Penyaluran Paket Makan Bergizi Gratis Kembali Berjalan Normal
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, memastikan bahwa penyaluran paket MBG kembali berjalan normal setelah libur sekolah. Hal ini dilakukan seiring dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah.
Ahmad menjelaskan bahwa selama masa libur sekolah, program MBG tetap berjalan, namun fokusnya pada sasaran prioritas 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita stunting. Jumlah penerima paket dalam program ini tetap terbatas.
“Hari ini, seiring dimulainya kembali pembelajaran di sekolah, program MBG kembali beroperasi normal,” ujarnya usai memimpin upacara Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 di Alun-alun Aimas, Senin (5/1/2026).
Status SPPG di Kabupaten Raja Ampat
Terkait kondisi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Raja Ampat, Wakil Gubernur Papua Barat Daya itu mengungkapkan bahwa satu SPPG sementara dinonaktifkan menyusul kasus keracunan yang terjadi beberapa waktu lalu. Saat ini, Badan Gizi Nasional (BGN) masih melakukan proses verifikasi dan evaluasi.
“Kami masih menunggu arahan dari BGN, termasuk hasil pemeriksaan BPOM terkait penyebab kejadian tersebut. Selanjutnya, kami akan berkoordinasi untuk menentukan apakah SPPG tersebut dapat diaktifkan kembali atau diperlukan kebijakan lain,” katanya.
Untuk menjaga kelangsungan program MBG, penyaluran di Raja Ampat sementara dialihkan ke SPPG lain yang masih aktif. Dari tiga SPPG yang ada, dua masih beroperasi, sementara satu dalam status nonaktif.
Pembangunan SPPG di Wilayah 3T
Selain itu, pembangunan SPPG di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) juga terus berjalan. Ahmad berharap seluruh SPPG di wilayah 3T Papua Barat Daya dapat beroperasi penuh tahun ini.
“Mudah-mudahan tahun ini SPPG di wilayah 3T bisa segera beroperasi, sehingga semakin banyak anak-anak kita yang mendapatkan asupan gizi melalui program Badan Gizi Nasional,” ujarnya.
Peran SPPG dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peran penting dalam memastikan kecukupan gizi bagi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Dengan adanya SPPG, distribusi paket makanan dapat lebih efisien dan tepat sasaran.
Beberapa langkah telah diambil untuk memastikan program ini tetap berjalan meskipun terdapat kendala teknis seperti penutupan SPPG sementara. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kesejahteraan masyarakat melalui program kesehatan dan gizi.
Dalam rangka meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, pemerintah juga sedang mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung, seperti SPPG di wilayah 3T. Dengan demikian, semua lapisan masyarakat, termasuk yang tinggal di daerah terpencil, dapat merasakan manfaat dari program MBG.
Tantangan dan Solusi
Meski program MBG berhasil mencapai target, masih ada tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan sumber daya dan logistik. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah dan mitra kerja terus berupaya memperbaiki sistem distribusi serta meningkatkan kapasitas SPPG.
Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat juga menjadi salah satu fokus utama agar masyarakat lebih memahami pentingnya program ini dan dapat memanfaatkannya secara optimal.
Masa Depan Program MBG
Dengan rencana pengembangan SPPG di wilayah 3T, diharapkan program MBG dapat mencapai cakupan yang lebih luas. Ini akan memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup anak-anak di daerah terpencil.
Pemerintah juga berkomitmen untuk terus memantau dan mengevaluasi kinerja program MBG guna memastikan bahwa semua sasaran dapat tercapai dengan baik.



