
Perbedaan Antara Ruruhi dan Gowok
Buah ruruhi dan gowok sering dianggap sama karena bentuknya yang bulat. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa keduanya merupakan spesies yang berbeda. Penelitian ini dilakukan oleh sejumlah ilmuwan dari berbagai lembaga riset di Indonesia.
Tim peneliti terdiri dari Irvan Martiansyah dari Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Muhammad Rifqi Hariri dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, serta Arifin Surya Dwipa Irsyam sebagai kurator Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka mengidentifikasi buah ruruhi dengan nama ilmiah baru yaitu Syzygium rubrocarpum. Nama lain untuk buah ini adalah jambu hutan Sulawesi.
Buah ruruhi memiliki bentuk bulat dan berwarna merah. Bunga dari pohon ini memiliki kelopak berwarna merah muda dan benang sari berwarna putih. Daun pohon ruruhi berbentuk elips sempit atau lonjong dengan 13-15 urat daun lateral. Tinggi pohon bisa mencapai 8 meter.
Menurut Arifin, ruruhi merupakan jambu endemik Sulawesi Tenggara. Saat ini, sebarannya diketahui hanya di Kolaka dan Kendari. Sementara itu, gowok telah lebih dulu memiliki nama ilmiah Syzygium polycephalum. Ciri-ciri gowok mirip dengan ruruhi, tetapi berwarna ungu gelap. Pohon gowok tersebar lebih luas dibandingkan ruruhi, seperti di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Awal Penelitian Identifikasi Ruruhi
Penelitian identifikasi ruruhi dimulai dari pengamatan tim di Kebun Raya Bogor pada 2024. Saat itu mereka mengidentifikasi spesimen Syzygium dari Blok XII. B. VIII.58 dengan label Eugenia sp., yang dikumpulkan oleh R. Subekti Purwantoro dan rekan-rekannya pada 2 September 1996 di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tepatnya dari Kawasan Konservasi Lamedai.
Tumbuhan tersebut dinilai memiliki ciri morfologi unik yang membedakannya dari spesies Syzygium Wallacea lainnya, terutama buahnya yang berwarna merah dan bulat. Hasil riset sebelumnya menyebut ruruhi sebagai Syzygium polycephalum, yang sebenarnya adalah gowok. “Karena secara sepintas mirip dan mungkin peneliti sebelumnya tidak mendalami taksonomi tumbuhan sehingga dianggap sama,” ujar Arifin.
Bukti Morfologi dan Molekuler
Hasil identifikasi ruruhi mengoreksi kekeliruan tersebut dengan bukti morfologi dan molekuler. Dengan penemuan ini, diharapkan dapat membuka cakrawala bagi para peneliti lain dalam memahami keberagaman hayati Indonesia.
Beberapa hal yang menjadi dasar identifikasi adalah perbedaan warna buah, bentuk daun, serta struktur bunga. Selain itu, analisis DNA juga digunakan untuk memastikan perbedaan antara kedua spesies tersebut. Hal ini sangat penting dalam memperkuat data ilmiah dan menjaga akurasi identifikasi tumbuhan.
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan akan semakin banyak peneliti yang tertarik untuk mengkaji tanaman-tanaman endemik Indonesia. Hal ini juga akan berdampak positif terhadap pelestarian keanekaragaman hayati dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang flora Indonesia.