Langkahku terhenti sejenak di depan sebuah hunian yang tampak bersahaja. Saat melangkah melewati ambang pintu kayu yang rendah, bukan aroma lembap atau pengap yang menyambut, melainkan hawa sejuk yang menenangkan.
Di bawah temaram cahaya yang masuk melalui celah anyaman bambu, permukaan alas rumah itu tampak gelap, halus, bahkan sedikit mengilap seperti dipoles lilin. Tak ada ubin marmer atau keramik dingin di sini. Yang ada hanyalah lantai yang terbuat dari campuran tanah liat dan sekam padi, yang dirawat secara telaten oleh tangan-tangan penghuninya.
Inilah Desa Adat Sade di Rembitan, Lombok Tengah. Di tengah gempuran arsitektur modern yang serba instan dan industrial, Sade tetap berdiri kokoh dengan material yang sepenuhnya diambil dari rahim bumi. Bahkan, di sini terdapat rumah yang telah berdiri tegak melampaui zaman hingga usia 200 tahun.
Konstruksi Tanpa Paku yang Melawan Zaman
Arsitektur Sade bukan sekadar estetika pedesaan, melainkan sebuah mahakarya teknik tradisional. Bangunan utamanya, yang disebut Bale Tani, dibangun dengan struktur kayu yang saling mengunci. Uniknya, tak ada satu pun paku besi yang digunakan. Mereka menggunakan pasak kayu dan ikat tali bambu atau rotan. Semua dikerjakan secara mandiri dan gotong royong antarwarga desa.
Atapnya yang tampak indah dan tebal terbuat dari tumpukan alang-alang (Imperata cylindrica) kering. Dengan jarak ikat yang rapat sekitar 2–3 cm, pelindung ini sanggup bertahan optimal hingga 7 tahun. Selain mampu mengalirkan air hujan dengan sempurna tanpa bocor, alang-alang ini berfungsi sebagai isolasi termal alami; memberikan kesejukan di siang hari, tetapi efektif menahan kehangatan di dalam ruangan saat malam yang dingin.
Jika menyentuh dindingnya, kita akan merasakan tekstur kasar, tetapi fleksibel dari gedek (anyaman bambu) yang diganti berkala saat sudah lapuk. Sama seperti bagian atap, gedek memiliki celah mikro yang memungkinkan udara mengalir masuk dan keluar secara perlahan. Pilihan material ini menunjukkan pemahaman mendalam leluhur Sade terhadap mitigasi bencana; struktur kayu dan bambu cenderung lebih elastis terhadap guncangan gempa dibandingkan tembok bata yang kaku.
Ruang yang Bercerita
Secara fungsional, rumah di Sade terbagi dalam hierarki yang sangat jelas. Rumah tinggal atau Bale Tani selalu dibangun di atas fondasi yang ditinggikan dari permukaan tanah sekitarnya menggunakan gundukan tanah yang dikeraskan. Di dalamnya, ruang dibagi oleh ketinggian alas runah:
- Bale Luar (Sesangkok): Area bagian depan yang bersifat publik untuk menerima tamu atau tempat tidur laki-laki.
- Bale Dalem (Ruang Dalam): Area bagian belakang yang lebih tinggi dengan tiga anak tangga. Ini adalah zona privat untuk tempat tidur perempuan, dapur, tempat penyimpanan harta, hingga ruangan khusus untuk melahirkan.
Bale Tani tidak dilengkapi dengan jendela. Ini bukan sekadar desain interior, melainkan bentuk perlindungan dan penghormatan kepada kaum wanita, terutama area bale dalem. Mengingat kemampuan alang-alang dan anyaman bambu dalam menjaga sirkulasi udara, rumah ini tetap terhindar dari kelembapan.
Selain hunian utama, terdapat pula Bale Bonter yang dasarnya dibuat sangat padat dan memiliki teras luas sebagai balai pertemuan warga. Biasanya digunakan para tetua adat untuk membahas masalah desa ataupun merencanakan upacara. Ada juga Bale Kodong, bangunan yang lebih kecil tanpa tangga tinggi, khusus diperuntukkan bagi pasangan yang baru menikah atau orang tua yang sudah renta agar lebih mudah beraktivitas.
Rahasia di Balik Tradisi Belulut
Hal yang paling mengundang rasa penasaran adalah tradisi meluluri lantai dengan kotoran kerbau atau sapi, yang disebut dengan “belulut”. Bagi mata modern, ini mungkin terdengar tidak higienis. Namun, bagi masyarakat Sade, ini adalah teknologi warisan yang telah teruji melintasi zaman.
Awalnya, aku sempat salah dengar waktu pemandu lokal menerangkan proses unik ini. Mungkin karena saking rindunya pada kenyamanan spa setelah lelah berkeliling Lombok, otak otomatis melakukan autocorrect dari belulut menjadi sesuatu yang lebih familiar bagi kaum jompo perkotaan, melulur.
Eits, jangan salah, meski bunyinya mirip, “lulur” ala Sade ini bukan untuk kulit glowing, melainkan resep rahasia agar lantai rumah makin shining! Saking penasarannya dengan hasil ‘skincare’ lantai ini, aku sempat mengusap permukaannya, mencoba merasakan teksturnya … dan ternyata benar. Lantainya terasa begitu padat, rata, dan halus. Sama sekali tidak ada kesan becek atau berdebu seperti tanah pada umumnya.
Meski saat kunjungan aku tidak sempat melihat langsung, foto dokumentasi menunjukkan betapa telatennya warga merawat lantai mereka. Yang digunakan adalah kotoran kerbau segar yang diambil di pagi hari, dicampur dengan sedikit air lalu dioleskan secara manual. Pada awal pembuatan, setelah kotoran kering, lantai digosok dengan batu sungai hingga mencapai kepadatan yang sempurna. Pada proses pelumuran berikutnya cukup disapu, kecuali jika area tersebut mulai terasa kasar. Ritual ini biasanya dilakukan sekitar seminggu sekali atau tergantung kondisi kebersihannya untuk menjaga permukaannya tetap prima.
Hebatnya, lapisan ini berfungsi sebagai insulasi alami yang mampu menghangatkan suhu ruangan di malam hari, merekatkan kembali lantai tanah yang retak, sekaligus mengusir serangga. Inilah bukti bagaimana manusia bisa berkolaborasi dengan alam tanpa harus merusaknya.
Seni Menunduk dan Menghargai Batas
Salah satu detail yang paling berkesan adalah pintu masuk yang dibuat sangat rendah. Tingginya seringkali tidak sampai 1,5 meter, memaksa siapa pun yang ingin masuk untuk menundukkan kepala. Di sinilah letak refleksinya: arsitektur Sade mengajarkan kita tentang etika. Menunduk adalah simbol penghormatan tamu kepada tuan rumah. Ia mengingatkan bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang di luar sana, saat bertamu, ia harus merendahkan hati.
Sade mengajarkan bahwa rumah bukan sekadar pelindung dari hujan dan panas. Ia adalah perpanjangan dari nilai hidup. Di setiap jengkal alang-alang, anyaman bambu, dan lapisan tanahnya, tersimpan pesan tentang ketahanan dan kesederhanaan. Di dunia yang sibuk membangun gedung pencakar langit, Sade tetap setia pada bumi, mengingatkan bahwa terkadang, untuk menjadi besar, kita harus berani menunduk dan menyatu dengan alam.
Mengunjungi Sade bukan sekadar perjalanan melihat bangunan tua, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana seharusnya kita membangun “rumah” di dalam hati: Bahwa kemajuan zaman tak harus selalu menanggalkan akar. Bahwa teknologi tercanggih sekalipun tak akan bisa menggantikan hangatnya sebuah penghormatan. Sade adalah sebuah bukti—saat manusia menjaga alam, alam pun akan menjaga manusia.



