Otomotif Nissan Masih Pertimbangkan Teknologi Hidrogen dan Biofuel

Nissan Masih Pertimbangkan Teknologi Hidrogen dan Biofuel

25
0
Pabrik Nissan Thailand Pasok Kendaraan Elektrifikasi untuk Asia Tenggara

IndonesiaDiscover –

Teknologi e-Power menjadi solusi yang ditawarkan Nissan bagi konsumen yang beralih dari mesin konvensional ke mesin listrik. Masuk dalam kategori sistem hybrid seri, dengan mesin pembakaran internal sebagai generatornya. Nissan pun melihat potensi pengembangan e-Power lebih lanjut. Bahkan sel bahan bakar dan biofuel kini menjadi perhatian mereka.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Isao Sekiguchi, Presiden Nissan ASEAN dan Nissan Thailand saat menghadiri Nissan e-Power Experience di Thailand November lalu. Peluang energi alternatif disebut telah menarik perhatian para insinyur di pusat penelitian dan pengembangan Nissan. Selain itu, di Indonesia, perusahaan minyak milik negara baru-baru ini meluncurkan biofuel berbasis bensin, yang memiliki emisi lebih ramah lingkungan.

Meski sudah masuk radar, Sekiguchi mengakui energi dari sel bahan bakar dan biofuel tidak hanya digunakan untuk e-Power saja. Sebab ternyata powertrain ini masih memerlukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut. Tujuannya agar kandungan dan pengolahan energi alternatif kompatibel dengan spesifikasi mesin e-Power.

Nissan Kicks e-power

“Jadi yang saya tahu adalah Nissan punya beberapa pilihan termasuk sel biofuel yang Anda sebutkan. Hidrogen adalah sesuatu yang kami pelajari tapi untuk model kami tapi itu bukan solusi yang ideal, inilah posisi energi hidrogen saat ini. Tapi biofuel adalah sesuatu yang insinyur kami sedang amati di pusat R&D mereka di Jepang yang saya bahkan tidak dibolehkan masuk,” kata Sekiguchi saat dijumpai oleh media di Chiang Mai, Thailand bulan lalu.

Baca juga: Akhir Tahun, Harga Bahan Bakar Non Subsidi Turun Tipis

Ia lanjut menjelaskan, spesifik pasar Thailand, Nissan bakal mempertimbangkan pilihan konsumen dan kebijakan pemerintah. Barulah memutuskan bakal fokus pada arah pengembangannya.

“Kami menampung semua opsi ini dan lagi-lagi kebijakan pemerintah yang akan menentukan arah mana yang kami ambil, ini satu hal. Hal lain adalah pilihan konsumen yang tadi juga disebutkan, sekali lagi ke mana arah yang akan diambil pemerintah dan mereka yang menentukan kebijakan dan terkadang memberi insentif karena pemerintah Thailand ingin mendorong EV, dan itu sebabnya ada insentif.”

Di Indonesia, Nissan juga menaruh perhatian pada biofuel yang baru-baru ini dijual oleh Pertamina. Sekiguchi mengatakan hal ini serupa dengan yang terjadi di Brasil, Amerika Latin. Namun, Nissan mengikuti pedoman pemerintah masing-masing negara dan mempertimbangkan opsi teknologi yang mungkin diadopsi di masa depan.

Nissan Kicks e-Power production

Saat ini belum ada model Nissan yang dirancang khusus menggunakan biofuel. Teknologi e-Power di model lain seperti X-Trail dan Serena, sejauh ini kompatibel dengan bensin biasa dari banyak produsen.

Nissan Kicks e-Power dibekali motor elektrik sebagai penggerak roda, seperti halnya mobil listrik murni. Meski demikian, genset 3-silinder 1,2 liter tetap menghasilkan sejumlah emisi CO2. Emisi e-Power pun diyakini bisa lebih bersih jika bisa mengonsumsi biofuel dan dikembangkan dengan baik. Bagi Nissan, elektrifikasi akan menjadi isu yang semakin penting dalam penjualan kendaraan di masa depan.

“Tapi sekali lagi e-Power dan BEV adalah dua inti dari teknologi dan inovasi yang kami punya, dan mungkin ini yang akan kami dorong lebih jauh lagi. Kicks e-Power sendiri kami masih perlu pembuktian di jalan, ini adalah yang sedang kami upayakan,” tambah mantan pemimpin Nissan di Indonesia itu.

Thailand saat ini menjadi basis produksi Nissan untuk teknologi e-power di kawasan ASEAN. Kicks kelahiran Thailand merupakan satu-satunya model e-Power yang tersedia untuk saat ini di wilayah tersebut. Sedangkan model baru e-Power dijanjikan bakal menyusul tersedia di Asia Tenggara. Bisa dari X-Trail maupun Serena.

(WHY/TOM)

Baca juga: Mengintip Dapur Produksi MG di Thailand

Tinggalkan Balasan