Pasar saham Wall Street mengalami penurunan pada sesi perdagangan yang bergejolak, setelah libur panjang akhir pekan. Indeks utama mengalami tekanan berat, terutama saham-saham teknologi yang menjadi sorotan karena kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap model bisnis perusahaan.
Penurunan Saham Teknologi Akibat Kekhawatiran AI
Saham-saham besar di sektor teknologi mengalami penurunan signifikan. Contohnya, saham Nvidia turun 1,6% dan Microsoft melemah 1,3%. Hal ini terjadi karena investor khawatir tentang kemungkinan disrupsi bisnis akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). Pekan sebelumnya, pasar sempat mencatat penurunan mingguan terdalam sejak pertengahan November, dipicu oleh ketidakpastian mengenai dampak AI terhadap berbagai industri.
Perusahaan asal Tiongkok seperti Alibaba juga turut memperburuk situasi. Perusahaan meluncurkan model AI terbaru mereka, Qwen 3.5, yang diklaim mampu menyelesaikan tugas kompleks secara mandiri. Ini menambah kekhawatiran investor terhadap persaingan global dalam pengembangan AI.
Di sektor chip, saham Intel turun 2,2%, sedangkan AMD anjlok 5,2%. Indeks semikonduktor Philadelphia SE Semiconductor Index juga turun 2,3%.
Indeks Utama Wall Street Melemah
Pada pukul 10.01 pagi waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average turun 175,80 poin atau 0,35% ke 49.326,73. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 50,44 poin atau 0,75% ke 6.784,64, dan Nasdaq Composite melemah 258,44 poin atau 1,15% ke 22.288,23.
Namun, sektor keuangan menjadi titik terang. Indeks keuangan S&P 500 naik 0,8%, didorong oleh kenaikan saham bank besar seperti Goldman Sachs yang naik 0,7% dan JPMorgan Chase yang menguat 1,1%.
Sebaliknya, saham perangkat lunak tetap tertekan. CrowdStrike, Adobe, dan Salesforce turun antara 2% hingga 5%. Sektor material di S&P 500 merosot 2,1% seiring pergerakan harga logam mulia, sementara sektor energi terkoreksi 1,8%.
Fokus pada Data Inflasi AS dan Arah Suku Bunga The Fed
Pasar saat ini fokus pada laporan personal consumption expenditure (PCE), indikator inflasi pilihan The Federal Reserve. Data tersebut dinilai penting untuk menentukan arah kebijakan suku bunga.
Laporan inflasi konsumen pekan lalu menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi, meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga tahun ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni mencapai 52%, naik dari sekitar 49% sepekan sebelumnya.
Aksi Korporasi Gerakkan Saham Individual
Beberapa saham mengalami kenaikan signifikan karena aksi korporasi. Contohnya, saham Warner Bros. Discovery naik 2,4% setelah menolak tawaran akuisisi dari Paramount Global. Saham Paramount melonjak 7,8%.
Norwegian Cruise Line naik hampir 8% setelah investor aktivis Elliott mengungkapkan kepemilikan lebih dari 10% di perusahaan. Fiserv juga naik hampir 4,4% setelah Jana Partners mengambil posisi di perusahaan pembayaran tersebut.
Masimo mengalami kenaikan terbesar, yaitu sekitar 34%, setelah Danaher mengumumkan akan mengakuisisi produsen pulse-oximeter tersebut senilai US$9,9 miliar. Namun, saham Danaher justru turun 3,4%.
Sentimen Geopolitik dan Breadth Pasar
Dari sisi geopolitik, Menteri Luar Negeri Iran menyatakan negaranya telah mencapai pemahaman dengan Amerika Serikat dalam putaran kedua perundingan nuklir di Jenewa, meski masih diperlukan pembahasan lanjutan.
Secara keseluruhan, saham yang melemah mengungguli saham yang menguat dengan rasio 1,62 banding 1 di NYSE dan 1,72 banding 1 di Nasdaq. Indeks S&P 500 mencatat 35 saham mencetak level tertinggi baru dalam 52 pekan dan lima saham menyentuh level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 42 saham mencapai level tertinggi baru dan 109 saham menyentuh level terendah baru.
Tekanan pada saham teknologi dan kekhawatiran terhadap disrupsi AI menunjukkan bahwa volatilitas masih membayangi pasar saham AS, meskipun ekspektasi pemangkasan suku bunga memberi sedikit harapan bagi investor.



