Peran dan Tanggung Jawab Pemimpin NU dalam Menyelesaikan Konflik Internal
Konflik internal yang terjadi di dalam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masih menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak. Dalam muktamar ke-34 yang digelar di Lampung, telah ditetapkan bahwa islah harus dilakukan sebelum 24 Desember 2025. Namun, hingga batas waktu tersebut berakhir, islah belum juga terwujud. Hal ini memicu desakan dari berbagai pihak agar konflik dapat segera diselesaikan.
Salah satu tokoh yang mengingatkan pentingnya islah adalah Abdussalam Shohib, pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jawa Timur. Ia menilai bahwa para pemimpin PBNU harus bersikap tegas dalam menyikapi konflik yang sedang berlangsung.
“Mereka harus berani dan tegas untuk menjalankan komitmen bersama di Muskub Lirboyo, Kediri,” ujar Gus Salam, demikian panggilan akrabnya, pada Kamis (25/12).
Komitmen yang dimaksud oleh Gus Salam merupakan upaya bersama untuk menyelamatkan organisasi dengan mengakhiri konflik yang berkepanjangan. Menurutnya, konflik ini tidak hanya tidak bermanfaat, tetapi juga merusak citra PBNU di mata masyarakat luas.
Gus Salam khawatir jika konflik internal PBNU tidak segera diselesaikan, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh struktur dan jamaah NU di berbagai daerah. Ia menilai bahwa sikap undur diri dari para pemimpin yang terlibat dalam konflik bisa menjadi solusi untuk menyelamatkan harapan PW-PC-PCINU serta ranting dan banom-banom NU.
“Daripada terseret arus, terus menerus saling adu benar-salah,” ujarnya.
Menurut Gus Salam, para pemimpin NU memiliki tanggung jawab besar terhadap umat. Oleh karena itu, mereka harus memiliki hati yang baik dan tidak terseret dalam pusaran konflik. Ia menekankan bahwa para pemimpin tidak sedang memimpin dan mengikat para pengikut yang berada di jam’iyyah dan jamaah NU untuk mengikuti ambisi dan nafsu duniawi mereka.
“Ingat. Mereka berdua itu sedang membantu (khidmah) memimpin santri-santri Mbah Hasyim dan muassis yang lain, bukan sedang memimpin dan mengikat para pengikut yang berada di jam’iyyah dan jamaah NU untuk mengikuti ambisi dan nafsu duniawi mereka. Ingat itu, dan hati-hati,” tambahnya.
Langkah-Langkah yang Diperlukan untuk Menyelesaikan Konflik
Komitmen Bersama: Para pemimpin harus konsisten dengan komitmen yang telah disepakati dalam berbagai pertemuan seperti Muskub Lirboyo.
Sikap Tegas: PW, PC, dan PCINU harus menunjukkan sikap tegas dalam menyikapi konflik agar tidak terus berlarut-larut.
Pemimpin yang Berintegritas: Pemimpin NU harus memiliki integritas tinggi dan tidak terjebak dalam ambisi pribadi atau kelompok tertentu.
Pemahaman terhadap Tanggung Jawab: Para pemimpin harus memahami bahwa tugas mereka adalah membantu memimpin santri dan para pendiri NU, bukan untuk memperkuat ambisi pribadi.
Kesejahteraan Jamaah: Tujuan utama dari semua langkah adalah untuk memastikan kesejahteraan dan keharmonisan jamaah NU di berbagai daerah.
Dengan langkah-langkah di atas, diharapkan konflik internal PBNU dapat segera diselesaikan, sehingga organisasi NU tetap kokoh dan berkontribusi positif bagi masyarakat.



