Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Thursday, 1 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Olahraga»Tiket Mahal dan Kebijakan Trump Membuat Penggemar Ragu Hadiri Piala Dunia 2026
    Olahraga

    Tiket Mahal dan Kebijakan Trump Membuat Penggemar Ragu Hadiri Piala Dunia 2026

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover4 April 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Pengalaman Penggemar Piala Dunia yang Menghadapi Tantangan Finansial dan Administratif

    Thiago Pessao, seperti banyak orang Brasil lainnya, telah terpikat oleh Piala Dunia sejak kecil. Ketika turnamen tersebut digelar di negaranya pada 2014, kecintaannya berubah menjadi obsesi penuh. Ia menonton 23 pertandingan pada edisi tersebut dan 17 pertandingan lagi di Rusia empat tahun kemudian. Hanya tersingkirnya Brasil lebih awal serta kesepakatan dengan istrinya untuk pulang sesuai jadwal keberangkatan yang menghentikannya menonton lebih banyak laga di Qatar 2022.

    Singkatnya, Pessao adalah penggemar setia Piala Dunia, baik yang melibatkan Brasil maupun pertandingan lainnya. Namun, kali ini pun ia kesulitan membenarkan biaya dan kerumitan menghadiri turnamen yang sebagian besar digelar di Amerika Serikat (AS) dan diperluas formatnya.

    Ia memperkirakan sudah menghabiskan sekitar 30.000–40.000 dolar AS (sekitar Rp471 juta – Rp640 juta). Tiket pertandingan fase grup Brasil di New Jersey, Philadelphia, dan Miami, serta kemungkinan laga babak 32 besar di Houston, saja sudah menelan biaya lebih dari 4.000 dolar AS. Tiket pesawat pulang-pergi ke Brasil sekitar 5.000 dolar AS, sementara kombinasi penerbangan domestik, akomodasi, tiket pertandingan tambahan, dan uang belanja terus menambah pengeluaran.

    Sebagai perbandingan, ia memperkirakan hanya menghabiskan sedikit di atas 10.000 dolar AS di Qatar, dengan perbedaan utama pada harga tiket. Biayanya bahkan lebih rendah pada edisi-edisi sebelumnya.

    Jika Brasil, pemegang rekor gelar terbanyak, berhasil melaju hingga final, tagihannya akan bertambah lagi. Itu pun belum termasuk jika ia menonton pertandingan netral, yang biasanya menjadi bagian dari rutinitasnya saat Piala Dunia.

    “Saya suka menonton banyak pertandingan. Tapi untuk Piala Dunia kali ini, tiketnya terlalu mahal, jadi rencana saya sekarang hanya mengikuti Brasil,” katanya kepada DW. “Tiket final harganya 4.000 atau 5.000 dolar AS [tiket termurah saat ini sekitar 4.185 dolar AS atau sekitar Rp77 juta]. Menurut saya itu terlalu mahal, tapi perasaan saya jika Brasil masuk final, saya harus ada di sana. Mungkin orang lain berpikir berbeda, tapi bagi saya motivasinya tetap ada.”

    Harga Tinggi dan Kekhawatiran Soal Atmosfer

    Pessao sebenarnya memiliki tiket final Piala Dunia 2022, tetapi kemudian menjualnya kembali. Ia mengatakan sistem harga dinamis yang diterapkan untuk turnamen 2026 serta minimnya permintaan di portal pertukaran tiket baru milik FIFA, yang mengharuskan pembeli membayar harga tinggi dan biaya tambahan sebelum mengetahui jadwal pertandingan, membuatnya memilih menunggu.

    Posisinya relatif beruntung, karena anggaran sebesar itu dan fleksibilitas perjalanan jelas tidak dimiliki banyak orang, terutama dari negara-negara peserta dengan pendapatan rata-rata yang lebih rendah.

    Sampai batas tertentu, situasi ini memang selalu terjadi pada Piala Dunia. Biasanya hal itu sedikit teredam oleh adanya tiket lebih murah dan paket perjalanan bagi penggemar dari negara yang mengikuti tim mereka sejak fase kualifikasi. Meskipun FIFA akhirnya merilis sejumlah kecil tiket seharga 60 dolar AS pada Desember setelah mendapat tekanan dari penggemar, Pessao memperkirakan pemandangan khas Piala Dunia, pawai suporter, tarian, dan nyanyian, mungkin akan berkurang. Ia juga khawatir iklim politik akan memengaruhi pengunjung asing seperti dirinya.

    “Dibandingkan Piala Dunia sebelumnya, saya sedikit lebih khawatir tentang bagaimana suasana dan lingkungan yang terasa lebih bermusuhan akan memengaruhi pengalaman ini. Saya pikir kehadiran ICE di stadion atau di kota-kota akan menurunkan atmosfer.”

    Kekhawatiran Serupa dari Penggemar Tim Nasional Amerika Serikat

    Kekhawatiran serupa juga dirasakan penggemar tim nasional Amerika Serikat, Adaer Melgar. Ia mulai menabung 100 dolar AS per bulan sejak delapan tahun lalu ketika penyelenggaraan Piala Dunia diberikan kepada negaranya, dan sudah memperkirakan biaya yang tinggi.

    Meski tinggal dekat Stadion MetLife di New Jersey, yang seharusnya membuat semuanya semurah mungkin, ia tetap terkejut dengan total biaya.

    Tuduhan “mesin uang” membuat turnamen tak terjangkau

    “Saya merasa masuk ke proses pembelian tiket dengan kepala dingin, dengan pemahaman bahwa ini akan sangat mahal, tetapi tetap saja jauh melampaui ekspektasi saya,” katanya. Enam tiket untuk dua pertandingan non-AS menghabiskan 3.400 dolar AS.

    “Saat ini saya juga bergulat dengan dilema etis, ingin memboikot Piala Dunia karena pemerintahan [Donald Trump] dan cara FIFA menjalankan turnamen ini. Misalnya, mereka mengenakan biaya untuk masuk ke fan zone. Itu belum pernah dilakukan sebelumnya. Rasanya seperti cara besar untuk mengeruk uang.”

    Masalah Visa dan Larangan Perjalanan

    Dua Piala Dunia sebelumnya juga memiliki proses visa sementara yang dipercepat. Namun meskipun FIFA PASS menawarkan “kesempatan untuk mendapatkan jadwal wawancara visa yang dipercepat jika diperlukan”, FIFA menegaskan bahwa memiliki tiket tidak menjamin visa.

    Hal ini menjadi masalah bagi sebagian penggemar, termasuk dari negara yang baru pertama kali lolos ke Piala Dunia seperti Yordania. Sejumlah penggemar yang diwawancarai DW mengatakan permohonan visa mereka tertunda atau ditolak. Dengan kedutaan AS saat ini juga tutup karena perang AS–Israel dengan Iran, harapan mereka semakin kecil.

    “Kami meminta bantuan dari Kedutaan Besar AS untuk meninjau dengan serius permohonan para penggemar Yordania. Kami sudah mengajukan, tetapi sampai sekarang belum mendapat jawaban. Permohonan kami masih tertahan di sana,” kata penggemar Yordania, Ghazi Al Samouee.

    Pada Rabu (25/3), Departemen Luar Negeri AS juga menambahkan 12 negara ke dalam daftar negara yang warganya harus menyetor jaminan hingga 15.000 dolar AS untuk berkunjung. Tunisia termasuk dalam daftar baru tersebut, sementara Aljazair dan Tanjung Verde sudah lebih dulu tercantum meski tim mereka lolos ke Piala Dunia.

    Kritik terhadap FIFA

    Kelompok konsumen Eropa Euroconsumers dan organisasi suporter Football Supporters Europe mengajukan pengaduan terhadap FIFA. Mereka menuduh badan sepak bola dunia itu melanggar Pasal 102 Perjanjian tentang Fungsi Uni Eropa, yang melarang penyalahgunaan posisi dominan di pasar.

    Keluhan tersebut mencakup harga tiket, platform penjualan kembali milik FIFA, di mana pembeli dan penjual sama-sama dikenakan biaya 15 persen, sistem harga dinamis, serta apa yang mereka sebut sebagai taktik penjualan yang menekan.

    “Email kepada penggemar mengklaim ‘akses eksklusif’ ke jendela tiket ‘terbatas’ yang sebenarnya tidak mencerminkan kenyataan. Dengan menciptakan urgensi buatan, FIFA menekan penggemar untuk membuat keputusan terburu-buru,” bunyi pernyataan mereka.

    Kesimpulan

    Apakah karena larangan perjalanan, kekhawatiran soal keamanan, kesulitan mendapatkan visa, atau sekadar tidak mampu membayar, banyak penggemar di seluruh dunia kini merasa tidak benar-benar disambut di Amerika Serikat. Dana Sumlaji dan Thomas Klein turut berkontribusi dalam laporan ini.

    Artikel ini diadaptasi dari bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Rahka Susanto

    Editor: Yuniman Farid

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Prediksi Skor CSKA Sofia vs OFI Crete: Peluang Lolos di Liga Europa 2026/2027!

    31 August 2026

    Prediksi Skor: Viktoria Plzen vs Red Star Belgrade, Zvezda Dekat Liga Fase!

    31 August 2026

    Prediksi Skor Omonia vs Sint-Truiden: De Kanaries Melangkah!

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?