Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen Belum Cukup untuk Serap Angkatan Kerja Baru
Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen belum cukup untuk menyerap tambahan angkatan kerja, khususnya generasi muda. Ia menekankan bahwa dorongan pertumbuhan ekonomi tidak hanya sekadar mengejar angka di atas kertas, tetapi juga untuk membuka lebih banyak lapangan kerja yang dapat mengakomodasi kebutuhan pasar kerja nasional.
Menurut Purbaya, setiap tahun terjadi gelombang masuk tenaga kerja baru yang sangat besar. Tanpa pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, peluang kerja tidak akan mampu mengejar pertambahan tersebut. Ia menjelaskan bahwa jika pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,4 persen, banyak anak muda yang masuk usia kerja belum terserap oleh pasar kerja.
“Kalau pertumbuhan 5,4 persen, masih banyak anak muda yang masuk usia kerja tapi belum terserap. Kalau 6,7 persen, mencari kerja jauh lebih gampang,” ujar Purbaya dalam acara KompasTV Bisnis Economic Outlook 2026 bertema “Nyalakan Mesin Pertumbuhan Baru” yang digelar di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Bukan Sekadar Angka Statistik
Purbaya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi bukan semata-mata soal angka di atas kertas. Ia menilai bahwa pertumbuhan yang lebih tinggi memiliki keterkaitan langsung dengan ketersediaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, serta kualitas kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, peluang kerja akan terbuka di berbagai sektor, sekaligus menjadi jawaban atas tingginya tingkat pengangguran usia muda yang belakangan menjadi perhatian publik.
Peran Kebijakan Fiskal Pemerintah
Untuk menjaga dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, Purbaya menyebut pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satu instrumen utama yang akan dioptimalkan adalah kebijakan fiskal yang bersifat countercyclical. Kebijakan ini dirancang untuk melawan siklus alami ekonomi, yakni dengan mengambil langkah berlawanan saat perekonomian mengalami perlambatan.
“Saat ekonomi melambat, pemerintah akan memberikan dorongan agar aktivitas ekonomi kembali bergerak,” jelasnya. Melalui strategi tersebut, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong aktivitas usaha agar terus berjalan.
Optimisme Menyongsong Bonus Demografi
Dengan berbagai kebijakan yang tengah disiapkan, Purbaya menyatakan optimisme bahwa Indonesia mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Pertumbuhan yang kuat diharapkan dapat memaksimalkan bonus demografi, sehingga tidak berubah menjadi beban pengangguran massal.
Ia menegaskan bahwa fokus utama pemerintah ke depan adalah mengaktifkan kembali potensi ekonomi yang selama ini belum bergerak optimal. “Jadi yang saya targetkan adalah menghidupkan semula investasi ekonomi yang kemarin menganggur,” tandasnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah berharap generasi muda Indonesia tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga berperan aktif sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.



