Serangan Balasan Iran ke Negara-Negara Timur Tengah
Operasi militer gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu gelombang serangan balasan dari Teheran ke beberapa negara di kawasan Timur Tengah. Serangan tersebut semakin agresif setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, gugur dalam operasi pasukan gabungan AS dan Israel pada hari Sabtu (28/2) lalu.
Militer Iran kini menargetkan sejumlah fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah dan negara-negara Teluk. Selain itu, Iran juga melancarkan serangan udara ke Kantor Kedutaan Besar AS di Ibu Kota Arab Saudi, Riyadh, pada Selasa (3/3) dini hari waktu setempat. Serangan itu memicu kebakaran di area kompleks diplomatik. Langkah Iran mendorong negara-negara Teluk Arab mengecam tindakan Teheran, seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania.
Penggunaan Drone Shahed dalam Serangan
Data dari Kementerian Pertahanan UEA, Qatar, dan Bahrain menunjukkan sebagian besar proyektil yang diarahkan ke wilayah mereka dalam beberapa hari terakhir berupa drone. Sebaliknya, jumlah serangan dan intersepsi rudal balistik dilaporkan menurun tajam.
Di UEA, jumlah drone yang ditembakkan sejak awal konflik telah melampaui seribu unit hingga Kamis (5/3). Sementara itu, peluncuran rudal balistik Iran menurun setelah AS dan Israel menargetkan fasilitas peluncur yang dibutuhkan untuk mengoperasikan rudal tersebut.
Drone Shahed: Senjata Unggulan Iran
Salah satu drone yang paling dikenal adalah seri Shahed, terutama Shahed-131 dan Shahed-136. Drone ini merupakan jenis kamikaze atau drone bunuh diri yang dirancang untuk terbang menuju target dan meledakkan diri saat mencapai sasaran. Drone Shahed mampu membawa bahan peledak sekitar 50 kilogram (kg) dengan jarak tempuh yang dapat mencapai sekitar 2 ribu kilometer (km). Biaya produksi satu drone Shahed diperkirakan berkisar US$ 30 ribu sampai dengan US$ 35 ribu per unit. Nominal ini disebut jauh lebih rendah dibandingkan biaya rudal balistik atau rudal pencegat yang biasanya digunakan untuk menghadang laju Shahed.
Menurut Profesor Nicole Grajewski dari Sciences Po, Paris, drone Shahed relatif mudah diproduksi. Banyak komponen drone tersebut tersedia secara komersial sehingga fasilitas produksinya lebih mudah disembunyikan. Produksi drone meninggalkan jejak yang jauh lebih sedikit dibandingkan program rudal. Kondisi ini membuat para analis lebih sulit memperkirakan kapasitas produksi maupun jumlah persediaan drone Iran.
Ekspor Drone oleh Iran
USIP melaporkan bahwa Iran telah mengekspor drone atau teknologi drone ke setidaknya lima negara di empat benua serta kepada tujuh milisi proksi di Timur Tengah pada 2023. Ekspor terbesar Teheran adalah drone bunuh diri Shahed-136 dan drone serang Mohajer-6. Iran mulai memasok kedua jenis drone tersebut kepada Rusia sejak Agustus 2022 untuk digunakan dalam perang melawan Ukraina.
Drone Shahed memiliki sejumlah varian dengan tingkat teknologi yang berbeda. Pemeriksaan terhadap drone yang jatuh di Ukraina menemukan beberapa unit dibuat dari bahan sederhana seperti kayu lapis dan styrofoam. Adapun jenis lainnya menggunakan komponen yang jauh lebih canggih. Salah satu drone Geran-2 yang ditemukan di wilayah Sumy, Ukraina, dilaporkan memiliki modul komputasi buatan Barat yang memungkinkan kemampuan computer vision atau pengolahan visual tingkat lanjut.
Versi yang lebih baru juga menunjukkan peningkatan teknologi. Varian Shahed-136 MS dilaporkan menggunakan sistem navigasi satelit tahan gangguan delapan saluran buatan Iran yang dikenal sebagai Nasir. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan ketahanan drone terhadap gangguan sinyal.
Rudal Sejjil: Senjata Rudal Balistik Iran
Selain drone, Iran juga memiliki rudal Sejjil yang merupakan rudal balistik jarak menengah buatan Iran yang memiliki jangkauan hingga 2 ribu km. Jangkauan ini melebihi rudal Emad (1.700 km) dan Shahab-3 (1.300 km). Rudal ini pertama kali diuji coba pada 2008 dan dikenal sebagai rudal terbesar dan tercepat dalam arsenal Iran.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat rudal Sejjil memiliki panjang sekitar 18 meter dan diameter 1,25 meter. Saat diluncurkan, bobot totalnya mencapai 23.600 kg. Sejjil juga mampu membawa hulu ledak hingga 700 kg bahan peledak berdaya tinggi.



