Otomotif Ini Rekomendasi Agar Indonesia Bisa Beralih Lebih Cepat Menuju Mobilitas EV

Ini Rekomendasi Agar Indonesia Bisa Beralih Lebih Cepat Menuju Mobilitas EV

41
0
Ini Rekomendasi Agar Indonesia Bisa Beralih Lebih Cepat Menuju Mobilitas EV

IndonesiaDiscover –

 

Insentif dan pengembangan merek otomotif kendaraan listrik dalam negeri bisa mempercepat peralihan mobilitas EV di Indonesia. Ini diutarakan perusahaan konsultasi global, Arthur D. Little (ADL) dalam laporan terbarunya berjudul “Global Electromobility Readiness Index (GEMRIX) edisi 2022-2023”.

Laporan ini dibuat berdasarkan evaluasi 15 pasar berbagai negara secara global yang dikenal getol dengan usahanya merangkul electric vehicle (EV). ADL membagi 15 negara ini dalam beberapa bagian seperti Global Benchmark, Ambitius Follower, Emerging EV Market dan Starter.

Indonesia masuk ke urutan 10 di dalam grup Emerging EV Market dengan poin 43 dari 100, berkat kondisi pasar kendaraan listrik saat ini. Posisi Indonesia ada di atas India, Vietnam, Mexico, Brazil dan Afrika Selatan dimana kelima negara ini masuk dalam grup Starters alias pemula yang tengah beranjak.

Andreas Schlosser, Partner dan Global Head of ADL Automotive Practice, mengungkapkan. Saat ini hanya Norwegia yang masuk dalam negara Global Benchmark untuk EV dengan skor 116. Cara yang dilakukan Norwegia sama seperti Indonesia yakni dengan memberikan subsidi atau bantuan untuk lebih cepat dalam mengadopsi kendaraan listrik.

“Saya melihat adopsi EV di setiap negara serupa namun timeline juga local context-nya berbeda. Pada negara Starter, faktor biaya lebih pentin. Di pasar negara berkembang, ekosistem EV jadi yang terpenting. Pasar Ambitious Follower punya konsumen yang memiliki mindset untuk mengadopsi EV juga karena pilihan model yang lebih banyak,” ucap Andreas kepada media di acara “Unleashing Indonesia’s Electric Mobility Potential”, Selasa (1/8/2023).

Sayangnya, bila hanya mengandalkan subsidi dan insentif yang ada saat ini, percepatan EV belum maksimal. Hirotaka Uchida, Partner ADL dan Head of Automotive and Manufacturing Practice Asia Tenggara menjelaskan soal subsidi Indonesia saat ini hanya berfokus pada produk, tidak pada infrastruktur. Padahal poin penting untuk pengembangan EV adalah hadirnya infrastruktur yang berjalan beriringan.

“Pemerintah tidak memberikan insentif pada pengembangan infrastruktur listrik. Ini berbeda dengan yang dilakukan pemerintah di beberapa negara seperti Thailand dan India yang bisa memberikan insentif untuk infrastruktrur juga tax free untuk operator,” ucap Hirotaka di kesempatan yang sama.

Menurut ADL, Indonesia memiliki lima tantangan mendasar untuk melakukan peralihan menuju mobilitas listrik. Pertama ada ketergantungan yang kuat pada produksi Original Equipment Manufacturer (OEM) otomotif yang terbatas. Secara khusus merujuk kepada pabrikan Jepang yang merajai pasar Tanah Air. ADL menilai merek-merek ini memang memilih jalan bertahap untuk peralihan ke EV.

“Tantangan ini bisa menjadi kesempatan untuk Indonesia mengembangkan merek otomotif dalam negeri seperti yang dilakukan Vietnam, Thailand dan India. Kita sudah melihat beberapa merek di roda dua, tinggal di pasar roda empat yang harusnya jadi kesempatan emas kehadiran produsen otomotif dalam negeri. Kehadiran beberapa merek yang menawarkan produk EV juga membantu peralihan ke mobilitas listrik,” ucap Hirotaka.

Baca Juga: Alasan Pemerintah Belum ‘Berani’ Kucurkan Insentif untuk Konversi Mobil Listrik

ADL Consultant

Tantangan kedua seperti yang sudah disebutkan adalah infrastruktur pengisian daya. ADL berharap pengembangan ini tidak harus bertumpu pada pemerintah lewat PLN namun membuka pintu investasi sebesar-besarnya pada pembangunan infrastruktur.

“Di beberapa negara, perusahaan rintisanlah yang menopang infrastruktur pengisian daya. Jangan saling menunggu, layaknya ayam atau telur, melihat mana infrastruktur atau produk EV dulu. Kami rekomendasikan lakukan keduanya secara paralel,” tambah Andreas.

Tantangan ketiga dan keempat adalah mengenai pemrosesan nikel yang kurang berkembang dan ancaman baterai generasi baru seperti lithium ferro phospate terhadap jenis nikel manganese cobalt. Saat ini, Indonesia memiliki sumber daya nikel yang terhitung besar. ADL berharap potensi ini juga diimbangi dengan pengetahuan pengolahan yang turut berkembang utamanya untuk memproduksi jenis baterai baru.

“Indonesia harus tetap up-to-date untuk pengolahan. Ini bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan negara lain. Intinya jangan sampai Indonesia ketinggalan dengan perkembangan teknologi baterai,” ucap Hirotaka.

Tantangan terakhir, keseimbangan antara keterkaitan regional dan prioritas nasional. Beberapa hal berkaitan dengan potensi pasar di kawasan dan juga arah jalan pemerintah Indonesia untuk bermain di industri EV yang lebih baik. Indonesia berada dalam posisi tepat untuk berkemabng menjadi pusat mobilitas listrik secara global, khususnya di Asia Tenggara. Target pemerintah saat ini memerlukan langkah konkrit dan ADL merekomendasikan untuk mendorong produksi lokal secara strategis.

Akshay Prasad, Manager ADL Asia Tenggara menjelaskan, kesuksesan prospek kendaraan listrik Indonesia terletak kepada daya tarik produsen baru, sebut saja negara seperti Tiongkok, India, Korea yang dominan. Juga diharapkan kehadiran pemain lokal yang fokus mengembangkan kendaraan listrik sehingga pasar yang saat ini didominasi produsen yang memilih produk ICE bisa ditekan.

“Strategi ini memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk mempertimbangkan pengembangan OEM lokal yang selama ini kurang. Mempromosikan mobil listrik lokal secara strategi melalui insentif yang ditargetkan, seperti pembebasan bea masuk untuk komponen tertentu dan penetapan batas minimum yang lebih tinggi untuk investasi, dapat mendorong masuknya pemain utama dan menandakan pasar yang lebih berkembang,” ucap Prasad. (STA/ODI)

 

Baca Juga: Pemerintah Bakal Ubah Syarat Penerima Bantuan untuk Kendaraan Listrik

Tinggalkan Balasan