Perbedaan Waktu Pelaksanaan Takbiran Idul Adha dan Idul Fitri
Takbiran merupakan salah satu tradisi yang dilakukan umat Muslim dalam menyambut hari raya. Pada Hari Raya Idul Adha, waktu pelaksanaan takbiran lebih panjang dibandingkan dengan Idul Fitri. Jika pada Idul Fitri gema takbir biasanya hanya dikumandangkan sejak malam 1 Syawal hingga berakhirnya hari raya, maka pada Idul Adha takbir dilantunkan selama lima hari berturut-turut.
Takbiran Idul Adha dimulai sejak 9 Dzulhijjah atau Hari Arafah, berlanjut pada Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah, hingga hari-hari Tasyrik pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Untuk Idul Adha 1447H/2026, takbiran diperkirakan mulai dikumandangkan sejak Selasa 26 Juni 2026 hingga Sabtu 30 Mei 2026.
Bacaan Takbir Idul Adha Versi Pendek Lengkap dengan Latin dan Arti
Tulisan Arab
اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Latin
Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil hamd.
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”
Bacaan Takbir Idul Adha Versi Panjang Lengkap dengan Arti
Tulisan Arab
اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَاَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْاَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Latin
Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil hamd.
Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiilaa. Laa ilaaha illallaahu walaa na’budu illaa iyyaahu.
Mukhlishiina lahuddiina walau karihal kaafiruun, walau karihal munaafiquun, walau karihal musyrikuun. Laa ilaaha illallaahu wahdah, shadaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, wa a’azza jundah, wahazamal ahzaaba wahdah. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahilhamd.
Artinya:
“Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.”
“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan ke Esa anNya, Dia zat yang menepati janji, zat yang menolong hamba-Nya dan memuliakan bala tentara-Nya dan menyiksa musuh dengan ke-Esa-anNya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya untuk Allah.”
Mengapa Syiar Mengumandangkan Takbir di Hari Raya Idul Adha Selama 5 Hari?
Idul Adha adalah hari besar dalam Islam yang identik dengan gema takbir, menggambarkan semangat kebersamaan, ketundukan, dan penghambaan kepada Allah SWT. Umat Muslim di seluruh dunia mengumandangkan takbir mulai dari 9 Dzulhijjah hari Arafah, malam Hari Raya hingga hari-hari tasyrik sebagai bentuk syukur dan pengagungan kepada Allah SWT.
Hukum membaca takbir adalah sunnah. Terdapat banyak keberkahan dan pahala di dalamnya. Keutamaan mengumandangkan takbir telah dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Hajj ayat 28, di mana Allah SWT berfirman:
لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ
Latin:
liyasy-hadụ manāfi’a lahum wa yażkurusmallāhi fī ayyāmim ma’lụmātin ‘alā mā razaqahum mim bahīmatil-an’ām, fa kulụ min-hā wa aṭ’imul-bā`isal-faqīr
Artinya:
“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah (berdzikir) pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”



