Kinerja Positif Asuransi Kendaraan Bermotor di Tengah Tantangan Industri Otomotif
PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI) mencatatkan kinerja positif pada lini asuransi kendaraan bermotor sepanjang 2025. Direktur Marketing GEGI, Linggawati Tok, menyebut perusahaan membukukan pendapatan premi sebesar Rp40 miliar, tumbuh 1,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini membuat asuransi kendaraan bermotor menjadi kontributor terbesar keempat terhadap total portofolio premi GEGI, setelah asuransi Property, Marine Cargo, dan Digital Affinity.
“Kenaikan tipis ini menunjukkan ketahanan portofolio kami. Di saat pasar kendaraan menurun, GEGI masih mampu menjaga momentum pertumbuhan yang sehat dan berkualitas,” ujar Linggawati kepada media.
Untuk menjaga pertumbuhan sekaligus mendongkrak pendapatan premi lini tersebut, GEGI fokus pada retensi polis perpanjangan melalui peningkatan kualitas layanan, penetrasi mobil mewah dan mobil listrik, serta kolaborasi yang lebih erat dengan broker, dealer, dan multifinance.
Linggawati berujar kemitraan dengan broker, dealer, dan multifinance terus diperkuat untuk menjaga pangsa pasar. Sementara itu, inovasi produk diarahkan pada kebutuhan spesifik nasabah, khususnya di segmen EV dan kendaraan high-end.
“Dalam pasar yang tarif preminya diatur regulator, pembeda utamanya adalah layanan. Kami mempercepat proses, memperjelas komunikasi, dan memperkaya manfaat agar pelanggan merasakan nilai tambah nyata,” jelasnya.
Lebih lanjut, dia turut menyampaikan dari sisi tantangan, GEGI mengakui karakter industri otomotif yang highly regulated membuat kompetisi tidak lagi bertumpu pada harga. Sebab itu, kompetisi beralih pada diferensiasi layanan dan proposisi nilai.
“Karena itu, kami terus berinovasi, baik pada benefit maupun pengalaman klaim agar produk kami unggul dibandingkan perusahaan lain,” tegasnya.
Selain itu, imbuhnya, GEGI juga melakukan pengetatan seleksi risiko sejak proses penutupan asuransi, termasuk survei penutupan, survei klaim hingga penunjukan investigator atau loss adjuster bila diperlukan. Langkah-langkah ini memastikan klaim yang dibayarkan valid sekaligus menjaga keberlanjutan portofolio.
Lebih jauh, Linggawati mengemukakan GEGI pada 2026 ini melihat prospek yang cerah, terutama pada mobil listrik (EV) dan kendaraan fleet. Baginya, segmen kendaraan listrik menjadi pendorong pertumbuhan baru.
“Kami menyiapkan produk yang relevan, termasuk perluasan jaminan yang sesuai karakteristik baterai dan komponen bertegangan tinggi, serta proses underwriting yang adaptif,” ujarnya.
Sementara itu, lanjutnya, untuk kendaraan mewah, GEGI fokus pada layanan bernilai tambah seperti jaringan bengkel premium, layanan klaim yang dipercepat, dan opsi proteksi aksesori bernilai tinggi.
“Prioritas kami jelas yakni menjaga kualitas pertumbuhan. Dengan bauran nasabah yang lebih seimbang, EV, kendaraan mewah, dan fleet, serta layanan yang konsisten unggul, kami yakin dapat terus mendukung kontribusi lini otomotif sebagai salah satu penggerak pendapatan premi perusahaan,” pungkas Linggawati.
Sebelumnya, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengungkap alasan lini usaha asuransi kendaraan bermotor tetap menjadi salah satu kontributor terbesar premi industri asuransi umum, di tengah lesunya industri otomotif. Ketua Umum AAUI Budi Herawan menyebut hal ini karena produk tersebut memiliki basis eksposur yang luas dan berkelanjutan. Hal ini tercermin dari selain penjualan kendaraan baru, portofolio juga ditopang oleh kendaraan existing yang masih membutuhkan perlindungan.
“Khususnya melalui perpanjangan polis tahunan, pembiayaan kendaraan, serta kebutuhan perlindungan risiko sehari-hari. Dengan karakteristik risiko yang mudah dipahami oleh masyarakat, asuransi kendaraan bermotor masih menjadi produk ritel utama di industri,” bebernya.



