Pengalaman Perjalanan ke Teluk Betung, Sumatera Selatan
Akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 menjadi momen istimewa bagi saya. Tessa, sepupu saya, mengajak untuk menemaninya pulang kampung ke Teluk Betung, sebuah desa di Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tessa Amelia Saputri, begitu nama lengkapnya, kini menempuh pendidikan di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Ia lahir di Teluk Betung pada 19 November 2007 dari pasangan Miswardi MA dan Eem Sumarti. Sebelum merantau ke Aceh, Tessa sempat menimba ilmu di Pondok Pesantren Qodratullah Langkan, Banyuasin. Ayahnya, Miswardi MA—saya memanggilnya Abuwa War—adalah sepupu ayah saya. Sementara ibunya, Eem Sumarti adalah perantau asal Majalengka, Jawa Barat. Keduanya Allah pertemukan di Teluk Betung, dan telah menjadi pasangan suami istri yang bahagia sejak awal menikah hingga sekarang.
Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Tessa merupakan anak bungsu dan putri satu-satunya dalam keluarga ini.
Perantau Asal Gampong Aree Pidie
Miswardi atau Abuwa War berasal dari Gampong Aree, Pidie, Aceh. Beliau telah merantau ke Sumatera Selatan sejak tahun 1988. Bisa dibilang, Abuwa War menjadi satu-satunya orang Aceh yang menetap di Pulau Rimau, daerah pedalaman yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari Palembang.
Dalam sebuah obrolan, Abuwa mengenang masa awal kedatangannya. “Waktu itu, penduduk di Teluk Betung sangat sedikit. Rumah-rumah masih berupa panggung kayu di atas rawa. Sebagian besar warga adalah transmigran dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan berbagai daerah di Sumatera,” ujarnya. “Saya yang awalnya hanya merantau untuk berdagang, akhirnya ikut menjadi bagian dari transmigran. Mungkin satu-satunya orang Aceh yang menjadi transmigran,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski hidup jauh dari tanah kelahiran dan nyaris tanpa komunitas Aceh di sekitarnya, Abuwa War tetap fasih berbahasa Aceh. Setiap pekan ia rutin ke kota-kota terdekat, seperti Betung, Pangkalan Balai, atau Palembang untuk bertemu adik-adiknya, family, orang kampung, dan komunitas Aceh. Langkah ini dilakukan untuk menjaga ingatan dan kedekatannya dengan budaya asal.
Perjalanan ke Sumatera Selatan
Perjalanan saya ke Sumatera Selatan bermula dari peristiwa bencana Siklon Senyar melanda Aceh pada akhir November 2025. Saat itu, dayah tempat Tessa tinggal ikut lumpuh karena dampak bencana yang menghancurkan sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Seperti rumah kami, dayah tempat tinggal Tessa juga mengalami dampak: listrik padam, air sulit, internet terputus, bahkan gas langka.
Dalam kondisi serba terbatas itu, ayah dan ibu saya meminta Tessa untuk tinggal bersama kami, agar dia tidak sendirian dan terlindung dari bahaya. Dari sanalah kedekatan kami terjalin lebih akrab, hingga akhirnya ayah Tessa meminta saya untuk ikut menemani Tessa pulang kampung ke Teluk Betung. Rencananya, saya akan berada di sini selama sebulan, hingga kuliah kami aktif kembali pada bulan Februari 2026.
Tradisi Berbeda
Singkat cerita, kami berangkat ke Palembang dengan pesawat dari Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara. Setiba di Teluk Betung, Kecamatan Pulau Rimau, saya merasakan suasana dan tradisi yang benar-benar berbeda. Di sini, penduduknya sangat heterogen, terdiri dari banyak sekali suku dengan tradisi yang berbeda-beda.
Keluarga Tessa tinggal di Pasar Sumber Teluk Betung, yang merupakan pusat Kecamatan Pulau Rimau. Ayah Tessa yang kini dipercaya sebagai Ketua Badan Kemakmuran Masjid Agung Nurul Huda Teluk Betung, memiliki toko sembako dan alat-alat pertanian. Menurut cerita Abuwa War, kondisi Pasar Sumber dan Teluk Betung saat ini sangat jauh berbeda, dibandingkan saat beliau datang pada tahun 1988 lalu.
Kala itu, Teluk Betung merupakan salah satu desa terisolir, tanpa listrik dan air bersih. Kini, Teluk Betung telah berkembang pesat. Penduduknya bertambah drastis, listrik menyala 24 jam dan sudah dialiri air bersih. Masjid Nurul Huda yang dulu kecil dan kesulitan jamaah, kini telah menjadi masjid agung yang berdiri megah di tengah-tengah permukiman padat.
Megahnya Jembatan Ampera
Dua pekan berada di Sumsel, saya sudah dua kali diajak berwisata ke Kota Palembang, menikmati beragam kuliner yang tersedia di restoran apung di bawah Jembatan Ampera. Jembatan ini dibangun pada tahun 1962 dengan biaya dari pampasan perang Jepang. Diresmikan pada tahun 1965, jembatan yang awalnya bernama Jembatan Musi, menghubungkan Seberang Ilir dan Seberang Ulu yang dibelah Sungai Musi. Jembatan yang kemudian diubah namanya menjadi “Ampera” (Amanat Penderitaan Rakyat) pada 1966, pernah menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Jembatan ini kini menjadi ikon kota yang megah meski bagian tengahnya sudah tidak bisa diangkat sejak 1970-an.




