Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 5 Juni 2026
Trending
  • Nih! 5 Aplikasi Investasi Emas Terbaik di Indonesia
  • Padang Ati di Pekalongan Bukan Ponpes Resmi
  • 20 Soal IPA Kelas 7 SMP Semester 2 Kurikulum Merdeka 2026 dan Jawaban Bab 1 dan 2
  • Peta Persaingan Grup I Piala Dunia 2026: Prancis Unggulan, Senegal dan Norwegia Siap Tantang
  • Menikmati Keindahan Bromo dengan Aman: Pahami Risiko dan Aturan Wisata
  • 7 Tanda Tubuh Terkena Asam Urat yang Tak Boleh Diabaikan
  • Kode Redeem Mobile Legends 3 Juni 2026, Cek Hadiahnya!
  • Aturan Pajak Baru: Dokter hingga Selebgram Kehilangan PPh Final 0,5%
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Daerah»E-Learning Jadi Senjata Baru Percepatan Penurunan Stunting di Desa
Daerah

E-Learning Jadi Senjata Baru Percepatan Penurunan Stunting di Desa

Redaksi Indonesia DiscoverBy Redaksi Indonesia Discover29 April 2026Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Bekasi – Upaya percepatan penurunan stunting di desa kini mulai diarahkan ke pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Pemerintah mendorong pemanfaatan pembelajaran digital sebagai instrumen baru untuk memperkuat kapasitas pelaku pembangunan desa.

Langkah ini mengemuka dalam rapat finalisasi modul e-learning konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting yang digelar di Hotel Horison Ultima Bekasi, Senin (27/4/2026). Kegiatan tersebut melibatkan lintas kementerian dan lembaga, mulai dari Kemendesa PDT, Bappenas, BKKBN, Kementerian Kesehatan, hingga Kementerian Dalam Negeri.

Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan, Drs. Andrey Ikhsan Lubis, menilai transformasi metode pembelajaran menjadi kebutuhan mendesak di tengah kompleksitas persoalan stunting.

Menurutnya, pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan di lapangan. “Stunting bukan persoalan tunggal. Ia berkaitan dengan pola asuh, sanitasi, layanan kesehatan, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat,” ujarnya dalam sambutan.

Ia menekankan, desa menjadi titik krusial dalam implementasi kebijakan karena bersentuhan langsung dengan kelompok sasaran, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Karena itu, penguatan kapasitas aparatur dan pendamping desa dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan intervensi.

Dalam konteks tersebut, pengembangan modul e-learning disebut sebagai upaya memperluas akses pembelajaran yang lebih fleksibel dan berkelanjutan. Materi dirancang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktik lapangan, termasuk pendataan, pelaporan, hingga pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan.

Kepala BPSDM Kemendesa PDT, Dr. Agustomi Masik, menegaskan bahwa pendekatan terhadap stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Ia menyebut persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai aspek kehidupan masyarakat desa.

“Ini bukan sekadar soal makanan. Ada pola asuh, sanitasi, hingga kebijakan desa yang harus berjalan beriringan,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Bina Institusi Masyarakat BKKBN, Dr. Mahyuzar, menyoroti peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) sebagai ujung tombak di tingkat akar rumput. Pendampingan langsung kepada keluarga dinilai menjadi kunci dalam memastikan intervensi berjalan efektif.

Di sisi lain, aspek desain pembelajaran juga menjadi perhatian. Pakar teknologi pembelajaran, Prof. Dr. Ir. Dwi Sulisworo, mengingatkan bahwa digitalisasi modul tidak boleh berhenti pada perubahan format.

“E-learning bukan sekadar memindahkan materi ke platform online. Harus ada desain pembelajaran yang tepat dan relevan dengan konteks sosial masyarakat,” ujarnya.

Rapat finalisasi ini menjadi tahap penting sebelum modul diterapkan secara luas. Pemerintah berharap, melalui pendekatan digital yang lebih terintegrasi, intervensi penurunan stunting di desa dapat berjalan lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.

Meski demikian, sejumlah pembahasan masih akan dilanjutkan setelah beberapa perwakilan kementerian/lembaga berhalangan hadir dalam forum tersebut.

Penulis: Abdurrahman

E-Learning Jadi Senjata Baru Percepatan Penurunan Stunting di Desa Penurunan Stanting di Desa Stunting
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Redaksi Indonesia Discover

    Berita Terkait

    Membanggakan! Mahasiswa UNISMA, Shalwaa Kia Lolos Konferensi Internasional di Tiga Negara

    31 Mei 2026

    Renungan Selasa 12 Mei 2026: Yesus Pergi dengan Sukacita

    16 Mei 2026

    Parfum asal Singapura tawarkan konsentrasi 50 persen untuk menjawab iklim tropis di Indonesia

    8 Mei 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Nih! 5 Aplikasi Investasi Emas Terbaik di Indonesia

    5 Juni 2026

    Padang Ati di Pekalongan Bukan Ponpes Resmi

    5 Juni 2026

    20 Soal IPA Kelas 7 SMP Semester 2 Kurikulum Merdeka 2026 dan Jawaban Bab 1 dan 2

    5 Juni 2026

    Peta Persaingan Grup I Piala Dunia 2026: Prancis Unggulan, Senegal dan Norwegia Siap Tantang

    5 Juni 2026
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
    • Home
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • PT. Indonesia Discover Multimedia
    • Indeks Berita

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?