Perbedaan Generasi di Kedai Kopi
Di tengah suasana kafe modern yang penuh dengan menu berbahasa asing, barista bertato, dan pengunjung yang sibuk menatap layar ponsel, terdapat sebuah kelompok yang tampak sedikit berbeda. Mereka adalah orang-orang yang usianya di atas 65 tahun. Meskipun tidak perlu ditanya, kita sering kali bisa langsung mengenali mereka karena cara mereka bertindak dan bersikap. Mereka dibesarkan dalam zaman dengan standar tata krama yang berbeda, bukan lebih baik atau lebih buruk, hanya berbeda.
Tujuh Kebiasaan yang Mengidentifikasi Generasi Mereka
Menyapa Semua Orang, Bukan Hanya yang Dikenal
Saat masuk ke kedai kopi, orang tua sering kali menyapa semua orang. Tidak hanya kepada teman dekat, tetapi juga kepada kasir, barista, bahkan pelanggan lain yang berdiri di dekat pintu. Ucapan seperti “Selamat pagi” atau “Siang, ramai ya hari ini” biasanya meluncur begitu saja. Bagi mereka, menyapa adalah bentuk penghormatan dasar—pengakuan bahwa orang lain hadir dan layak dihargai.Mengucapkan Terima Kasih Berlapis
Ketika pesanan datang, mereka tidak hanya mengucapkan terima kasih sekali. Ada “terima kasih” saat memesan, “terima kasih” saat menerima kopi, dan sering kali “terima kasih ya, Nak” ketika hendak duduk. Ini bukan basa-basi berlebihan, melainkan hasil didikan di masa ketika sopan santun diulang-ulang sampai menjadi refleks.Duduk dengan Sikap “Tertib Ruang Publik”
Mereka jarang menggeser kursi sembarangan atau meletakkan barang hingga memakan ruang orang lain. Tas disimpan rapi, tongkat disandarkan hati-hati, jaket dilipat. Bahkan saat kedai sepi, mereka tetap duduk seolah ruang itu milik bersama. Ini menunjukkan pemahaman lama tentang ruang publik: tempat umum bukan perpanjangan dari ruang pribadi.Berkomunikasi dengan Volume yang Disadari
Jika mereka datang bersama teman, percakapan berlangsung jelas tapi tidak mendominasi ruangan. Tawa tetap tawa, cerita tetap cerita, tapi volumenya terkontrol. Mereka tampak sadar bahwa ada telinga lain di sekitar. Di masa mereka dibesarkan, berbicara terlalu keras di tempat umum sering dianggap tidak tahu adat.Menunggu dengan Sabar Tanpa Drama
Ketika pesanan terlambat, mereka jarang mengeluh keras atau menunjukkan ekspresi kesal berlebihan. Mereka menunggu. Melihat sekitar. Kadang berbincang dengan orang di sebelahnya. Jika bertanya pun, nada suaranya tetap sopan. Kesabaran ini lahir dari zaman ketika pelayanan tidak serba instan.Menghormati Pekerja dengan Bahasa yang Lebih Personal
Banyak dari mereka memanggil barista dengan sebutan “Mas”, “Mbak”, atau bahkan “Nak”. Bukan untuk merendahkan, tetapi sebagai bentuk keakraban dan hierarki sopan santun yang mereka pahami. Bagi generasi ini, menghormati pekerja jasa berarti bersikap ramah dan mengakui peran mereka secara verbal.Berpamitan Saat Pergi
Inilah tanda paling jelas. Ketika selesai, mereka tidak bangkit dan pergi begitu saja. Ada anggukan ke arah kasir, senyum kecil ke barista, atau ucapan singkat: “Terima kasih, ya. Kopinya enak.” Berpamitan adalah penutup interaksi—cara sopan untuk mengatakan bahwa hubungan sosial kecil itu, betapapun singkat, telah selesai dengan baik.
Orang berusia di atas 65 tahun di kedai kopi sering kali terlihat “berbeda”, bukan karena mereka tak mengikuti zaman, tetapi karena mereka membawa aturan tak tertulis dari masa lalu. Aturan yang menekankan kesadaran sosial, penghormatan, dan keterhubungan antar manusia. Di tengah dunia yang semakin cepat dan efisien, kebiasaan-kebiasaan ini bisa terasa lambat. Tapi mungkin, sesekali, kedai kopi memang membutuhkan sedikit kelambatan—agar kita ingat bahwa di balik secangkir kopi, selalu ada manusia lain yang patut diperlakukan dengan hormat.



