Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 13 Mei 2026
Trending
  • Penyelidikan kasus pemerasan oleh jaksa oleh kuasa hukum Roni Sonbai
  • Naskah Khutbah Jumat 8 Mei 2026: Upaya Melindungi Diri dan Keluarga dari Neraka
  • Guru BK Potong Rambut Siswi Berhijab, Orang Tua Tak Terima Maaf, KDM Beri Sanksi
  • Modus kiai cabul di Pati, santriwati diajak tidur bareng dengan alasan penyembuhan
  • Naskah Khutbah Jumat 8 Mei 2026: Menjemput Hidayah untuk Tujuan Hidup yang Benar di Jalan Allah
  • Skandal Presensi Fiktif 3.000 ASN Brebes: Aplikasi Ilegal untuk Bolos Kerja dan Terima Tunjangan
  • Pertanyaan Penting Hakim dalam Persidangan Andrie Yunus
  • Tangis Pecah di Tipikor Semarang: 3 Bos Bank BJB Dinyatakan Bebas dalam Kasus Kredit Sritex
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Daerah»E-Learning Jadi Senjata Baru Percepatan Penurunan Stunting di Desa
Daerah

E-Learning Jadi Senjata Baru Percepatan Penurunan Stunting di Desa

Redaksi Indonesia DiscoverBy Redaksi Indonesia Discover29 April 2026Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Bekasi – Upaya percepatan penurunan stunting di desa kini mulai diarahkan ke pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pemerintah mendorong pemanfaatan pembelajaran digital sebagai instrumen baru untuk memperkuat kapasitas pelaku pembangunan desa.

Langkah ini mengemuka dalam rapat finalisasi modul e-learning konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting yang digelar di Hotel Horison Ultima Bekasi, Senin (27/4/2026). Kegiatan tersebut melibatkan lintas kementerian dan lembaga, mulai dari Kemendesa PDT, Bappenas, BKKBN, Kementerian Kesehatan, hingga Kementerian Dalam Negeri.

Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan, Drs. Andrey Ikhsan Lubis, menilai transformasi metode pembelajaran menjadi kebutuhan mendesak di tengah kompleksitas persoalan stunting.

Menurutnya, pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan di lapangan. “Stunting bukan persoalan tunggal. Ia berkaitan dengan pola asuh, sanitasi, layanan kesehatan, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat,” ujarnya dalam sambutan.

Ia menekankan, desa menjadi titik krusial dalam implementasi kebijakan karena bersentuhan langsung dengan kelompok sasaran, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Karena itu, penguatan kapasitas aparatur dan pendamping desa dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan intervensi.

Dalam konteks tersebut, pengembangan modul e-learning disebut sebagai upaya memperluas akses pembelajaran yang lebih fleksibel dan berkelanjutan. Materi dirancang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktik lapangan, termasuk pendataan, pelaporan, hingga pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan.

Kepala BPSDM Kemendesa PDT, Dr. Agustomi Masik, menegaskan bahwa pendekatan terhadap stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Ia menyebut persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai aspek kehidupan masyarakat desa.

“Ini bukan sekadar soal makanan. Ada pola asuh, sanitasi, hingga kebijakan desa yang harus berjalan beriringan,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Bina Institusi Masyarakat BKKBN, Dr. Mahyuzar, menyoroti peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) sebagai ujung tombak di tingkat akar rumput. Pendampingan langsung kepada keluarga dinilai menjadi kunci dalam memastikan intervensi berjalan efektif.

Di sisi lain, aspek desain pembelajaran juga menjadi perhatian. Pakar teknologi pembelajaran, Prof. Dr. Ir. Dwi Sulisworo, mengingatkan bahwa digitalisasi modul tidak boleh berhenti pada perubahan format.

“E-learning bukan sekadar memindahkan materi ke platform online. Harus ada desain pembelajaran yang tepat dan relevan dengan konteks sosial masyarakat,” ujarnya.

Rapat finalisasi ini menjadi tahap penting sebelum modul diterapkan secara luas. Pemerintah berharap, melalui pendekatan digital yang lebih terintegrasi, intervensi penurunan stunting di desa dapat berjalan lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Meski demikian, sejumlah pembahasan masih akan dilanjutkan setelah beberapa perwakilan kementerian/lembaga berhalangan hadir dalam forum tersebut.

Penulis: Abdurrahman

E-Learning Jadi Senjata Baru Percepatan Penurunan Stunting di Desa Penurunan Stanting di Desa Stunting
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Redaksi Indonesia Discover

    Berita Terkait

    Parfum asal Singapura tawarkan konsentrasi 50 persen untuk menjawab iklim tropis di Indonesia

    8 Mei 2026

    8 Kecelakaan Kereta Api Paling Mengerikan di Indonesia

    8 Mei 2026

    Rayakan momen spesial dengan solusi rumah terlengkap dan cepat

    8 Mei 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Penyelidikan kasus pemerasan oleh jaksa oleh kuasa hukum Roni Sonbai

    13 Mei 2026

    Naskah Khutbah Jumat 8 Mei 2026: Upaya Melindungi Diri dan Keluarga dari Neraka

    13 Mei 2026

    Guru BK Potong Rambut Siswi Berhijab, Orang Tua Tak Terima Maaf, KDM Beri Sanksi

    13 Mei 2026

    Modus kiai cabul di Pati, santriwati diajak tidur bareng dengan alasan penyembuhan

    13 Mei 2026
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
    • Home
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • PT. Indonesia Discover Multimedia
    • Indeks Berita

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?