
Iran masih mengalami gelombang demonstrasi besar pada hari Sabtu (10/1). Bahkan, mantan putra mahkota Iran yang tinggal di Amerika Serikat (AS) meminta para demonstran untuk merebut kota-kota besar di negara tersebut.
Demonstrasi terjadi sejak dua minggu lalu dan dipicu oleh krisis ekonomi serta kenaikan biaya hidup akibat penurunan nilai mata uang rial. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuduh bahwa aksi protes ini didorong oleh AS.
Untuk mengurangi intensitas unjuk rasa, pihak berwenang Iran memutus akses internet dan jaringan telepon. Di sisi lain, lembaga pemantau hak asasi manusia melaporkan adanya puluhan demonstran yang tewas dalam dua pekan terakhir.
Menurut laporan AFP, warga mulai memenuhi jalanan utama ibu kota Teheran. Demonstran bahkan meneriakkan slogan seperti “Mati Khamenei”. Selain di Teheran, demonstrasi juga terjadi di kota Mashhad dan Tabriz, yang berada di wilayah dekat Qom, kota suci umat Syiah.
Di kota Hamedan, para demonstran mulai mengibarkan bendera Iran era Dinasti Pahlavi. Dinasti ini berakhir pada 1979 setelah Revolusi Republik Islam yang dipimpin oleh ulama Syiah.
Trump Respons Demo di Iran Makin Diperketat: AS Siap Bantu

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan bahwa AS siap membantu di tengah meningkatnya penindakan aparat Iran terhadap demonstran anti-pemerintah. Pernyataan ini disampaikan oleh Trump pada hari Sabtu (10/1), saat otoritas Republik Islam Iran memperketat respons terhadap gelombang protes.
“Iran sedang mencari kemerdekaan, yang mungkin belum pernah ada sebelumnya. AS siap membantu!” tulis Trump dalam unggahan di media sosial Truth Social, tanpa menjelaskan bentuk bantuan yang dimaksud.
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Trump memberikan peringatan keras kepada Teheran. Pada Jumat (9/1), ia mengatakan Iran berada dalam “masalah besar” dan kembali mengingatkan bahwa dirinya dapat memerintahkan serangan militer.
Menurut laporan AFP, komentar Trump menambah ketegangan di tengah situasi Iran yang semakin memanas. Hal ini terjadi seiring laporan meningkatnya represi terhadap demonstran oleh aparat keamanan pemerintah.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menegaskan bahwa Republik Islam “tidak akan mundur” menghadapi gelombang protes setelah aksi unjuk rasa terbesar dalam hampir dua pekan terakhir.
Garda Revolusi Iran: Kerusuhan Ini Ulah Teroris
Garda Revolusi Iran (IRGC) menuding kelompok teroris sebagai dalang kerusuhan yang meluas di berbagai wilayah Iran. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, IRGC menegaskan akan menjaga sistem pemerintahan dan menyebut keamanan nasional sebagai “garis merah”.
Pernyataan ini disampaikan saat pemerintah Iran mengisyaratkan akan memperketat penindakan terhadap demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. IRGC menuduh kelompok teroris menyerang pangkalan militer dan aparat penegak hukum selama dua malam berturut-turut, menyebabkan korban jiwa serta pembakaran fasilitas umum dan properti warga.
Aparat Dikerahkan, Penangkapan Dilakukan
Seiring dengan tudingan tersebut, aparat keamanan dilaporkan dikerahkan ke sejumlah wilayah. Seorang saksi mata di bagian barat Iran mengatakan pasukan Garda Revolusi telah turun ke lapangan dan melepaskan tembakan.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan, sebanyak 100 orang yang disebut sebagai perusuh bersenjata ditangkap di Baharestan, dekat Teheran. Militer reguler Iran juga menyatakan siap “melindungi kepentingan nasional, infrastruktur strategis, dan fasilitas publik”.



