Awal Mula Kehidupan yang Berubah
Pandemi Covid-19 yang terjadi pada tahun 2020 lalu mengubah banyak rencana hidup seseorang. Bagi Fernaldy Halim, masa pembelajaran jarak jauh pada saat itu justru membuka jalan yang sama sekali berbeda. Dari seorang mahasiswa kedokteran gigi di Surabaya, Jawa Timur yang khawatir minim pengalaman klinis, ia bertransformasi menjadi pelukis sepatu dengan karya eksklusif yang kini menembus pasar sampai luar negeri.
Awalnya, Fernaldy merasa bahwa pengalaman kerja di bidang dokter gigi akan kurang jika tidak memiliki pengalaman langsung. Ia takut ketika lulus nanti, klinik-klinik akan menganggapnya sebagai “dokter angkatan Covid” yang kurang berpengalaman. Kegemarannya melukis menjadi titik awal. Dari kanvas, ia mulai menerima perhatian dari lingkar pertemanan hingga akhirnya terhubung dengan pelaku usaha custom sepatu.
Menjajaki Dunia Baru
“Nah, terus akhirnya saya cari cara supaya saya bisa merintis usaha di jalur lain selain dokter gigi untuk plan B-nya.” Awalnya, Fernaldy menggambar di kanvas terlebih dahulu, lalu melakukan reach out ke teman-teman yang bekerja di bidang custom sepatu. Ada salah satu teman yang memesan sepatu dari Jakarta, dan ini menjadi awal baginya untuk mencoba.
Pada tahun 2021, ia menjalani proses seleksi ketat untuk bergabung dengan usaha tersebut. Tantangan bukan hanya teknis, tetapi juga finansial. Harga cat yang cukup mahal menjadi kendala, terlebih ia masih seorang mahasiswa. Meski begitu, ia berhasil diterima dan mulai menyerap pengalaman langsung di lapangan.
Memilih Mandiri Saat Kondisi Berubah
Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2023 menjadi fase penentuan. Pemilik usaha tempatnya bekerja melanjutkan studi ke luar negeri, sehingga volume pesanan menurun drastis. Akibatnya, pemasukannya pun turun. Fernaldy memutuskan untuk berdiri sendiri dan memulai usaha yang sama, dengan nama Dylukis Custom Service.
Dari jaringan pertemanan dan promosi sederhana di media sosial, meski hasilnya belum langsung terlihat. Titik balik datang saat ia beralih ke TikTok dan mengunggah konten secara konsisten. “Akhirnya ya saya mulai dengan konsisten, seminggu tiga kali upload-an sampai sekarang tiap hari ada,” ujar Fernaldy.
Tantangan dalam Menggambar Sepatu
Meski berbeda dengan kanvas, sepatu menuntut ketelitian tinggi. Jahitan, lipatan, dan bidang sempit menjadi tantangan tersendiri. “Kalau di sepatu ini benar-benar challenge-nya harus detail kecil-kecil,” tambahnya.
Namun, latar belakang seni membantunya beradaptasi. Seluruh proses dilakukan manual, langsung di permukaan sepatu. Mulai dari membuat sketsa dan pewarnaan langsung di sepatunya. “Karena kalau ada beda dikit sudah aneh banget rasanya. Terutama untuk karakter anime, kemiripan menjadi harga mati,” ujar Fernaldy.
Eksklusif dan Kolaboratif
Sejauh ini, Fernaldy menolak konsep desain massal. Setiap sepatu yang digambar dibuat satu per satu berdasarkan diskusi dengan pelanggan. Sehingga, jenis pesanan semakin beragam, namun unik bagi setiap pelanggan. Mulai dari karakter anime, hewan peliharaan, hingga foto keluarga.
“Untuk pemesanan itu by order satu persatu. Karena saya tidak menerima jualan desain yang bisa dipakai banyak orang,” ujarnya. “Sehingga karya dari saya ini ada juga bantuan dari customer. Jadi apa pun yang customer mau saya berusaha wujudkan.”
Harga lukisan sepatu dibanderol mulai dari Rp 600.000 hingga Rp 2,5 juta, bergantung tingkat kesulitan. Meski tidak semua sepatu bisa dilukis, pemilihan bahan menjadi langkah awal sebelum pengerjaan untuk menentukan durasi pengerjaan yang bergantung pada kompleksitas desain.
Berkembang dan Mendunia
Kini, Fernaldy dibantu dua orang dalam tim produksi, meski pengelolaan konten tetap dilakukan sendiri. Apalagi sebagian besar pesanan datang dari luar Surabaya, bahkan luar negeri. Salah satu momen penting terjadi saat karyanya dikenakan adik Davina Karamoy, Winona Karamoy, dan merebak viral di jejaring media sosial. “Kalau FYP orderan pun naik dan tidak bisa diprediksi juga,” ujar dia.



