Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Menilai Perlu Menahan Suku Bunga
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menilai bahwa The Fed perlu menahan suku bunga untuk sementara waktu guna mengevaluasi dampak pemangkasan 75 basis poin sepanjang 2025. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks inflasi yang masih tinggi dan sinyal pelemahan pasar tenaga kerja.
“Posisi kita saat ini adalah skenario dasar saya, yakni mempertahankan kebijakan pada level ini untuk beberapa waktu sampai ada bukti yang lebih jelas apakah inflasi benar-benar kembali menuju target atau kondisi pasar tenaga kerja melemah secara lebih signifikan,” ujar Hammack dalam wawancara.
Pemangkasan suku bunga terakhir The Fed pada 10 Desember lalu diwarnai tiga suara berbeda (dissenting votes), jumlah terbanyak sejak 2019. Para pejabat bank sentral AS masih terbelah mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan, dengan sebagian pembuat kebijakan lebih mengkhawatirkan perlambatan pasar tenaga kerja, sementara lainnya menilai The Fed perlu memprioritaskan pengendalian inflasi yang masih berada di atas target.
Proyeksi suku bunga yang dirilis setelah rapat tersebut menunjukkan enam pejabat memilih untuk menahan suku bunga. Hammack menegaskan bahwa ia akan fokus untuk memastikan inflasi dapat kembali ke target. Menurutnya, itu adalah salah satu tujuan utama dan penting untuk diselesaikan oleh The Fed.
Data Ekonomi yang Tertunda Akibat Penutupan Pemerintahan
Para pembuat kebijakan juga baru menerima sejumlah data ekonomi pekan lalu yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan AS terlama dalam sejarah. Tingkat pengangguran AS tercatat naik menjadi 4,6% pada November dari 4,4% pada September.
Sementara itu, indeks harga konsumen inti (core CPI), yang mengecualikan harga pangan dan energi yang volatil, naik 2,6% secara tahunan pada November, menjadi laju kenaikan paling lambat sejak 2021.
Hammack menegaskan dirinya tidak terlalu bertumpu pada satu laporan ekonomi semata. Menurutnya, data inflasi terbaru masih mengandung gangguan akibat keterbatasan pengambilan sampel selama masa penutupan pemerintahan.
“Itu hanya satu angka dan saya ingin memberi waktu. Untungnya, kami memiliki cukup waktu sebelum pertemuan berikutnya untuk melihat gambaran yang lebih menyeluruh,” ujarnya.
Kondisi Inflasi dan Biaya Input
Dia menambahkan, inflasi telah bertahan di kisaran 3% selama sekitar satu setengah tahun terakhir, sementara biaya input bagi pelaku usaha masih terus meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memicu kembali tekanan kenaikan harga, sehingga memperkuat alasan bagi The Fed untuk bersikap hati-hati.
Usai pemangkasan suku bunga pada Desember, Hammack menyatakan dirinya lebih memilih kebijakan suku bunga berada pada posisi yang sedikit lebih ketat dibandingkan saat ini. Hal ini dilakukan untuk memastikan inflasi tetap terkendali dan pasar tenaga kerja tetap stabil.
Perspektif Ke depan
Dalam perspektif ke depan, Hammack menekankan pentingnya mengevaluasi semua data yang tersedia sebelum mengambil keputusan. Ia yakin bahwa dengan pendekatan yang hati-hati, The Fed dapat mencapai keseimbangan antara kontrol inflasi dan stabilitas pasar tenaga kerja.
Selain itu, ia juga menyatakan bahwa keputusan yang diambil harus didasarkan pada bukti yang jelas dan tidak hanya pada satu indikator ekonomi. Dengan demikian, The Fed dapat memastikan bahwa kebijakan moneter yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan ekonomi nasional.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pandangan Hammack menunjukkan bahwa The Fed perlu menahan suku bunga untuk sementara waktu agar dapat mengevaluasi dampak pemangkasan yang telah dilakukan. Dengan data ekonomi yang masih dalam proses pengumpulan dan analisis, keputusan yang diambil harus didasarkan pada informasi yang lengkap dan akurat.
Kebijakan yang diambil harus mampu menjaga inflasi tetap terkendali sambil tetap memperhatikan kondisi pasar tenaga kerja. Dengan pendekatan yang hati-hati dan berbasis data, The Fed dapat memastikan stabilitas ekonomi jangka panjang.



