Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 27 September 2026
Trending
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Hukum»KPK Hentikan Kasus Izin Tambang Nikel Karena Tidak Bisa Diaudit
Hukum

KPK Hentikan Kasus Izin Tambang Nikel Karena Tidak Bisa Diaudit

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 Januari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Penyidikan Kasus Korupsi Tambang Nikel di Konawe Utara Dihentikan

Kasus dugaan korupsi izin tambang nikel di Kabupaten Konawe Utara yang melibatkan mantan Bupati Aswad Sulaiman akhirnya dihentikan. Hal ini dilakukan karena tidak bisa dilakukan penghitungan kerugian negara terkait pengelolaan tambang tersebut.

Budi Prasetyo, Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menjelaskan bahwa auditor KPK menyampaikan bahwa penghitungan kerugian negara tidak dapat dilakukan. Alasannya adalah karena pengelolaan tambang tersebut tidak termasuk dalam ranah keuangan negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003.

“Karena tidak masuk dalam ranah keuangan negara, maka penghitungan kerugian negara tidak bisa dilakukan. Hal ini menyebabkan kecukupan alat bukti tidak terpenuhi, khususnya mengenai Pasal 2 dan 3 UU Tindak Pidana Korupsi,” ujar Budi pada Senin, 29 Desember 2025.

Selain itu, kasus ini juga terkendala dengan daluarsa perkara terkait pasal suap. Menurut Budi, penghentian penyidikan telah sesuai dengan asas pelaksanaan tugas dan kewenangan KPK sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019.

Latar Belakang Kasus

Aswad Sulaiman, mantan Bupati Konawe Utara, sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 2017. Wakil Ketua KPK saat itu, Saut Situmorang, menyebut bahwa Aswad diduga melakukan dua tindak pidana korupsi sekaligus.

Menurut Saut, Aswad diduga menyalahgunakan wewenang dalam penerbitan izin kuasa pertambangan eksplorasi dan eksploitasi serta izin usaha pertambangan operasi produksi dari tahun 2007 hingga 2014. KPK menyebut bahwa kasus ini menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2,7 triliun.

Nilai kerugian tersebut berasal dari penjualan hasil tambang akibat proses perizinan yang tidak sesuai aturan. Perkara ini bermula dari dugaan korupsi penerbitan izin tambang di Konawe Utara yang diselidiki KPK sejak 2017.

Dugaan Suap dan Pengembangan Perkara

Selain dugaan penyalahgunaan wewenang, Aswad juga diduga menerima suap dari perusahaan-perusahaan yang memperoleh izin tambang. Dalam pengembangan perkara, KPK pernah membuka peluang untuk menjerat pihak lain yang terlibat, termasuk perusahaan pemberi suap.

Namun, meskipun ada dugaan suap, penyidikan kasus ini tetap dihentikan. Hal ini menimbulkan kritik dari lembaga antikorupsi seperti Indonesia Corruption Watch (ICW).

Kritik dari ICW

ICW mengkritik penghentian penyidikan perkara dugaan korupsi tambang nikel di Kabupaten Konawe Utara yang menjerat mantan Bupati Aswad Sulaiman. Lembaga ini menilai penerbitan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) oleh KPK menambah daftar panjang perkara besar yang dihentikan tanpa penjelasan memadai kepada publik.

KPK menyatakan SP3 perkara Aswad Sulaiman diterbitkan pada Desember 2024. Namun, ICW mencatat bahwa nama Aswad tidak tercantum dalam laporan tahunan KPK maupun laporan Dewan Pengawas KPK. ICW mempertanyakan alasan KPK baru menyampaikan informasi penghentian perkara tersebut ke publik hampir satu tahun setelah SP3 diterbitkan.

Padahal, berdasarkan Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 serta Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 70/PUU-XVII/2019, setiap penghentian penyidikan dan penuntutan wajib dilaporkan kepada Dewan Pengawas paling lambat 14 hari sejak SP3 diterbitkan.

Kesimpulan

Penghentian penyidikan kasus korupsi tambang nikel di Konawe Utara menunjukkan kompleksitas hukum dalam penanganan dugaan tindak pidana korupsi. Meski ada indikasi dugaan penyalahgunaan wewenang dan suap, penghentian penyidikan tetap dilakukan karena ketentuan hukum yang tidak memungkinkan penghitungan kerugian negara. Hal ini juga memicu kritik terhadap transparansi dan prosedur KPK dalam menginformasikan penghentian penyidikan kepada publik.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Ruben Onsu Jadi Tersangka Penipuan, Mantan Manajer Sarwendah: Dia Tak Pernah Berniat Jahat

31 Agustus 2026

Direktur Polipangkep Lulus Uji Kompetensi CRA dan CRP, Kuatkan Tata Kelola Berbasis Risiko

31 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?