Kondisi Warga Tapanuli Selatan Pasca Banjir dan Longsor
Setelah mengalami bencana banjir dan longsor yang menimbulkan korban di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, warga masih kesulitan menghadapi berbagai tantangan. Salah satu masalah utama yang dialami masyarakat adalah keterbatasan akses terhadap air bersih.
Masalah Akses Air Bersih
Dua bulan setelah bencana, warga masih kesulitan mendapatkan air bersih. Banyak dari mereka harus membeli air dengan harga Rp 1.000 per jeriken. Meski terlihat murah, biaya tersebut memberatkan sebagian besar keluarga, terutama bagi mereka yang memiliki anak-anak.
Misalnya saja Yani, warga Kelurahan Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan. Ia harus membeli air yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Air ini digunakan tidak hanya untuk kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus), tetapi juga untuk membersihkan rumah yang baru saja diperbaiki pasca banjir dan longsor.
“Sulit kali, tiap hari mengantre pagi dan sore hari. Sudah sejak bencana belum ada air hidup. Lumayan juga tempat beli air itu di belakang Sekolah Matauli Pandan. Dan kita beli harganya Rp 1.000 di kali 15 jeriken selama 30 hari, berat juga kan,” keluhnya.
Ia menghabiskan setidaknya Rp 450 ribu per bulan untuk kebutuhan air bersih. Apalagi, ia memiliki tiga orang anak yang tiap pagi wajib mandi untuk berangkat sekolah.
Pilihan Bayar Seikhlasnya
Selain Yani, Ansyah Sitompul juga mengeluhkan hal yang sama. Namun, ia lebih memilih mengambil air dengan sistem bayar seikhlasnya. Menurutnya, terdapat masjid yang menyediakan pengambilan air bersih dengan sistem pembayaran infaq atau seikhlasnya untuk pembangunan masjid.
“Gimana ya, tiap hari kita mengantre mengambil air, angkat air. Capek juga. Paling lama itu pernah saya mengantre air setengah jam. Dan pernah juga mengambil air Subuh-subuh, biar nggak mengantre,” ucapnya.
Ia berharap agar air di rumahnya bisa hidup seperti sebelum bencana. Menurutnya, ia lebih ambil air di Masjid, sekalian sedekah untuk kemakmuran masjid.
“Kalau saya lebih memilih ambil air di sini. Selain untuk niatnya bersedekah juga untuk kemakmuran masjid. Karena ngambil air di sini bayarnya seikhlasnya atau bahasanya infaq,” ucapnya.
Peran Pemerintah dan KLHK
Atas keluhan ini, Tribun Medan sudah coba konfirmasi ke Bupati Tapteng, namun tak kunjung mendapat respons. Sementara itu, informasi dari akun Instagram resmi Pemkab Tapteng @pemkabtapanulitengah menyebutkan bahwa perbaikan air yang sudah selesai 100 persen adalah Kecamatan Barus Sosorgodang, Manduamas, Sorkam, Tapian Nauli, Sitahuis, dan Lumut.
Untuk perbaikan air yang masih dalam proses pekerjaan 79,18 persen dan masih dalam tahap perbaikan aktif yakni kecamatan Pandan, Sarudik, dan Tukka. Kemudian yang baru selesai 80 persen dan masih dalam perbaikan aktif adalah kecamatan Pinang Sori dan Kolang.
Kecamatan yang perbaikan air belum dilakukan yakni Badiri, Sibabangun, dan Sitahuis (Aek Marende).
“Upaya kita adalah melakukan penanganan kesehatan di seluruh Posko setiap hari. Kemudian menyediakan sanitasi seperti tempat cuci tangan atau pun disinfektan. Untuk meminimalisir penyakit ispa,” jelasnya.
Ia mengimbau, agar penyintas banjir, tetap menjaga kebersihannya di lingkungan sekitar tenda pengungsian.
“Minimal meminimalkan penyakit lain timbul dengan menjaga kebersihan sampah yang ada di sekitar kita. Dan mengikuti arahan-arahan dari setiap tim medis yang ada di posko,” jelasnya.
Kesimpulan
Masalah akses air bersih yang dialami warga Tapanuli Tengah masih menjadi sorotan. Meskipun pemerintah telah melakukan beberapa upaya perbaikan, banyak warga masih kesulitan mengakses air yang layak. Dengan kondisi seperti ini, masyarakat berharap pemerintah dapat segera merespons dan memberikan solusi yang nyata untuk meningkatkan kualitas hidup warga.



