Kehidupan yang Berubah Total
Rofian, seorang pengacara asal Desa Gondang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, memiliki kisah hidup yang luar biasa. Dari seorang bocah kecil yang berjualan jamu keliling dengan sepeda bututnya, ia kini menjadi sosok tangguh yang mampu memutus mata rantai kemiskinan dan mengangkat derajat keluarganya. Perjalanan hidupnya penuh liku-liku, tetapi semua itu menjadi cambuk yang mengubah arah hidupnya.
Awal Kehidupan yang Pahit
Sejak masih berusia dua tahun, Rofian sudah kehilangan figur ayahnya. Keluarganya terdiri dari tiga bersaudara, dan hidup mereka bergantung pada ibunya yang bekerja sebagai buruh tani. Kondisi ekonomi keluarga sangat sulit, bahkan untuk makan sehari-hari pun harus disesuaikan dengan keadaan.
Saat masih duduk di bangku SD, Rofian hanya menggunakan sepatu lungsuran yang kondisinya rusak dan ditambal oleh ibunya. Karena tidak ahli dalam menjahit, hasil penambalan tersebut sering kali tidak sempurna. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Justru, ia belajar untuk bertahan hidup dengan segala keterbatasan yang ada.
Berjuang untuk Bertahan Hidup
Selama masa tumbuh kembangnya, Rofian dan dua saudaranya membantu perekonomian keluarga. Mereka melakukan berbagai pekerjaan sambilan, mulai dari menjual pulpen hingga berjualan jamu tradisional keliling dari kampung ke kampung.
Berjualan jamu dilakukannya menggunakan sepeda angin yang merupakan pinjaman dari orang lain. Dari rumah ke rumah, ia menawarkan jamu tersebut. Namun, suatu hari, peristiwa tak terduga terjadi. Saat menawarkan jamu di sebuah rumah, ia ditolak mentah-mentah oleh calon pembelinya.
Calon pembeli itu marah-marah karena merasa produk jamu yang ditawarkan ilegal dan membahayakan. Ucapan itu membuat Rofian kecil merasa bingung dan takut. Namun, peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa setiap tindakan memiliki aturan hukumnya sendiri.
Keinginan untuk Belajar Hukum
Dari pengalaman itu, Rofian mulai tertarik untuk belajar hukum. Kakak-kakaknya juga memberikan dukungan penuh. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil menjadi penghalang utama.
Ia terus berjualan jamu sambil menabung. Hasil tabungan itu digunakan untuk mengikuti kursus komputer. Dari sana, ia mulai bekerja di bidang jasa perbaikan dan instalasi komputer. Perlahan-lahan, kondisi keuangannya membaik, sehingga ia bisa mendaftar kuliah di Universitas Islam Kadiri (UNISKA) dengan mengambil jurusan hukum.
Perjalanan Kampus dan Pengalaman Baru
Di kampus, Rofian semakin terbuka. Ia aktif sebagai aktivis kampus dan sosial, serta rajin mengikuti diklat-diklat tentang advokasi dan penulisan. Selain itu, ia juga pernah menjadi wartawan di sebuah radio lokal, lalu berkembang ke media cetak maupun televisi.
Pekerjaan sebagai wartawan terus dilakoninya hingga selesai kuliah dan meraih gelar sarjana hukum. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan khusus profesi advokat (PKPA) agar lebih siap menjadi pengacara.
Kini Menjadi Pengacara yang Tangguh
Kini, Rofian menjalani profesinya sebagai pengacara. Ia menerima berbagai kasus dari berbagai kalangan. Ia merasa bahwa pengalaman hidup yang pahit selama tumbuh kembang memberinya karakter yang kuat dan tangguh.
Aktivitas kampus, sosial, dan jurnalistik memberinya banyak manfaat. Selain pengalaman dan pengetahuan, ia juga memiliki jaringan yang luas. Semua itu menjadi bekal penting dalam menjalani profesinya sebagai advokat.
“EQ itu lebih penting daripada IQ,” ujar Rofian. “Sebab yang paling utama adalah bagaimana cara kita membawa diri di kehidupan bermasyarakat.”



