyak, oligarki, dan asing? Karena Prabowo akan membawa negara Indonesia menjadi raksasa ekonomi baru di kawasan Asia, bahkan dunia.



