
Festival Kuliner dan Seni Budaya Aceh di Jakarta
Bagi masyarakat Aceh yang tinggal di Jakarta, Festival Kuliner dan Seni Budaya Aceh menjadi ajang yang sangat dinantikan. Acara ini diselenggarakan di Plaza Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, selama 10 hari mulai dari tanggal 22 hingga 31 Agustus 2025. Festival ini menawarkan berbagai pilihan masakan khas Aceh, baik yang populer maupun yang sulit ditemukan di tempat-tempat biasa.
Salah satu pengunjung yang hadir adalah Indah Ariani dari Tangerang, Banten. Ia datang bersama rombongan keluarga besar Aceh menggunakan tiga mobil yang berisi 16 orang. Menurut Indah, orang Aceh cenderung antusias ketika mendengar kabar adanya festival kuliner seperti ini karena rindu akan masakan kampung halaman.
Meskipun di Jakarta sudah tersedia banyak warung makan Aceh, seperti mi atau nasi goreng, festival ini menawarkan variasi makanan yang tidak bisa ditemukan di tempat-tempat biasa. Salah satu hidangan yang paling diminati adalah kuah beulangong, yaitu sejenis kari dari daging kambing atau sapi dengan cita rasa rempah yang khas. “Kuah beulangong jarang ditemukan, jadi semua orang yang datang ke sini pasti mencarinya,” kata Indah.
Hidangan ini dijual di warung Mie Aceh Meutuah dengan harga Rp 50 ribu per porsi, termasuk nasi. Di Jakarta, makanan ini sangat langka, bahkan di kedai-kedai Aceh. Biasanya hanya tersedia pada momen-momen penting seperti Maulid Nabi, halalbihalal, atau pesta pernikahan.
Indah juga senang menemukan pliek u, sejenis sayur dengan kuah bumbu rempah. Isiannya mirip dengan lodeh, seperti daun melinjo, melinjo, jagung, dan terong. Makanan ini paling lezat disantap dengan ikan asin. Jadi, saat membeli sayur ini, pengunjung juga mendapatkan sepotong ikan asin.
Menurut Indah, orang Aceh umumnya sangat fanatik terhadap makanan dari daerahnya. Meski ia lahir dan besar di Tangerang, ia sering mencari makanan Aceh di Jakarta. Biasanya ia mengunjungi rumah makan Cut Nyak di Bendungan Hilir atau Jambo Kupi di Pasar Minggu.
Ragam Pilihan Kuliner Aceh
Selain kuah beulangong dan mi Aceh, festival ini menyajikan berbagai macam masakan Aceh lainnya. Pengunjung bisa menemukan nasi gurih, kari bebek, nasi tumpah kari, sate Aceh, martabak telur, martabak kubang, gulai batang pisang, kebuli, roti jala, dan rujak. Tidak ketinggalan juga kue-kue tradisional seperti timpan, pulut bakar, dan roti sale samahani. Untuk minuman, tersedia kopi sanger, teh tarik, dan es timun.
Halim Thomas, koordinator kuliner di festival ini, mengatakan bahwa beberapa makanan banyak diminati oleh pengunjung. Selain kuah beulangong, mi Aceh dan mi bangladesh juga menjadi incaran. Mi bangladesh dibuat dari mi goreng instan yang dicampur dengan bumbu khas Aceh.
Selain itu, kue basah dan rujak Aceh juga sangat diminati. “Kue basahnya berupa timpan yang dibungkus daun pisang dengan isi kelapa dan srikaya. Ada juga yang dibungkus dengan daun dibakar, namanya pulut bakar,” ujar Halim.
Festival Kuliner dan Seni Budaya Aceh diselenggarakan oleh Taman Iskandar Muda, sebuah organisasi silaturahmi masyarakat Aceh di perantauan. Halim tidak menyangka antusiasme masyarakat begitu tinggi. Bukan hanya untuk berburu kuliner, tetapi juga untuk menyaksikan lomba tari ratoh jaroe yang diikuti ribuan siswa di Jakarta.
Acara ini dimulai pada 22 Agustus, tetapi baru resmi dibuka pada Ahad, 24 Agustus 2025. Pembukaan dihadiri oleh Wali Nangroe Aceh Teungku Malik Mahmud Al-Haytar. Festival ini bukan hanya untuk mempromosikan kuliner dan seni budaya Serambi Makkah, tetapi juga sebagai ajang silaturahmi bagi masyarakat Aceh di Jakarta.