Duka Mendalam Menyelimuti Keluarga Pratu Farkhan Syauqi Marpaung
Keluarga Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh, sedang mengalami duka yang sangat mendalam setelah kepergiannya dalam menjalankan tugas pengamanan perbatasan Indonesia–Papua Nugini. Pratu Farkhan diduga meninggal dunia akibat kekerasan yang dilakukan oleh seniornya sendiri pada awal Januari 2026.
Menurut keterangan ayah korban, Zakaria Marpaung, peristiwa bermula saat Pratu Farkhan sedang sakit dan mencoba menghangatkan badan di dekat perapian. Saat itu, seorang senior berpangkat sersan datang menanyakan kondisi anaknya. Zakaria menceritakan bahwa anaknya sempat sakit dan mencoba menghangatkan badan di dekat perapian. Ia kemudian memberi tahu bahwa seorang senior berpangkat sersan menanyakan kondisi Pratu Farkhan dan membantunya untuk mengusulkan.
Namun, situasi berubah drastis ketika seorang senior lain berpangkat kopral datang dan diduga melakukan kekerasan terhadap Pratu Farkhan. Menurut penuturan keluarga, Pratu Farkhan dipukul menggunakan ranting dan dipaksa melakukan sikap tobat. Setelah dia tunduk taubat, lalu dia ditendang, dan melawan. Zakaria menyampaikan bahwa ia bangga dengan anaknya karena berani melawan membela nyawanya di hadapan seniornya yang berpangkat kopral.
Sebagai orang tua, Zakaria tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai sesama prajurit TNI seharusnya saling menjaga, terlebih saat bertugas di wilayah rawan seperti Papua. Ia merasa kecewa karena anaknya meninggal di tangan sesama TNI, bukan dipucuk senjata sparatis. Menurutnya, perbuatan tersebut tidak bisa ditoleransi. Alih-alih menjadi penguat dan pelindung bagi junior, senior justru diduga menjadi penyebab hilangnya nyawa anaknya.
Belum kering makan Prada Lucky, kini masuk lagi makam Pratu Farkhan Syauqi Marpaung. Zakaria berharap agar hal ini tidak terjadi lagi dan anak-anak TNI tidak gugur di tangan sesama seragam TNI.
Profil Pratu Farkhan Syauqi Marpaung
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung diketahui lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) sekitar tahun 2023-2024. Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS), tempat Pratu Farkhan Syauqi Marpaung berdinas, merupakan satuan militer TNI AD di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh. Markas utamanya berada di Jalan Bireuen-Takengon Km 7, Desa Juli, Kecamatan Bireuen, Kabupaten Bireuen, Aceh.
Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Marsinah, ibu Pratu Farkhan, mengaku bahwa anaknya merupakan anak yang taat kepada orang tua dan selalu memberi kabar meskipun sedang bertugas. Dia juga merupakan sosok yang perduli dengan keluarga, karena setiap menelpon selalu menanyai kabar keluarga.
Tangis Keluarga Pecah
Tangis keluarga Pratu Farkhan Syauqi Marpaung pecah usai kedatangan ambulan militer di halaman rumahnya di Desa Hessa Air Genting, Air Batu, Kabupaten Asahan, Sabtu (3/1/2026) dini hari. Kedatangan itu membuat keluarga besar Pratu Farkhan histeris hingga ada yang pingsan.
Meskipun dalam kondisi terduduk, Zakaria tampak tegar dan menenangkan sejumlah sanak keluarga yang histeris. Meskipun tampak tegar, mata Zakaria tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ia menjadi orang terakhir dari keluarga yang masuk ke dalam rumah saat peti jenazah hendak dibuka.
Sementara ibu korban, Marsinah Wati Silalahi, tampak histeris dan terkulai lemas tak berdaya. “Anakku sudah pulang, anakku,” kata ibu Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Marsinah Wati Silalahi, sembari meratapi peti yang berisi anaknya. Kendati begitu, Marsinah tetap tampak tegar dan menggapai seorang wanita yang histeris didepan peti untuk tetap bersabar.
Namun, pembukaan peti jenazah tersebut tidak dapat diambil dan hanya keluarga saja yang bisa melihat kondisi Pratu Farkhan Syauqi Marpaung.



