Seniman Berpengalaman Bantu Perkuat Unsur Artistik Pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim
Pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim yang diselenggarakan oleh Komunitas Desember Kopi Gayo di Taman Inen Mayak Teri, Takengon, Aceh Tengah pada Sabtu (4/4/2026), mendapat dukungan dari tiga seniman berpengalaman asal Tanah Gayo. Ketiganya adalah Achrial (Awan Rues), Darwin Sopacua, dan Nurdinsyah Ika Putra (Artup). Mereka terlibat sebagai tenaga tim artistik dalam kegiatan ini.
Ketiga seniman tersebut memiliki pengalaman luas dalam dunia seni pertunjukan, dekorasi panggung, serta penguatan visual artistik kegiatan budaya di Aceh Tengah dan sekitarnya. Keterlibatan mereka dalam pertunjukan ini menunjukkan komitmen untuk menjaga dan melestarikan seni dan budaya lokal.
Achrial (Awan Rues): Seniman Senior yang Tetap Semangat Berkarya
Achrial, yang juga dikenal dengan nama Bang Ade Aman Ega atau Awan Rues, merupakan salah satu seniman senior Dataran Tinggi Gayo yang aktif berkarya sejak 1978. Ia memiliki kemampuan desain interior bernuansa tradisi Gayo, memahami seni musik dan tari Gayo, serta dikenal sebagai pengkaji seni Didong.
Pengalamannya mencakup koreografi panggung dan video editing berbagai kegiatan budaya di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Selain itu, ia juga aktif dalam Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) sejak awal penyelenggaraan sebagai tim pendukung maupun talent seni. Saat ini, ia turut berperan dalam kegiatan kebudayaan melalui Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah.
Meski dalam musibah hidrometeorologi yang melanda Tanah Gayo pada akhir 2025 lalu, Achrial menjadi salah satu korban langsung terdampak bencana, rumah kediamannya hilang tertelan longsor. Namun, semangatnya untuk terus berkarya dalam kegiatan seni dan kebudayaan tetap kuat, termasuk keterlibatannya dalam produksi artistik pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim.
Darwin Sopacua: Ahli Seni Musik dan Teater
Darwin Sopacua, seniman berdarah Ambon–Maluku kelahiran Takengon, dikenal memiliki kemampuan kuat di bidang seni pertunjukan, khususnya musik dan teater. Ia piawai memainkan gitar bas betot serta aktif dalam berbagai kegiatan seni budaya di Aceh Tengah sejak lama.
Pengalaman Darwin dalam Pekan Kebudayaan Aceh dimulai sejak PKA 3 tahun 1988 sebagai artis teater dan paduan suara. Ia terus berkontribusi dalam berbagai edisi PKA berikutnya, termasuk sebagai talent teater, pemain musik, peragaan busana budaya, hingga tim dekorasi anjungan Kabupaten Aceh Tengah pada PKA 7 tahun 2018 dan tim penata anjungan pada PKA 8 tahun 2023.
Nurdinsyah Ika Putra (Artup): Seniman Visual yang Aktif Berkarya
Nurdinsyah Ika Putra, yang dikenal dengan nama Artup, merupakan seniman visual asal Takengon lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 1997. Ia aktif menghasilkan berbagai karya seni rupa dan seni produksi panggung untuk kegiatan budaya di Aceh Tengah.
Sepulang dari Yogyakarta, Artup pernah menggelar lelang amal lukisan yang dibuat secara langsung selama pertunjukan musik berlangsung. Selain berkarya dalam seni lukis, ia juga memainkan alat musik didgeridoo dan berkolaborasi dalam sejumlah kegiatan musik tradisional di Takengon.
Ia juga terlibat sebagai tim dekorasi panggung Festival Panen Kopi Aceh Tengah sejak tahun 2018 hingga sekarang. Dalam ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 tahun 2018, Artup turut menyumbangkan prestasi sebagai peraih juara III lomba lukis, serta aktif berperan dalam tim anjungan Kabupaten Aceh Tengah pada berbagai edisi PKA sebelumnya.
Perkuat Unsur Visual Artistik
Keterlibatan ketiga seniman ini memperkuat unsur visual artistik pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim. Sebuah pentas Teater Puisi Tanah Gayo yang memadukan unsur sastra, musik tradisi, didong banan, sebuku, tari kopi, serta ekspresi artistik berbasis pengalaman masyarakat kopi Gayo.
Ketua Komunitas Desember Kopi Gayo, Fikar W Eda, menyebutkan bahwa kehadiran para seniman berpengalaman tersebut menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pertunjukan yang berakar kuat pada tradisi sekaligus merekam semangat pemulihan masyarakat pascabencana.
“Kerja artistik dalam pertunjukan ini bukan hanya soal tata panggung, tetapi juga tentang merawat ingatan budaya dan menghadirkan harapan bagi masyarakat Tanah Gayo,” ujarnya.



