Presiden Prabowo Usulkan Tiga Calon Deputi Gubernur BI ke DPR
Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, telah resmi mengajukan tiga nama calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Langkah ini dilakukan setelah Deputi Gubernur BI petahana, Juda Agung, mengundurkan diri dari jabatannya.
Salah satu kandidat yang diusulkan adalah Thomas Djiwandono, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu). Selain Thomas Djiwandono, terdapat dua nama lain yang juga diajukan oleh Presiden Prabowo. Namun, hingga saat ini, identitas kedua kandidat tersebut belum diungkapkan secara resmi.
“Presiden telah mengirimkan surat kepada DPR terkait usulan calon Deputi Gubernur Bank Indonesia. Salah satu nama yang diusulkan adalah Bapak Thomas Djiwandono,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, seperti dikutip dari sumber berita independen.
Meski demikian, Prasetyo tidak menjelaskan secara rinci dua nama lain yang turut diusulkan. Ia menyatakan bahwa pengumuman lebih lanjut akan dilakukan oleh DPR setelah proses administrasi selesai.
Menkeu Purbaya Dukung Pemilihan Thomas Djiwandono
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan dukungan terhadap pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI. Menurutnya, rotasi jabatan dalam pemerintahan adalah hal yang wajar selama mempertimbangkan kompetensi dan integritas.
“Kalau memang ada pertukaran posisi, itu hal biasa dalam pemerintahan. Yang penting adalah kompetensi dan integritas. Bank Indonesia tetap independen,” kata Purbaya.
Ia menegaskan bahwa siapa pun yang terpilih sebagai Deputi Gubernur BI harus tunduk pada prinsip independensi. “Begitu masuk BI, tidak ada lagi urusan kementerian atau hubungan keluarga. Semua kebijakan harus berbasis data, stabilitas ekonomi, dan mandat undang-undang,” tegasnya.
Purbaya juga menyatakan bahwa mekanisme fit and proper test di DPR akan menjadi ruang terbuka untuk menilai kapasitas, rekam jejak, serta komitmen calon terhadap independensi bank sentral.
“Sudah di fiskal sekarang kalau masuk kan ke moneter, kan bagus. Saya mendukung,” tambah Purbaya.
Latar Belakang Profesional Thomas Djiwandono
Thomas Djiwandono memiliki latar belakang pendidikan internasional dan karier yang luas. Ia lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972. Sebagai keponakan Presiden Prabowo, ia juga memiliki latar belakang profesional di bidang keuangan negara.
Thomas pernah bersekolah di SMP Kanisius, Menteng, Jakarta. Pendidikan tingginya ditempuh di luar negeri, termasuk studi sejarah di Haverford College, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia juga mengambil master di bidang International Relations and International Economics di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington, Amerika Serikat.
Karier profesionalnya dimulai sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada tahun 1993 dan pada tahun 1994 di Indonesia Business Weekly. Selain itu, Thomas pernah bekerja sebagai analisis keuangan di Whetlock NatWest Securities, Hong Kong.
Pada tahun 2006, kariernya terus meningkat saat pamannya Hashim Djojohadikusumo memintanya untuk membantu di Arsari Group dan ia menjabat sebagai Deputy CEO Arsari Group, perusahaan agrobisnis.
Di dunia politik, Thomas terlibat dalam partai Gerindra. Ia pernah menjadi calon anggota legislatif di Provinsi Kalimantan Barat. Selama Pilpres 2014, saat Gerindra mengusung pasangan Prabowo-Hatta, peran Tommy sangat penting bagi Koalisi Merah-Putih (KMP) untuk kebutuhan logistik.



