WASHINGTON DC, Indonesiadiscover.com –
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pernyataan yang sangat keras terkait ancaman dari Iran. Dalam wawancara dengan News Nation untuk memperingati satu tahun masa jabatannya, Trump mengungkapkan bahwa AS akan mengambil tindakan tegas jika Teheran mencoba membunuh dirinya. Ia menegaskan bahwa instruksi yang dikeluarkan adalah “sangat keras” dan akan membuat Iran “hilang dari muka bumi.”
Instruksi Keras dari Trump
Dalam wawancara tersebut, Trump menjelaskan bahwa respons AS akan bersifat menyeluruh jika ancaman tersebut benar-benar dilakukan. Ia menekankan bahwa seluruh negara akan dihancurkan, dan pihaknya akan memberikan serangan yang tidak terelakkan. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks ketegangan yang meningkat antara Washington dan Teheran, yang dipicu oleh gelombang protes di Iran serta saling tuduhan antara kedua pihak.
Trump juga mengkritik pendahulunya, Joe Biden, karena dinilai tidak merespons ancaman Iran secara tegas. Ia menambahkan bahwa presiden seharusnya melindungi mantan presiden saat itu. Selain itu, ia menegaskan bahwa ia akan bereaksi keras terhadap ancaman terhadap siapa pun, termasuk warga Amerika, meskipun bukan lagi presiden.
Klaim Upaya Pembunuhan
Pernyataan Trump muncul setelah Departemen Kehakiman AS mengumumkan pada November 2024 bahwa FBI telah menggagalkan upaya Iran untuk membunuh Trump sepekan sebelum pemilu. Pejabat federal menyebut rencana tersebut sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Teheran untuk menargetkan pejabat pemerintah AS.
Ketegangan antara dua negara meningkat setelah protes meletus di Iran pada 28 Desember akibat situasi ekonomi yang memburuk. Trump memperingatkan agar tidak terjadi pembunuhan terhadap pengunjuk rasa dan eksekusi massal, serta mengkritik cara otoritas Iran menangani kerusuhan. Ia bahkan mengancam akan mendukung para demonstran dan menyerukan berakhirnya kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang telah berlangsung selama 37 tahun.
Respons Keras dari Teheran
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, merespons dengan menyatakan bahwa menargetkan Khamenei sama dengan “deklarasi perang total terhadap rakyat.” Dalam unggahan di X, ia menuding sanksi tidak manusiawi yang diberlakukan pemerintah AS dan sekutunya sebagai penyebab penderitaan rakyat Iran.
Pernyataan ini muncul setelah Trump menyerukan pencarian “kepemimpinan baru di Iran” dalam wawancara dengan Politico. Khamenei kemudian melabeli Trump sebagai “penjahat” dan menyalahkan dia atas korban jiwa, kerusakan, serta “pencemaran reputasi rakyat Iran” selama dua pekan terakhir kerusuhan.
Peringatan Menlu Iran soal Perang Besar
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan agar tidak ada serangan baru terhadap negaranya. Ia mengatakan bahwa konfrontasi skala penuh akan berlangsung lama, melanda seluruh kawasan, dan berdampak pada dunia. Dalam tulisan di Wall Street Journal, Araghchi menyebut tindakan AS sebagai “kegagalan diplomasi yang paling nyata” dan sebuah “ancaman yang membayangi.”
Araghchi menyatakan bahwa militer Iran akan merespons “dengan seluruh kekuatannya” terhadap serangan baru, berbeda dengan sikap menahan diri pada Juni 2025. Ia menambahkan bahwa konfrontasi total akan berlangsung jauh lebih lama daripada “linimasa imajiner” yang didorong oleh “Israel dan para proksinya di Gedung Putih.”
Ia juga mengulangi tuduhan keterlibatan Israel dalam protes, dengan merujuk pada komentar publik mantan Direktur CIA Mike Pompeo tentang penetrasi Mossad ke dalam gerakan rakyat.
Pesan Akhir dari Iran
Araghchi menutup tulisannya dengan menyerukan “perubahan arah,” menilai 12 bulan pertama pemerintahan Trump hanya membawa perang ke kawasan. Ia menegaskan bahwa Teheran akan “selalu memilih perdamaian ketimbang perang” dan tetap siap untuk “perundingan yang serius dan nyata demi kesepakatan yang adil dan seimbang.”
“Iran menyampaikan pesan yang jelas kepada Presiden Trump: Amerika Serikat telah mencoba setiap bentuk tindakan bermusuhan terhadap Iran, dari sanksi dan serangan siber hingga serangan militer langsung dan, yang terbaru, secara terang-terangan mendukung operasi teroris besar—semuanya gagal,” tulis Araghchi.
“Saatnya berpikir berbeda. Mari kita coba saling menghormati, yang akan memungkinkan kita mencapai kemajuan melampaui apa yang mungkin dibayangkan sebagian orang.”



