Kembalinya Turnamen Tenis Antar-PTS Jawa Tengah Setelah 7 Tahun Absen
Setelah vakum selama tujuh tahun, ajang turnamen tenis antar perguruan tinggi swasta (PTS) di Jawa Tengah kembali digelar. Acara ini menjadi momen penting untuk membangun kembali hubungan antar-kampus yang sempat terganggu akibat berbagai tantangan.
Hingga hari Jumat (21/8/2026), sebanyak 42 pasangan telah mendaftar untuk mengikuti turnamen tenis LLDIKTI Wilayah VI yang akan berlangsung pada 28–30 Agustus 2026. Acara ini diinisiasi oleh pihak LLDIKTI Wilayah VI bersama beberapa PTS seperti Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).
Turnamen tersebut diharapkan dapat menjadi wadah untuk memperkuat ikatan antar PTS di wilayah Jawa Tengah. Ketua Panitia, Adhrial Refaddin, menjelaskan bahwa kembalinya acara ini adalah bentuk upaya untuk menghidupkan kembali ruang silaturahmi antarkampus.
“Turnamen tenis ini adalah edisi pertama setelah tujuh tahun off. Karena pandemi dan proses pemulihan yang cukup panjang, akhirnya dengan inisiatif dari beliau bertiga, kita adakan lagi turnamen tenis antar PTS di lingkungan LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah,” ujarnya.
Respons dari PTS di Jawa Tengah terhadap penyelenggaraan kembali turnamen ini cukup positif. Banyak kampus yang mengirimkan peserta dalam jumlah yang cukup besar, termasuk Unwahas, Unimus, UPGRIS, USM, dan UMP. Meski demikian, panitia masih menunggu persetujuan dari beberapa PTS lainnya.
Turnamen ini digelar di tiga lokasi, yaitu lapangan tenis LLDIKTI Wilayah VI, UPGRIS, dan Unimus. Peserta tidak hanya terbatas pada pimpinan perguruan tinggi, tetapi juga melibatkan unsur yayasan, rektorat, dekanat, ketua program studi, dosen tetap, hingga tenaga kependidikan.
Untuk tenaga kependidikan, peserta harus melampirkan surat keputusan pengangkatan sebagai pegawai di perguruan tinggi yang diwakili. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua peserta benar-benar berasal dari keluarga besar PTS masing-masing.
Kategori Pertandingan dan Sistem Kompetisi
Ada empat nomor yang dipertandingkan dalam turnamen ini, yaitu ganda eksekutif, ganda dengan akumulasi usia 100 tahun, ganda akumulasi usia 90 tahun, dan ganda akumulasi usia 80 tahun. Seluruh pertandingan menggunakan sistem gugur.
Kategori ganda eksekutif merupakan salah satu nomor baru yang diperkenalkan dalam penyelenggaraan tahun ini. Nomor ini diperuntukkan bagi unsur pimpinan perguruan tinggi, mulai dari pimpinan yayasan hingga pimpinan program studi. Sementara itu, kategori berdasarkan akumulasi usia memberikan ruang bagi dosen dan tenaga kependidikan yang masih aktif bermain tenis dengan rentang usia berbeda.
Adhrial menyatakan bahwa pembagian kategori ini diharapkan membuat pertandingan tetap kompetitif tanpa menghilangkan tujuan utama kegiatan sebagai ajang mempererat hubungan antar-PTS.
Teknis dan Aturan Pertandingan
Dari sisi teknis, panitia menggunakan aturan International Tennis Federation (ITF). Setiap pasangan mendapat waktu pemanasan selama lima menit dan wajib melakukan konfirmasi sebelum pertandingan. Jika peserta tidak hadir sesuai batas waktu yang ditentukan, pasangan tersebut akan dinyatakan walkover (WO).
“Lima belas menit waktu yang kami siapkan sebelum dinyatakan WO,” ujarnya.
Technical meeting dijadwalkan berlangsung sehari sebelum pertandingan dimulai. Forum tersebut akan menjadi kesempatan bagi panitia menjelaskan ketentuan pertandingan secara lebih rinci kepada peserta. Peserta dari luar kota diperkirakan mulai berdatangan pada 27 Agustus 2026.
Pembukaan kejuaraan dijadwalkan Jumat (28/8/2026) pagi di LLDIKTI Wilayah VI. Panitia juga menyiapkan pertandingan ekshibisi yang melibatkan sejumlah pimpinan perguruan tinggi.
Tujuan Utama Turnamen
Bagi Adhrial, pertandingan tenis hanya menjadi pintu masuk untuk mempertemukan kembali para pengelola perguruan tinggi dalam suasana yang lebih cair. “Pesan utama dari kegiatan ini adalah kami akan bertanding tidak hanya untuk menjadi juara, tetapi hadir untuk membangun persaudaraan, kebersamaan, dan kolaborasi perguruan tinggi di Wilayah VI dan perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah,” pesannya.
Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., mengatakan bahwa penyelenggaraan turnamen tersebut menunjukkan adanya gotong royong antara LLDIKTI dan perguruan tinggi yang terlibat. “Ini merupakan wujud gotong royong dalam membangun ekosistem pendidikan di Jawa Tengah yang sehat dan solid,” ujarnya.
Menurut Aisyah, nilai penting dari turnamen tidak berhenti pada persaingan untuk menjadi juara. Pertemuan antarpimpinan dan sivitas perguruan tinggi melalui olahraga justru dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas. “Turnamen ini sekali lagi bukan sekadar untuk mencari juara. Yang lebih penting adalah melalui tenis ini dapat memperkuat persaudaraan, membangun jejaring, dan menumbuhkan semangat kolaborasi,” katanya.
Ia berharap jejaring yang terbentuk melalui turnamen tersebut dapat berkembang menjadi kerja sama dalam berbagai bidang tridarma perguruan tinggi. Mulai dari riset, pengabdian kepada masyarakat, pelatihan, workshop hingga kegiatan akademik lainnya.
Aisyah juga mendorong agar semangat kegiatan serupa dapat disebarluaskan kepada PTS di wilayah LLDIKTI lainnya.
Rektor Unimus, Prof. Masrukhi, turut menyambut positif kembalinya turnamen tersebut. Menurutnya, kegiatan olahraga antarkampus dapat menjadi bagian dari pembinaan sekaligus memperluas komunikasi antar-PTS. “Ajang ini sangat positif untuk pembinaan kami semua, khususnya perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UPGRIS, Sapto Budoyo, melihat lapangan tenis sebagai ruang alternatif untuk mempertemukan para pengelola perguruan tinggi di luar suasana akademik formal. Menurutnya, interaksi yang terbangun dalam pertandingan dapat berkembang menjadi pembicaraan mengenai berbagai kemungkinan kerja sama. “Tenis ini bukan merupakan tujuan mencari kemenangan, tetapi mudah-mudahan menjadi sarana untuk mencapai bagaimana perguruan tinggi melaksanakan tridarmanya, baik pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, penelitian dan lain sebagainya,” tuturnya.
Turnamen yang kembali digelar setelah tujuh tahun tersebut akhirnya tidak hanya mempertarungkan kemampuan para peserta di lapangan. Di balik sistem gugur dan perebutan gelar juara, panitia dan penyelenggara berharap pertandingan menjadi titik awal untuk mempertemukan kembali PTS Jawa Tengah dalam semangat persaudaraan dan kolaborasi.



