Indonesiadiscover.com.CO.ID – JAKARTA.
Perang di kawasan Timur Tengah yang semakin memanas diperkirakan memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kenaikan ketegangan ini sudah terlihat sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran beberapa waktu lalu. Sejumlah ekonom melihat bahwa situasi ini bisa memperparah pelemahan rupiah, terutama karena sentimen pasar global cenderung memilih aset aman saat risiko energi dan logistik meningkat.
Dampak Perang Terhadap Rupiah
Syafruddin Karimi, ekonom dari Universitas Andalas, menjelaskan bahwa sentimen perang di Timur Tengah membuat dolar AS tetap kuat karena investor membeli aset aman dalam kondisi ketidakpastian. Sementara itu, ekonomi domestik menghadapi tantangan berupa ruang manuver yang sempit. Inflasi headline telah melebihi target, surplus dagang Januari 2026 menyusut tajam, dan pasar masih mencermati risiko kebijakan serta tata kelola.
“Kombinasi faktor tersebut membuat prospek rupiah ke depan condong pada pola melemah bertahap dengan volatilitas tajam, bukan melemah lurus setiap hari,” ujar Syafruddin kepada Indonesiadiscover.com, Jumat (6/3/2026).
Ia menambahkan bahwa rupiah masih bisa bertahan jika Bank Indonesia (BI) mampu menjaga stabilitas likuiditas dan pasar melihat adanya reformasi pasar modal yang berjalan. Namun, perang yang berlarut akan menjaga premi risiko tetap tinggi dan menghambat pemulihan kurs.
Proyeksi Kurs Rupiah
Syafruddin memproyeksikan bahwa jika perang berlangsung hingga bulan depan, rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 16.900 – Rp 17.200 per dolar AS, asalkan gangguan tidak memburuk dan BI tetap efektif menahan ekspektasi. Jika harga minyak tetap tinggi, biaya impor energi naik, dan arus dana keluar menguat, rupiah berpeluang bergerak ke kisaran Rp 17.200 – Rp 17.700 per dolar AS. Skenario terburuk terjadi jika terjadi eskalasi besar di jalur energi atau sentimen pasar modal memburuk tajam.
“Pada kondisi itu, rupiah bisa menguji level Rp 17.700 – Rp 18.500 per dolar AS meski otoritas biasanya merespons agresif untuk mencegah pelemahan liar,” kata Syafruddin.
Proyeksi Fithra Faisal
Fithra Faisal, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia, memperkirakan dalam skenario gangguan jangka pendek (probabilitas 45%), rupiah melemah sebentar ke kisaran Rp 16.900 – Rp 16.920 per dolar AS sebelum stabil di level pra-guncangan dalam waktu seminggu.
Dalam skenario satu minggu (probabilitas 30%), rupiah bergerak ke kisaran Rp 17.000 – Rp 17.050 per dolar AS, menguji batas psikologis tetapi terkendali oleh intervensi BI dan perbedaan imbal hasil yang lebih sempit.
“Dalam skenario perang berkepanjangan (probabilitas 20%), rupiah menghadapi depresiasi berkelanjutan menuju Rp 17.500 per dolar AS karena biaya impor minyak secara struktural memperlebar defisit transaksi berjalan, berpotensi memaksa BI untuk menghentikan atau membalikkan siklus pelonggaran kebijakan moneternya,” jelas Fithra.
Proyeksi Fikri C Permana
Sementara itu, Fikri C Permana, ekonom KB Valbury Sekuritas, memproyeksikan dalam jangka pendek (1 pekan sampai 2 pekan), pasar keuangan Indonesia mungkin akan mengalami peningkatan volatilitas. Hal ini dapat terwujud dalam yield Obligasi Pemerintah 10 Tahun (SUN10Y) naik menuju 6,7% dalam beberapa hari mendatang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun di bawah level 8.000, rupiah terdepresiasi menuju Rp 17.000 per dolar AS.
“Arus keluar modal yang dihasilkan biasanya memberikan tekanan ke atas pada imbal hasil obligasi domestik, tekanan ke bawah pada harga saham, dan tekanan depresiasi pada mata uang lokal,” ucap Fikri.
Di sisi lain, Fikri memperkirakan bahwa tekanan yang dijelaskan dalam skenario pertama mungkin bersifat sementara. Jika konflik di Timur Tengah menjadi lebih jelas dan menghindari eskalasi lebih lanjut, premi ketidakpastian mungkin akan menurun secara bertahap.
Langkah-Langkah Menghadapi Gejolak
Ke depan, Syafruddin menyampaikan sejumlah hal umum menghadapi gejolak perang AS – Iran yang harus bertumpu pada empat arah. Pertama, menjaga kredibilitas kebijakan. Pasar akan lebih tenang bila pemerintah menyampaikan skenario harga minyak, kurs, subsidi, dan defisit secara terbuka.
Kedua, gunakan APBN secara selektif, fokus pada perlindungan kelompok rentan, pangan, transportasi publik, dan logistik, bukan memberi subsidi luas yang dinikmati semua kelompok. Ketiga, perkuat koordinasi fiskal, moneter, dan BUMN energi agar stabilisasi kurs, pengendalian inflasi, dan pengadaan energi berjalan seirama.
Keempat, percepat reformasi struktural energi melalui efisiensi konsumsi BBM, peningkatan lifting, diversifikasi pasokan, dan percepatan transisi ke gas, listrik, dan energi terbarukan.
“Perang Iran memberi pelajaran keras bahwa ketergantungan tinggi pada minyak impor membuat APBN mudah goyah. Negara perlu meredam guncangan jangka pendek tanpa kehilangan disiplin jangka panjang. Itulah sikap yang paling masuk akal: tenang, terukur, melindungi yang lemah, dan tidak menunda pembenahan yang sudah terlalu lama,” jelas Syafruddin.



