Fenomena The Youth Move dalam Pasar Properti Indonesia
Pasar properti di Indonesia sedang mengalami perubahan signifikan yang dipengaruhi oleh kelompok usia produktif. Fenomena ini dikenal sebagai “The Youth Move”, di mana generasi muda tidak hanya menjadi pengikut arus, tetapi juga aktor utama yang menentukan arah pencarian hunian.
Data terbaru dari Rumah123 menunjukkan bahwa generasi muda kini memiliki logika yang lebih rasional, fungsional, dan berbasis nilai jangka panjang dalam memilih hunian. Pertumbuhan harga rumah nasional yang stabil di angka 0,2 persen hingga 1,6 persen serta penurunan BI Rate hingga 4,75 persen mencerminkan pasar yang tenang namun selektif.
Inflasi sempat tercatat lebih tinggi dari kenaikan harga rumah selama tujuh bulan berturut-turut, sementara suplai rumah sekunder justru terkontraksi sebesar -9,1 persen secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar properti saat ini tidak lagi ramah bagi investor yang tidak tahu apa yang mereka cari.
Dominasi Gen Z dan Milenial
Aktivitas pencarian hunian sepanjang 2025 didominasi oleh kelompok usia produktif 18-44 tahun yang mencapai 63,5 persen dari total pencarian. Namun, terdapat perbedaan fundamental dalam perilaku antar-generasi:
Gen Z (18-24 tahun)
Kelompok yang dijuluki “The Explorers” ini menyumbang 19,9 persen pencarian. Mereka melihat proses mencari rumah sebagai langkah untuk memahami pasar dan mengukur kemampuan finansial, bukan keputusan instan. Prioritas utamanya adalah hunian dekat aktivitas dengan akses transportasi yang mumpuni.Young Millennials (25-34 tahun)
Sebagai “The First-Time Buyers”, kelompok ini menyumbang 25,6 persen pencarian. Mereka mulai serius mengejar kepemilikan rumah tapak yang realistis untuk jangka panjang di wilayah sub-urban dengan konektivitas tinggi.
Salah satu temuan paling cerdas dalam laporan ini adalah pergeseran dari simbol status menuju efisiensi ruang. Sebanyak 62,4 persen pencarian hunian terkonsentrasi pada ukuran ≤150 meter persegi. Rumah berukuran kecil-menengah dianggap sebagai pilihan paling relevan karena lebih mudah dikelola secara finansial dan fleksibel terhadap perubahan fase hidup.
Kualitas Konektivitas
Peta hunian paling dicari pada akhir 2025 menempatkan Tangerang dengan 13,9 persen di posisi puncak, disusul oleh Jakarta Selatan (11,4 persen), dan Jakarta Barat (9,7 persen). Fenomena ini membuktikan bahwa lokasi strategis tidak lagi ditentukan oleh jarak ke pusat kota, melainkan oleh kualitas konektivitas.
Akses transportasi publik terintegrasi seperti MRT, LRT, KRL, hingga kereta cepat Whoosh telah menjadi “mata uang baru” dalam memilih hunian. Seperti yang diungkapkan dalam laporan tersebut, “Urban sprawl bukan lagi wacana, tapi realita yang sedang membentuk ulang peta hunian Indonesia”.
Selain itu, terdapat diferensiasi tajam dalam tujuan pemilihan jenis hunian. Apartemen kini lebih banyak diposisikan sebagai instrumen fleksibilitas atau aset sewa, dengan angka 71,6 persen, pencari lebih memilih opsi sewa dibanding beli. Di sisi lain, rumah tapak memiliki proporsi seimbang antara sewa dan beli (49,9 persen), yang menandakan fungsinya sebagai aset stabil untuk rencana hidup jangka panjang.
Prediksi Tahun 2026
Jika 2025 adalah tahun untuk belajar, mencari, dan menunggu, maka 2026 diprediksi akan menjadi tahun untuk melangkah lebih pasti. Generasi muda telah membuktikan bahwa mereka adalah pembeli yang lebih rasional, sadar fungsi, dan sadar finansial.
Di tengah pasar yang selektif, kunci keberhasilan bukan lagi soal seberapa cepat kita membeli, tapi seberapa strategis kita memilih hunian yang selaras dengan narasi hidup kita ke depan.



