Indonesiadiscover.com,
JAKARTA — Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) telah menandatangani perjanjian dengan 24 organisasi yang tertarik berpartisipasi dalam proyek Genesis pemerintahan Trump. Proyek ini bertujuan untuk memajukan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung penemuan ilmiah dan inovasi teknologi.
Perjanjian ini dilakukan dalam rangka mendorong kolaborasi lintas sektor antara lembaga pemerintah, perusahaan teknologi, dan institusi penelitian. Misi Genesis digambarkan sebagai upaya besar yang sebanding dengan Proyek Manhattan atau Misi Apollo, yang dulu menjadi proyek raksasa dalam sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuannya adalah mengoordinasikan riset dari berbagai lembaga guna mencapai terobosan di berbagai bidang, termasuk sains, teknologi, dan keamanan nasional.
Selain itu, inisiatif ini juga didorong oleh motif geopolitik, yaitu memastikan Amerika Serikat tetap unggul dalam persaingan AI global, khususnya melawan China. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan bisa meningkatkan daya saing negara dalam industri AI yang semakin kompetitif.
Beberapa organisasi yang terlibat dalam perjanjian ini antara lain OpenAI, Anthropic, dan xAI; operator cloud seperti AWS, Google, Microsoft, dan Oracle; pembuat server Dell dan HPE; pemasok chip AMD, Intel, dan Nvidia; serta perusahaan analitik data Palantir. Perjanjian ini bukan sekadar kontrak layanan, melainkan Nota Kesepahaman (MoU) yang menjalin kerja sama dengan organisasi yang sudah menyatakan minat dalam merespons Request for Information (RFI) atau memiliki proyek aktif bersama DOE dan laboratorium nasionalnya.
Direktur Misi Genesis sekaligus Wakil Sekretaris DOE untuk Sains, Dr. Darío Gil, menjelaskan bahwa perjanjian ini akan memperkuat seluruh ekosistem riset dan pengembangan (R&D) Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa perjanjian ini membantu memenuhi Perintah Eksekutif Presiden Trump untuk membangun platform AI nasional yang dapat mendukung penemuan ilmiah dan meningkatkan kemampuan R&D AS.
Proyek Genesis sendiri dimulai bulan lalu melalui perintah eksekutif yang dikeluarkan oleh Presiden Trump. Sebagai bagian dari proyek ini, DOE mengumumkan pendanaan sebesar US$320 juta atau setara Rp5,3 triliun untuk empat inisiatif utama. Inisiatif tersebut mencakup pengembangan American Science Cloud (AmSC) sebagai infrastruktur utama Genesis, Konsorsium Model AI Transformasional (ModCon) untuk pengembangan model AI, serta proyek-proyek yang fokus pada kurasi data dan pengembangan model AI tervalidasi untuk kebutuhan ilmiah.
Salah satu perusahaan yang terlibat dalam proyek ini adalah CoreWeave, sebuah perusahaan neocloud yang menyediakan layanan sewa GPU. Perusahaan ini berencana untuk menghadirkan platform cloud AI khusus yang dirancang untuk mendukung beban kerja ilmiah tingkat lanjut. CEO CoreWeave, Michael Intrator, menyatakan bahwa Genesis mewakili komitmen nasional yang penting untuk mempercepat penemuan ilmiah sekaligus memperkuat posisi Amerika Serikat dalam riset dan inovasi.
Di sisi lain, konsultan McKinsey & Company menilai bahwa perusahaan neocloud seperti CoreWeave perlu menyesuaikan model bisnis mereka dengan menawarkan layanan berbasis infrastruktur AI, bukan hanya sewa waktu GPU. Proyek Genesis dinilai sebagai peluang strategis untuk mengarahkan perusahaan-perusahaan ini ke model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Sementara itu, DeepMind, anak usaha Google, akan menyediakan model AI terdepan untuk kebutuhan sains dan perangkat agen AI bagi para ilmuwan di Laboratorium Nasional DOE. Inisiatif ini akan dimulai dengan penggunaan AI co-scientist di Google Cloud. Teknologi ini digambarkan sebagai kolaborator ilmiah virtual multi agen yang dibangun di atas Gemini, yang telah dilatih menggunakan chip TPU AI berbasis cloud milik Google.
OpenAI juga menyatakan bahwa perjanjian ini melanjutkan kerja sama yang telah ada dengan Laboratorium Nasional DOE, sekaligus membuka peluang untuk pembahasan dan pengembangan perjanjian lanjutan seiring berkembangnya proyek-proyek spesifik.



