Jika harus memilih, hidup harus berjalan atau berlari, maka selayaknya keduanya tak perlu diambil. Melayanglah yang jauh dengan imajinasi dan membumilah dengan pijakan paling halus dan lembut.
Inilah paradoks yang sering kita lupakan dalam riuh rendahnya ambisi: bahwa esensi eksistensi bukan tentang kecepatan, melainkan tentang kedalaman. Maka, hiduplah sehidup-hidupnya!
Pesan ini mendadak resonan di kepala saya setelah menonton percakapan antara Chef Renatta Moeloek dan Trilogy Artisan. Di sana, Renatta tidak sedang bicara soal komposisi garam atau teknik sous-vide. Ia bicara tentang bagaimana cara kita mengunyah kehidupan, lengkap dengan segala rasa getir yang seringkali ingin kita buang ke tempat sampah kenangan.
Getir yang Menghidupkan: Sebuah Memori Jogja
Mendengar Renatta bicara soal eksplorasi rasa, ingatan saya mendadak terlempar jauh ke masa awal saya berkuliah di Jogja. Masa-masa di mana realita hidup terasa begitu pekat dan menantang.
Anehnya, meski keadaan saat itu seringkali menjepit, rasa menyerah sedikit pun tak pernah terbesit. Justru di tengah kegetiran itulah, saya mulai belajar menikmati hidup: ya, sehidup-hidupnya.
Ada sebuah pengalaman personal yang mendalam di sudut kota gudeg itu; sebuah kenikmatan yang sangat nyata dan membekas hingga detik ini. Saya tidak ingin membagikannya terburu-buru, ada alasan personal yang membuat memori itu tetap terkunci rapat dalam kotak privasi. Namun secara abstraksi, momen itu mengajarkan saya bahwa hidup tidak melulu soal warna-warna cerah.
Hidup adalah spektrum. Saya ingin menikmati setiap formatnya, mulai dari pahit-manis, hitam-putih, abu-abu, hingga ledakan beragam warna lainnya. Tanpa keberanian mencicipi rasa yang tidak enak, kita hanya akan menjadi manusia yang “hambar”.
Antara Eksplorasi dan Penerimaan
Dalam dunia kuliner, eksplorasi adalah kunci. Namun, Renatta membawa filosofi dapur itu ke meja kehidupan yang lebih luas. Baginya, menjadi manusia berarti harus berani mengeksplorasi ketidakpastian.
Seringkali, sebagai anak muda selalu mencari zona aman. Kita takut salah langkah, takut rugi, dan takut terluka.
Tapi dari Renatta, saya diingatkan bahwa rasa sakit itu justru “bumbu” yang membuat karakter kita matang. Ia bercerita tanpa beban tentang pengalaman dikhianati atau ditipu. Menariknya, tidak ada nada dendam di sana. Yang ada justru penerimaan. Ia percaya bahwa untuk menjadi sosok yang berguna, kita harus melewati fase-fase tidak enak itu. Tanpa rasa pahit, kita tidak akan pernah benar-benar mengerti apa itu manis.
Kolaborasi yang Mindful
Percakapan itu juga menyentuh kolaborasinya dengan Trilogy Artisan. Mengapa mereka bertemu? Ternyata karena adanya frekuensi yang sama: keinginan untuk menjadi thoughtful dan mindful. Di era yang serba cepat ini, menjadi mindful adalah kemewahan. Kita seringkali bekerja tanpa rasa dan hidup tanpa kesadaran.
Visi inilah yang menurut saya membuat kolaborasi mereka terasa “bernyawa”. Mereka tidak hanya menjual sensasi rasa, tapi menjual sebuah proses. Sebuah perjalanan tentang bagaimana rasa itu diciptakan dengan penuh pemikiran, persis seperti cara kita seharusnya memproses setiap kejadian dalam hidup.
Sebuah Pesan untuk Kita yang Sedang Berproses
Melihat Renatta, saya diingatkan kembali bahwa hidup ini adalah laboratorium besar. Jangan takut untuk bereksperimen.
Jika hari ini hidupmu terasa hambar, mungkin kamu perlu mengeksplorasi teknik baru dalam memandang masalah. Jika hari ini hidupmu terasa sangat pahit, ingatlah bahwa itu adalah bagian dari proses “reduksi” agar karaktermu menjadi lebih kuat dan kental.
Pesan Renatta sangat jelas: jangan takut untuk merasa. Jangan takut untuk hidup sehidup mungkin. Karena pada akhirnya, saat kita menoleh ke belakang nanti, kita tidak ingin melihat hidup yang hanya satu warna. Kita ingin melihat sebuah mahakarya yang penuh dengan berbagai lapisan rasa: termasuk rasa getir yang dulu sempat kita benci.
Mari kita berproses. Mari kita bereksperimen dengan warna masing-masing.
Teruslah melayang dengan imajinasi, namun tetaplah membumi dengan pijakan yang paling lembut. Karena pada akhirnya, rasa yang paling berharga adalah rasa syukur atas segala proses yang telah menjadikan kita manusia yang lebih utuh.



