Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 23 Maret 2026
Trending
  • HP Samsung A36 5G, A56 5G, dan A55 5G: Harga Spesial Lebaran 2026
  • Hasil Kualifikasi MotoGP Brasil 2026: Fabio Di Giannantonio Pole Position
  • Promo dan Diskon Menjelang Lebaran, Pusat Belanja Penuh Pengunjung
  • Film “Broken Strings” Diangkat dari Kisah Nyata, Aurelie Moeremans Bocorkan Momen Penting
  • Sumitronomics & MBG: Mesin Ekonomi Rakyat atau Bom Waktu Fiskal?
  • Minta Maaf, Rismon Sianipar Dikatakan Kehilangan Martabat: Robot Diremote dari Solo
  • Melawan Formalisme Digital: Meritokrasi vs. Arisan Jabatan
  • Bisakah Minum Obat Maag saat Perut Kosong? Ini Fakta Medisnya
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Pemimpin Bolivia Umumkan Darurat Ekonomi, Hentikan Subsidi BBM
Ekonomi

Pemimpin Bolivia Umumkan Darurat Ekonomi, Hentikan Subsidi BBM

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover26 Desember 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

JAKARTA – Presiden Bolivia Rodrigo Paz mengumumkan penerapan status darurat ekonomi dan pencabutan subsidi bahan bakar, yang menjadi langkah signifikan dalam perubahan kebijakan ekonomi negara tersebut. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap inflasi yang telah melebihi 20% dan tekanan terhadap stabilitas fiskal.

Pengumuman tersebut menandai pergeseran dari kebijakan ekonomi sosialis yang berlangsung selama lebih dari dua dekade. Menurut Paz, tindakan ini bertujuan untuk memperkuat keuangan publik dan menciptakan sistem redistribusi yang lebih transparan dan adil. “Menghapus subsidi yang tidak efektif bukan berarti meninggalkan rakyat, melainkan menegakkan ketertiban, keadilan, serta distribusi sumber daya yang lebih seimbang,” ujarnya.

Kebijakan baru ini langsung memicu kenaikan harga bahan bakar yang sangat drastis. Harga bensin naik hingga 86%, sedangkan harga solar meningkat lebih dari 160%. Kenaikan ini menjadi penyesuaian terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Harga baru akan berlaku selama enam bulan sebelum dievaluasi kembali.

Beberapa stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di Kota La Paz dilaporkan menghentikan sementara penjualan karena lonjakan permintaan. Pengendara bergegas membeli bahan bakar bersubsidi setelah pengumuman tersebut. Sebelumnya, Bolivia dikenal memiliki salah satu harga bahan bakar terendah di kawasan. Namun, penurunan produksi gas alam telah menyebabkan krisis cadangan devisa, mengakibatkan kelangkaan bahan bakar dan dolar AS, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Untuk melindungi masyarakat, pemerintah juga mengumumkan sejumlah langkah perlindungan sosial. Upah minimum akan dinaikkan sebesar 20% pada tahun depan, mencapai 3.300 boliviano atau sekitar US$479. Program Renta Dignidad, yang memberikan tunjangan bagi warga lanjut usia tanpa pensiun, akan meningkat sebesar 150 boliviano (US$22). Bonus sekolah untuk siswa sekolah negeri juga akan naik sebesar 100 boliviano (US$15), setara dengan 50% dari nilai sebelumnya.

Selain itu, pemerintah meluncurkan program bantuan tunai luar biasa bagi keluarga paling rentan. “Ini bukan hanya bantuan sosial. Ini adalah dukungan bagi keluarga yang sudah hancur,” kata Paz. Ia menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan dampak dari kebijakan pemerintahan sebelumnya.

Dekret yang dikeluarkan juga memberi kewenangan kepada bank sentral untuk mengamankan jalur pembiayaan likuiditas, merevisi regulasi internal, menerbitkan instrumen keuangan eksternal, melakukan lindung nilai valuta asing, serta menjalankan skema pertukaran mata uang (currency swap) guna menstabilkan neraca pembayaran. Langkah ini baru-baru ini dibahas dengan pejabat Amerika Serikat di Washington.

Selain itu, Paz mengumumkan program untuk mendorong investasi domestik dan asing dengan jaminan stabilitas hukum dan perpajakan hingga 15 tahun. Program ini mencakup kepastian bahwa perubahan regulasi di masa depan tidak akan berlaku bagi investasi yang dilindungi tanpa persetujuan eksplisit dari investor.

Dekret tersebut juga menginstruksikan bank sentral untuk beralih ke rezim nilai tukar baru. Hal ini berpotensi mengakhiri sistem kurs tetap yang berlaku sejak 2011. Selama ini, nilai tukar boliviano dipatok di level 6,96 per dolar AS, jauh di bawah kurs pasar paralel yang mendekati 10 boliviano per dolar.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Sumitronomics & MBG: Mesin Ekonomi Rakyat atau Bom Waktu Fiskal?

23 Maret 2026

Pemerintah Dianggap Tidak Adil, Rekrutmen CPNS 2026 Terhambat Anggaran, Namun Kemhan Terima 30.000 SPPI untuk Koperasi Merah Putih

23 Maret 2026

Prabowo Buka Suara Soal Kepemilikan RI di BoP, Siap Mundur Jika Tak Bantu Palestina

23 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

HP Samsung A36 5G, A56 5G, dan A55 5G: Harga Spesial Lebaran 2026

23 Maret 2026

Hasil Kualifikasi MotoGP Brasil 2026: Fabio Di Giannantonio Pole Position

23 Maret 2026

Promo dan Diskon Menjelang Lebaran, Pusat Belanja Penuh Pengunjung

23 Maret 2026

Film “Broken Strings” Diangkat dari Kisah Nyata, Aurelie Moeremans Bocorkan Momen Penting

23 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?